Pemda Ngada Bahas Singkronisasi Rancangan Teknokratik RPJMD dengan Wakil Bupati Terpilih
Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada ( Pemda Ngada) membahas terkait dengan sinkronisasi dan konsultasi rancangan teknokratik RPJMD
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | BAJAWA-Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada ( Pemda Ngada) membahas terkait dengan sinkronisasi dan konsultasi rancangan teknokratik RPJMD dengan bupati dan wakil bupati terpilih Kabupaten Ngada. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Ngada, Kamis (21/1/2021).
Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, Bupati Ngada Paulus Soliwoa, Wakil Bupati Ngada terpilih Raymundus Bena, Sekda Ngada Theodosius Yosefus Nono, dan Akademisi UGM Dr. Gabriel Lele serta seluruh perangkat daerah.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Pos Kupang, kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dimana peserta yang hadir duduk dengan menjaga jarak dan memakai masker.
Baca juga: Dua Pasien Covid-19 di Belu Dievakuasi ke Surabaya Menggunakan Pesawat Charter
Dalam materinya, Wakil Bupati Ngada terpilih, Raymundus Bena mengatakan bahwa, pembahasan singkronisasi RPJMD sangat perlu dilakukan sehingga nantinya dalam menjalani roda pemerintahan yang baru tidak mengalami kesulitan untuk menginput program yang akan dilakukan kedepan.
Raymundus menjelaskan, pemerintah Kabupaten Ngada dalam kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati terpilih Andreas Paru dan Raymundus Bena mengusung tagline Tante Nela Paris. Tagline tersebut merupakan akronim dari Tani Ternak Nelayan dan Pariwisata.
Baca juga: RS St. Carolus Boromeus Belo Alami Lonjakan Signifikan Pasien Covid-19 di Bulan Januari 2021
Pendasaran kenapa AP-RB mengusung tagline tersebut untuk dijadikan senjata dalam kampanye, karena Tante Nela Paris merupakan sebuah peluang dan potensi yang harus digarap untuk kesejahteraan masyarakat.
"Pendasarannya karena mayoritas masyarakat kita tinggal di desa, 88 persen adalah petani yang didalam ada juga peternak, dan nelayan," ungkapnya.
Selain itu, ungkap Raymundus, Produk Domestik Regional Bruto (PDRD) Kabupaten Ngada secara dominan disumbangkan dari sektor pertanian. Berdasarkan data 15-20 persen disumbangkan dari sektor pertanian sehingga hal tersebut yang membuat APRB mengusung tagline Tante Nela Paris.
"Kalau Mulus jilid 1 dan 2 sudah membuka akses infrastruktur, maka kini saatnya kita berpindah ke Tante Nela Paris. Secara teknis tentu ada forum yang akan mendiskusikan lagi itu," terangnya.
Sementara itu, Bupati Ngada, Paulus Soliwoa dalam materinya mengatakan, tidak jauh berbeda antara tagline yang diusung oleh AP-RB dengan apa yang sudah dilakukan oleh Mulus selama 10 tahun dalam menjalani roda pemerintahan.
Menurutnya, ada beberapa hal menjadi dasar dalam melakukan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Ngada. Menurut data menunjukkan bahwa 80 persen masyarakat tinggal di pedesaan. Dari data tersebut, ada empat persoalan mendasar yakni persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur.
"Oleh karena itu teman-teman, Mulus jilid 1 dan 2 bahwa pemda memulai pembangunan dari desa karena memang 80 persen dari masyarakat kita tinggal di desa," ungkapnya.
Menurutnya, ada dua persoalan utama secara internal yang dialami oleh pemerintah yakni ketersediaan anggaran yang sangat minim dan juga keterbatasan masa kerja bupati dan wakil bupati.
Atas dua masalah yang dialami tersebut, terang Paulus, pihaknya menyelesaikan masalah dengan dua cara yakni efisiensi terhadap anggaran dan fokus pembangunan berdasarkan kebutuhan.
"Sebab kita tidak bisa melaksanakan pembangunan dengan istilah adil dan merata. Adil dan merata kita tidak membangun sama rata, tapi kita membangun adil dan merata dalam tataran konsep kebutuhan. Tentunya pembangunan akan berbeda dari kecamatan yang satu dengan yang lain," jelasnya.