Opini Pos Kupang
Sekolah di Mana Saja
SEMUSIM sudah berlalu.Satu semester kelas sangat sunyi. Kini masuk semester genap
Oleh: Yahya Ado, Anggota Forum Akademia NTT
POS-KUPANG.COM - SEMUSIM sudah berlalu.Satu semester kelas sangat sunyi. Kini masuk semester genap. Sekolah seperti museum yang hanya menyimpan perangkat belajar. Lonceng sekolah tak lagi ramai berbunyi. Sunyi di kala pagi, maupun jam ketika pulang. Tak ada lagi baris-berbaris. Tak ada lagi nyanyian Indonesia Raya di Senin pagi. Semua bejalar dari rumah.
Simbolisasi sekolah seperti baju seragam, apel pagi, doa bersama dan lainnya seperti menjadi kenangan cukup lama. Sekolah kini masuk kejaringan global, melalui dunia digital, meski masih banyak pula yang terperangkap manual. Orang tua menjadi guru, dan guru-guru menjadi orang tua di rumah masing-masing.
Susahnya kalau siswa yang orang tuanya harus kerja ke kantor atau berkebun, atau pekerjaan lainnya di luar rumah. Kasat mata terlihat, banyak anak dibiarkan bermain bebas di rumah dan lingkungan rumah mereka di jam-jam sekolah.
Baca juga: Dorong Penyintas Covid-19 Donor Plasma
Kurikulum secara nasional kini mulai disederhanakan untuk masa darurat. Menyesuaikan kenormalan baru yang `dituntut' menjadi normal. Mengurangi mata pelajaran, memangkas jam belajar, hingga menghilangkan banyak perangkat administrasi belajar yang menyita.
Kurikulum darurat yang menjawab mimpi merdeka belajar itu, kini diterima sebagai kabar baik. Termasuk penilaian karekter yang menggantikan ujian nasional yang berbiaya mahal itu.
Pendidikan berbasis digital di zaman ini memang sungguh melelahkan.Tantangan sangat berat adalah infrasturktur listrik dan juga blank spot untuk jaringan internet. Belum lagi kepemilikan gawai yang tak mendukung proses belajar siswa.
Baca juga: Polsek Aimere Siapkan Sekolah Online Gratis Bagi Para Siswa, Ini Penjelasan Kapolres Ngada
Selain itu, satu sekolah dan sekolah lain punya metode belajar yang berbeda-beda. Ada yang sekedar membagi buku. Ada yang hanya foto copy lembar kerja, dan syukur-syukur masih ada yang bisa bertemu dan berkunjung ke rumah-rumah, terutama di zona hijau dan orange.
Di pandemi kini, protokol menjaga jarak fisik pun ternyata menjauhkan hubungan emosional antar guru dan murid. Padahal belajar juga butuh interaksi hati ke hati. Butuh motivasi dan inspirasi yang mengalir saat bersua. Jadinya, ikatan batin seorang guru yang ditiru dan digugu semakin terhambat kondisi.
Anak jarang ketemu langsung dengan guru secara fisik, guru berhubungan dengan perangkat lunak, begitu juga murid dan orang tua mereka. Sama-sama lebih dekat dengan dunia digital masing-masing.
Orang Tua Menjadi Guru
Pesan Ki Hajar Dewantara, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah," menjadi benar-benar terjadi hari ini. Pandemik kembalikan filosofi sekolah yang sebenarnya. Tanggungjawab utama belajar anak di rumah karena waktu yang lebih banyak di rumah.
Setiap rumah menjadi sekolah, setiap orang tua itu guru. Sayangnya, kita masih terpingkal-pingkal dan bahkan saling menyalahkan. Kita belum tuntas diskusi, bahwa belajar bukan semata tanggungjawab sekolah. Tetapi rumah dan lingkungan juga turut membentuk anak.
Ada pepatah kuno, "Anak dididik oleh satu kampung," adalah sebuah kebenaran sejati. Karena anak butuh teladan dari siapa pun yang ia lihat. Di rumah, sekolah, dan lingkungan/alam sekitar.
Sayangnya, banyak orang tua semakin risau. Proses belajar anak seperti tak tuntas. Kurang stimulasi untuk melihat perkembangan pembelajaran anak. Ini karena minim alat dan cara belajar. Belajar menjadi tanpa kontrol yang baik.
Kurikulum yang dibuat untuk belajar di rumah pun, belum tuntas dipahami orang tua. Maka yang terjadi adalah kekerasan model baru di rumah kepada anak-anak. Banyak video viral yang kita saksikan di media sosial menjadi tamsil buruk dunia pendidikan kita hari ini. Karena fakta, tidak semua orang tua bisa menjadi guru.
Padahal dunia sedang menggiring kita kemasa di mana anak harus lebih banyak di rumah untuk belajar. Mau tak mau, orang tua harus disiapkan untuk bisa menjadi guru.
Paling tidak serupa kita menyiapkan guru menjadi guru. Kita butuh loncatan berpikir di ranah ini. Bagaimana pemerintah serius merancang program tentang orang tua menjadi guru. Dan tidak hanya habis di slogan orang tua menjadi guru. Paling tidak kita bisa belajar dari kelas parenting (pola asuh) untuk anak usia dini.
Sekolah yang Merdeka
Merdeka belajar menjadi rabana baru yang ditabuh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Masyarakat sekolah harus merdeka. Benar-benar merasakan belajar itu harus bebas dan menyenangkan. Tanpa ada beban untuk ketuntasan secara kuantitatif, tapi harus tetap memenuhi syarat kualitatif.
Arah pendidikan nasional yang berkompas ke literasi, numerasi dan karekter pun kerap menjadi syair indah yang didengungkan. Penting memang belajar soal sains dan ilmu pengetahuan, tetapi jangan tinggalkan karekter. Karena sekolah tak hanya bisa pintarkan otak semata, tetapi juga harus buat tangan lebih kreatif, dan terutama menghasilkan budi pekerti yang mulia.
Di Indonesia, banyak sekolah yang berbasis alam atau dikenal sekolah alam telah menjadikan pilihan belajar yang merdeka sejak lama. Mereka tidak tersekat belajar di dalam ruang kelas. Mereka belajar di alam bebas dan terbuka. Mereka belajar yang nyata dan bukan sekedar abstrak yang menghayal.
Mereka belajar fakta kehidupan, keindahan, ilmu pengetahuan, kebersamaan, dan lebih utama mengenal dan bersyukur pada Tuhan.
Belajar memang harus merdeka. Di lingkungan yang nyaman dan menyenangkan. Konon 30 persen hasil belajar didapat dari settting lingkungan belajar yang menyenangkan. Ini sangat penting bagi pembelajaran era sekarang. Belajar di mana saja haruslah menyenangkan.
Belajar yang menyenangkan tak harus tersekat di ruangsekolah. Kita harus bisa belajar di rumah, dan di mana saja.Di pasar, di pantai, di kebun, di sawah, dan di mana pun. Karena sejatinya anak punya tiga guru utama; Orang tua di rumah, alam/masyarakat sekitar, dan guru di sekolah. Semuanya menjadi sekolah. Sekolah di mana saja. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)