Opini
Ketika Rizieq Stop Berisik
Tidak lama lagi sang habib yang suka berisik di republik ini akan berdomisili dalam jeruji besi. Kasus pelanggaran Protokol Covid menjadi pemicunya
Masuknya Rizieq Shihab dalam jeruji besi adalah buah dan tuah dari sikap angkuhnya selama ini. Rintihan jiwa manusia yang merasa terpenjara akibat ulahnya terkabul. Rizieq yang berisik semakin tersingkir. Tidak ada teman yang datang membantu membebaskannya. Ia cuma pasrah. Bahkan beberapa tokoh partai tertentu yang kerap menggunakan jasanya secara pragmatis dalam pilpres tidak mampu menjadi tameng bagi Rizieq. Rizieq benar-benar sendirian.
Terus Mengawas
Habisnya FPI tidak serta merta berakhir pula doktrin atau ideologi yang ada pada pengikutnya selama ini. Ideologi dan tatanan ideologi yang sudah tumbuh subur tidak mungkin hilang begitu saja. Doktrin FPI yang serupa dengan HTI sebagai saudara sepahamnya ingin mendirikan negara kilafah patut diawasi pergerakan mereka. Doktrin itu hanya ada dalam isi kepala bahkan di dalam cela batin. Jika saatnya tiba doktrin itu tinggal dimainkan.
Usia dua puluh enam tahun di Indonesia bukanlah usia yang dianggap mudah bagi FPI. Doktrin yang sudah tertanam selama ini telah merasuk relung jiwa pengikutnya. Rizieq boleh saja tua atau mendekam dalam waktu yang lama dalam jeruji besi tetap hasil didikan pada anak buahnya akan terbaca kembali jika kepemimpinan di republik ini berada atau beririsan dengan kepentingan FPI dan HTI sebagai saudara sepaham. Kepentingan FPI dan HTI cuma satu yakni membentuk negara kilafah. Maka rakyat harus menolak calon pemimpin di pilpres 2024 yang akan menggunakan jasa FPI dan HTI demi menarik masa.
Acapkali yang jadi persoalan dan rumit di republik ini ketika musim pilpres tiba ormas FPI dan HTI "angkat ekor" karena mereka diajak masuk ke dalam pemerintahan jika terpilih. Sehingga di masa lalu doktrin kilafah dan radikal yang sering digaungkan oleh segelintir anak bangsa tumbuh subur di negara ini di musim pilpres bahkan HTI pernah menggunakan TVRI dan Stadion Gelora Bung Karno untuk mengikrarkan tabiatereka pada negara kilafah.
Para calon pemumpin sering memakai jasa mereka. Ini memang cara yang paling mudah meraup suara (pragmatisme). Namun di pemerintahan Jokowi HTI dan FPI habis. Tapi perlu diingat bahwa secara organisasi boleh saja dipatahkan, namun idealisme kilafah dan doktrin kekerasan lain pasti tertancap di pikiran mereka. Itu yang mesti diawasi.
Maka butuh keseriusan rakyat dan perintah untuk menghapus indoktrinasi yang mendarah daging dalam tubuh FPI dan HTI. Hal itu dilakukan melalui upaya proaktif rakyat memantau pribadi-pribadi yang masih menerapkan doktrin yang sealiran dengan FPI dan HTI pada berbagai profesi kehidupan anak bangsa di negara ini. Jadi ormas seperti HTI dan FPI bernafaskan arogansi agama akan kembali tumbuh jika pemerintah dan rakyat tidak mampu merobek serta melumpuhkan simpul simpul doktrin itu melalui sikap bela negara dan nasionalisme.
Sangat diharapakan kepada pihak keamanan agar terus memantau tokoh tokoh yang ingin mengacaukan NKRI dengan tameng ormas keagamaan. Ditahannya Rizieq Shihab dalam kasus Protokol Covid-19 adalah pintu masuk bagi pihak keamanan untuk tegas pada pihak yang tidak mencintai hukum dan keadilan di republik ini. Ketika Rizieq berhenti berisik di republik ini setidaknya perdamaian sebagai sesama anak bangsa akan terwujud. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/apolonius-anas_02.jpg)