Tanggapan Frater Yohanes Kepsek di Ende Terkait SE Mendikbud UN Ditiadakan

Tanggapan Frater Yohanes Kepsek di Ende Terkait SE Mendikbud un ditiadakan

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Frater Yohanes Berchmans BHK Kepala SMPK Frateran Ndao Ende. 

Tanggapan Frater Yohanes Kepsek di Ende Terkait SE Mendikbud un ditiadakan

POS-KUPANG.COM | ENDE - Frater Yohanes Berchmans, BHK, mengharapkan para peserta didik tetap semangat belajar kendati di masa pendemi Covid-19 ujian nasional dan ujian kesetaraan ditiadakan.

Kepala SMPK Frateran Ndao Ende ini, mengatakan, baru-baru ini Mendikbud mengeluarkan Surat Edaran (SE) No.I Tahun 2021, tentang peniadaan ujian nasional dan kesetaraan serta pelaksanaan ujian sekolah dalam masa darurat penyebaran Covid-19.

Ini Pesan Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora Saat Menyerahkan Bantuan Alsintan kepada Poktan

"Dengan ditiadakan UN, dan ujian kesetaraan tahun 2021 dan ujian kesetaraan tidak menjadi syarat atau seleksi masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi," ujarnya saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Selasa (16/2/2021).

Dia menjelaskan, peserta didik dinyatakan lulus dari satuan atau program pendididikkan sekolah, apabila, menyelesaikan program pembelajaran dimasa pandemi covid 19 yang dibuktikan dengan rapor tiap semester.

Dalam Pendaftaran Merk, Yang Mendaftar Dahulu Lebih Dilindungi

Selain itu peserta didik, memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik, mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikkan

Dia katakan, sesungguhnya sudah sejak tahun ajaran 2019/2020, UN ditiadakan, lantaran pandemi covid 19. "Hal yang sama ditahun ajaran 2020/2021 ini, UN kembali ditiadakan juga akibat pandemi covid 19," ungkapnya.

Menurutnya, kalau dilihat syarat kelulusan, seperti yang tertera pada SE mendikbud diatas, kelihatannya gampang-gampang susah.

Namun, dalam kenyataanya, kata dia, semua sekolah rata-rata mengalami kendala yang sama ditengah masa pandemi covid 19.

Kendalanya adalah jaringan internet bagi yang sekolah atau peserta didik yang mengunakan model daring, terkadang error menyebabkan banyak peserta didik yang tidak atau jarang bergabung dalam tatap muka virtual. Demikian juga yang melalui Google Class Room (GCR).

"Dan peserta didik yang memang motivasinya belajarnya rendah menjadikan pandemi covid 19 sebagai alasan untuk menutupi kemalasannya. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak memiliki nilai PH, atau nilai tugas atau penilaian yang sejenis," ungkapnya.

Lanjutnya, demikian juga dengan sekolah atau peserta didik yang menggunakan model luring. Banyak peserta didik ataupun orang tua yang enggan datang ke sekolah dengan alasan pandemi covid 19.

Jika demikian situasinya, kata Frater Yohanes, tentunya setiap sekolah akan mengalami kesulitan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik, sebagaimana yang tersurat dalam SE mendibut No.1 tahun 2021 terkait syarat kelulusan peserta didik yang berada di kelas akhir.

Menurutnya, untuk mengatasi kendala ini, maka sekolah harus sebijak mungkin melakukan pendekatan personal kepada peserta didik atau orang tua yang jarang atau tidak pernah bergabung lewat tatap muka vitual via zoom atau GCR.

Pendekatan personal yang dimaksud misalnya melalui kunjungan rumah bagi yang dalam kota (home visit).

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved