Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 6 Maret 2021, Metanoia: Kembali ke Pelukan Bapa
Di masa Prapaskah ini, kita kembali melihat jejak langkah kita. Jika sudah berjalan jauh dari jalan kebenaran, kita perlu bangkit dan kembali.
Renungan Harian Katolik, Sabtu 6 Maret 2021, Metanoia: Kembali ke Pelukan Bapa (Lukas 15:1-3; 11-32)
Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang
POS-KUPANG.COM - Dalam peristiwa hidup, ketika ada orang yang telah tersesat dan salah arah, maka ia harus kembali ke jalan yang benar. Ia tidak bisa meneruskan jalan ke arah yang jelas-jelas salah, sehingga ia tidak semakin tersesat jauh. Ia harus berbalik dan mengubah arah langkahnya.
Dalam istilah Yunani, berjalan kembali (berbalik arah) itu disebut “metanoia”. Istilah “metanoia” ini yang kemudian direfleksikan sebagai bentuk pertobatan, yakni ketika manusia kembali berbalik dari jalan yang sesat kepada jalan yang benar.
Kisah Injil hari ini sudah sangat populer bagi orang Kristen. Kita semua tentu sudah akrab dengan perumpamaan tentang anak yang hilang. Kisah ini adalah kisah khas Injil Lukas.
Pada kesempatan ini, kita akan mendalami ketiga tokoh utama yang hadir dalam perikop Injil hari ini dan belajar untuk memaknai pesan iman dan moral yang hadir dari ketiga tokoh utama itu.
Tokoh “Bapa” tentu saja merupakan gambaran dari Allah sendiri. Sikap utama Sang Bapa adalah murah hati (misericordia). Sang Bapa begitu mencintai kedua anaknya.
Jika kita perhatikan dengan teliti, ia sebenarnya tidak memihak. Kedua anaknya tetap disapa dengan mesra: “anakku” (huius mou). Baik Si Bungsu yang berdosa dan kembali pulang maupun Si Sulung yang membentak ayahnya. Yang membedakan nasib kedua anak justru adalah pilihan sikap masing-masing pribadi.
Ungkapan yang paling kuat menunjukkan betapa logika kasih Sang Bapa jauh lebih besar daripada logika keadilan manusiawi adalah “tergerak hati oleh belas kasihan” (Yun. Splagchnizomai). Dalam padanan Latin, kata ini semakna dengan “compassio”. Compassio berarti “menderita bersama” (cum–passio).
Sang Bapa juga turut merasakan penderitaan Si Bungsu. Ternyata, cinta memenangkan segalanya (omnia vincit amor). Ia bahkan tidak mengingat-ingat kesalahan dan kedurhakaan Si Bungsu. Ia memulihkan martabat Si Bungsu yang terluka karena dosa dan kesalahan dengan “mengenakan jubah terbaik, cincin dan sepatu” pada Si Bungsu (Ay. 22).
Dengan mengadakan pesta, Sang Bapa sekaligus memulihkan nama Si Bungsu di hadapan orang banyak. Inilah gambaran sikap hati Allah yang penuh murah hati dan pengampunan.
Tokoh yang kedua adalah Si Bungsu. Kita tahu bahwa Si Bungsu mewakili orang berdosa yang mau kembali berbalik kepada Allah (metanoia).
Dalam bagian pengantar perikop Injil ini, kita tahu orang-orang Farisi dan Ahli Taurat mengkritik Yesus yang memilih untuk dekat dengan orang-orang yang dianggap berdosa. Sikap Yesus dengan jelas menunjukkan sikap Allah yang Mahamurah dan Mahapengampun.
Si Bungsu bersalah karena: pertama, ia sudah meminta jatah warisan, padahal ayahnya masih hidup. Dalam kebiasaan Yahudi, warisan biasanya diberikan setelah wafat seorang ayah. Dengan demikian, ia sudah tidak menganggap hidup ayahnya berarti.
Kedua, ia pergi ke negeri yang jauh (kemungkinan besar negeri kafir). Dengan demikian, ia memutuskan relasi dengan Sang Bapa (menjauhkan diri).
Ketiga, ia memboroskan harta miliknya dan hidup berfoya-foya. Ia tidak menggunakan harta warisannya dengan baik dan bijaksana.
Konsekuensi dari perbuatannya jelas, ketika pengalaman pahit menghampiri dirinya, ia kehilangan martabatnya sebagai seorang anak. Ia menjadi budak seorang majikan kafir, bahkan beternak babi (binatang yang najis bagi orang Yahudi).
Yang paling buruk adalah martabatnya direndahkan sampai titik terendah karena ingin makan makanan sisa yang dimakan oleh babi.
Tetapi pengalaman kritis ini membuatnya sadar akan kesalahannya dan menggerakkanya untuk “bangkit berdiri” dan “berbalik kembali pada pelukan Sang Bapa” meski hanya untuk sebagai seorang budak saja.
Ketulusan dan kerendahhatiannya justru berbuah pengampunan. Martabatnya yang rusak akhirnya dipulihkan kembali oleh Sang Bapa.
Tokoh ketiga adalah Si Sulung. Meski tampaknya ia tekun dan taat, tetapi justru ia lah anak yang “tersesat di dalam rumah sendiri”.
Pertama, ia memilih untuk tidak masuk dalam rumah dan bersukacita dalam pesta Sang Ayah. Dengan pergi bekerja di luar rumah, ia sebenarnya menurunkan derajatnya sebagai “hamba” (Yun. doulos).
Hal ini dipertegas dengan kalkulasi untung-rugi yang ia lakukan kepada ayahnya sendiri. “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa…” (Ay. 29).
Kedua, ia murka dengan ayahnya sendiri dan memutuskan relasi dengan adik kandungnya. Dengan gusar ia berkata: “anak bapa”. Sebenarnya dalam versi asli, artinya lebih kasar, yakni: “anakmu” (Yun. huios sou). Mengapa ia tidak berkata “adikku”? Kecemburuan dan keangkuhan telah membutakan mata hati Si Sulung.
Dari ketiga tokoh Injil hari ini kita belajar untuk bertumbuh dalam iman. Dari Sang Ayah kita belajar sikap murah hati dan pengampunan. Kita telah lebih dahulu diampuni oleh Allah. Sudah sepatutnya kita juga rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Ingat kembali rumusan Doa Bapa Kami).
Dari Si Sulung, kita belajar untuk tidak angkuh dan dengki kepada orang lain. Dosa Si Sulung adalah dosa para Farisi dan Ahli Taurat, merasa diri suci namun jauh dari Tuhan dan sesama.
Dari Si Bungsu kita belajar untuk berbenah diri dan kembali kepada pelukan Sang Bapa.
Di masa Prapaskah ini, kita kembali melihat jejak langkah kita. Jika sudah berjalan jauh dari jalan kebenaran, kita perlu bangkit dan kembali. Allah akan selalu merentangkan tangan-Nya dan menerima jalan tobat (metanoia) kita.
Semoga Tuhan memberkati kita sekalian. Salvete!*