Keselamatan Siswa Yang Utama, Disdikbud NTT Tegaskan Tidak Boleh Ada Klaster Baru di Kelas

praktek dapat tetap berjalan dengan range siswa maksimal 5-7 orang secara bertahap dengan penerapan protokol kesehatan

Penulis: Ryan Nong | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi 

Keselamatan Siswa Yang Utama, Disdikbud NTT Tegaskan Tidak Boleh Ada Klaster Baru di Kelas

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Keselamatan siswa-siswi menjadi yang utama dalam proses pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Demikian ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kadis Dikbud NTT), Linus Lusi, S.Pd. saat dihubungi POS-KUPANG.COM, Jumat (5/2).

Disdikbud NTT, tegas Linus, telah mendorong semua sekolah untuk menerapkan metode BDR atau Belajar Dari Rumah mengingat makin meroketnya kasus positif Covid-19 terutama di Kota Kupang. Sementara untuk sekolah kejuruan, Linus mengatakan praktek dapat tetap berjalan dengan range siswa maksimal 5-7 orang secara bertahap dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Kita dorong semua sekolah terlebih sekolah menengah atas dengan tren pandemi yang semakin meroket, maka aspek keselamatan siswa kita utamakan maka sekolah terutama SMA negeri itu melaksanakan BDR terlebih khusus di kota Kupang," kata Linus.

Terkait adanya sekolah umum yang masih melaksanakan tatap muka, Linus berjanji akan melakukan penelusuran. "Kami akan telusuri sekolah mana yang masih melaksanakan tatap muka. Kami akan coba selidiki sebentar seperti apa," kata mantan pejabat Bupati Ngada itu.

Pihak Disdikbud, jelas Linus,  akan membuat penegasan kembali agar bisa disesuaikan oleh sekolah. 

Linus menjelaskan, dalam dendar pendapat dengan komisi V DPRD NTT,  Dr. Chris Widodo mengemukakan bahwa dari aspek medis saat ini memang kondisi siswa harus belajar dari rumah.

Ia mengaku, kondisi seperti ini menghafalkan pada situasi pelik serupa buah simalakama. Pada satu sisi, sekolah tidak mau kehilangan momentum terhadap penguatan kompetensi siswa, tetapi di sisi lain, tetapi ini hal tersebut membawa bahaya bagi kesehatan dan keselamatan siswa dan seluruh warga sekolah. Karena itu, pihaknya akan meminta sekolah mereview kesepakatan bersama komite dan orang tua siswa.

"Kami akan mempertegas itu dengan panggil kepala sekolah untuk bisa mereview kembali kebijakan internal yang sudah dibangun bersama komite dan orang tua. Karena ada persetujuan orang tua maka biar kita review sehingga ditinjau kembali (keputusan sekolah tatap muka)," ujar Linus. 

Ia mencontohkan, kepala sekolah dan guru di beberapa sekolah di Kota Kupang saat ini terpapar Covid-19. Karena itu, hal tersebut dijaga agar siswa tidak ikut terpapar. 

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat : Pembeli Tak Boleh Makan di Rumah Makan

Jadi Orang Pertama dan Kedua Disuntik Vaksin, Begini Komentar Hakim dan Dandim Ngada

Anggota Komisi V DPRD NTT : Sekolah Belum Boleh Tatap Muka 

Update Covid-19 NTT : Tambah 198 Kasus Positif, Total Angka Covid di NTT Tembus 6.069 

"Di kota Kupang ada kepala sekolah dan guru yang mengalami itu , kita tidak mau siswa terpapar. Keselamatan siswa itu nomor satu dan tidak boleh asa Klaster batu di kelas," pungkas dia. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong )

Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved