40 Ton Sampah Medis Menumpuk Pemprov NTT Bangun Tiga Pusat Pengolahan

Sebanyak 40 ton sampah medis menumpuk Pemprov NTT bangun tiga pusat pengolahan

Editor: Kanis Jehola
ilustrasi
Sampah medis1 

Sebanyak 40 ton sampah medis menumpuk Pemprov NTT bangun tiga pusat pengolahan

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Limbah atau sampah medis mengalami peningkatan pada masa pandemi Covid-19 seiring dengan meningkatnya jumlah pasien.

Upaya penanganannya oleh pihak rumah sakit terkendala karena insinerator atau mesin pembakar sampah medis rusak. Meski sangat berbahaya, limbah/sampah medis pun dibiarkan menggunung.

Direktur Rumah Sakit (RS) St Carolus Borromeus Belu, dr Herly Soedarmadji mengakui penanganan sampah medis kendala. "Mulai Januari 2021 insinerator kami rusak beberapa kali. Kami kewalahan membakar sampah medis kami maupun rumah sakit lainnya," kata Herly, Jumat (5/2/2021).

Menristek Siapkan Skema

Menurut Herly, pihaknya masih menyimpan sampah medis di TPS milik RS St Carolus Borromeus. "Saat ini kami masih memyimpan sampah medis di TPS, kebetulan kami miliki TPS sendiri."

Ia mengatakan, sejak isinerator rusak, sempat pihak PT Semen Kupang membantu proses pembakaran sampah medis. "Beberapa waktu lalu, kami dibantu PT Semen Kupang untuk membakar sampah medis. Saat ini, PT Semen Kupang tidak diizinkan membakar sampah medis lagi," ujarnya.

Herly menjelaskan, pihaknya juga memerima sampah medis yang berasal dari hampir seluruh rumah sakit di Kota Kupang. Namun karena isinerator rusak sehingga tidak menerima sampah medis lagi.

Menurutnya, pihaknya masih menunggu teknisi dari Bandung untuk memperbaikinya. Herly tidak bisa memastikan apakah alat tersebut dapat diperbaiki atau tidak.

Bupati Tahun Kesal Jenazah Pasien Corona Hilang

Kondisi yang sama dialami Rumah Sakit Tentara (RST) Wirasakti Kupang. Sudah hampir sebulan sampah medis tidak bisa diangkut untuk dibakar karena alat yang dimiliki PT Semen Kupang dan RS St Carolus Borromeus Belu rusak.

"Sejak satu bulan terkahir tempat pembakaran itu rusak sehingga sampah medis menumpuk di gudang," kata Kepala Urusan Tata usaha dan Urusan Dalam RST Wirasakti Kupang, Kandidus Oni, Jumat (5/2).

"Alat di RS Borromeus juga rusak sehingga selama ini semua rumah sakit hanya menggunakan satu alat pembakar milik PT Semen Kupang," tambahnya.

Ia menjelaskan alur pengangkutan sampah medis. Menurutnya, pihak PT Semen Kupang melakukan pengangkutan sendiri dan dibawa ke tempat pembakaran untuk dimusnahkan. Biasanya, sampah medis diangkut seminggu sekali. "Sampah medis yang diangkut itu dibayar Rp 18.000 per kilogram. Rinciannya, Rp 10.000 untuk pembakaran dan 8.000 untuk angkutan transportasi," ujarnya.

Kandidus menyebut RST Wirasakti menghasilkan sampah medis 500 kg hingga 1 ton per bulan. Menurutnya, pihak RST Wirasakti telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang dan Pemprov NTT untuk menindaklanjuti penanganan sampah medis secepatnya. "Kita harap secepatnya. Kalau kita buang sembarang salah, tidak buang penumpukan," ujarnya.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 9 ton sampah medis yang berasal dari RSUD SoE menumpuk di TPA Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan sejak Januari 2021.

Sampah medis tersebut seharusnya sudah dikirim ke Kupang untuk dimusnahkan. Namun urung dilakukan menyusul terjadi pemutusan kerjasama dengan pihak PT Semen Kupang.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved