Selama Januari 2021, Ada 14 Kasus DBD di Sumba Timur 

Saya selalu katakan, bukan saja hanya Covid-19 atau DBD ,tetapi kita masih berhadapan dengan gizi buruk,  stunting, juga kasus kematian ibu hamil

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/OBY LEWANMERU
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, dr. Chrisnawan Try Haryantana 

Selama Januari 2021, Ada 14 Kasus DBD di Sumba Timur 

POS- KUPANG.COM|WAINGAPU -- Selama  Januari 2021 sampai saat ini, terdapat 14 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumba Timur. Dari jumlah itu, tidak ada kasus meninggal dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, dr. Chrisnawan Try Haryantana, Kamis  (4/1/2021).

Menurut Chrisnawan, berdasarkan data yang ada,  sejak 1 -31  Januari 2021 sampai sekarang di Sumba Timur terdapat 14 kasus DBD.

"Selama bukan Januari ini, sudah ada 14 kasus DBD. Penyebarannya juga  sudah sampai di beberapa kecamatan," kata Chrisnawan.

Dijelaskan, sebanyak 14 kasus ini tersebar di lima kecamatan, yakni di Kecamatan Kota Waingapu, Kambera, Kahaunga Eti, Lewa dan Kecamatan Umalulu. 

Lebih lanjut dikatakan, dengan melihat penyebaran kasus, maka boleh dikatakan penyebarannya sudah cukup luas, karena bukan saja di wilayah yang padat pemukiman, tetapi sudah sampai di wilayah kecamatan yang tidak begitu padat pemukiman

"Itu artinya sudah mencapai jarak yang cukup luas. Kondisi ini memang masih wajar,  tapi bagi saya butuh tingkat  ke hati-hatian yang lebih. Karena bagaimana pun saat ini kita masih fokus ke Pandemi Covid-19, yang mana segala sesuatu seperti tenaga disedot ke sana," jelas Chrisnawan.

Dikatakan, melihat kondisi buang terjadi,maka tidak boleh mengabaikan tentang kesiapan masyarakat dalam upaya pencegahan. 

"Untuk pencegahan, kita di Sumba Timur lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Program PSN ini juga terbukti bahwa kita bisa tekan angka kasus DBD pada tahun 202 lalu," katanya.

Dikatakan, di tengah Pandemi Covid-19 ini, tentu ada banyak penyakit di masyarakat yang juga butuh perhatian pemerintah.

 "Saya selalu katakan, bukan saja hanya Covid-19 atau DBD ,tetapi kita masih berhadapan dengan gizi buruk,  stunting, juga kasus kematian ibu hamil dan anak. Tahun lalu tidak ada kasus kematian akibat DBD, tetapi ada kasus kematian ibu hamil," kata Chrisnawan.

Dia mengakui, untuk kasus DBD memang Kabupaten Sumba Timur pernah menjadi perhatian, yakni di tahun 2019, yang mana terjadi kejadian luar biasa (KLB), namun pada tahun 2020 angka kasus DBD dapat ditekan.

"Kasus DBD di tahun 2019 di Sumba Timur memang tinggi, yakni mencapai 895 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 18 kasus. Kita berhasil tekan pada tahun 2020 dengan tanpa kasus meninggal dunia," ujarnya.

Terkait upaya pencegahan, ia mengatakan, pencegahan  yang dilakukan paling utama adalah PSN, kemudian , pembagian kelambu anti nyamuk secara masal dan juga abatesasi.

BARU! Kode Redeem Free Fire 4 Februari 2021 Resmi dari Garena, Tukar Kode Redeem FF Hari Ini

143 Orang Divaksin di Hari Pertama Vaksin Covid-19 di Kabupaten Manggarai Barat

Bupati Sikka, Roberto Diogo Datangi Lokasi Bencana : Dinas PUPR dan BPDB Sikka Ambil Langkah Cepat

"Pencegahan DBD ini butuh kerjasama semua elemen masyarakat. Mari kita sama-sama lakukan pencegahan, jangan sampai kita fokus semua ke Covid-19 tetapi ada kasus lain juga sangat berbahaya," katanya.(Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved