Laut China Selatan

Cina Sebut Amerika dan Sekutu Baratnya Tak Punya Nyali Hadapi Beijing di Laut China Selatan, Kenapa?

Cina Sebut Amerika dan Sekutu Baratnya Tak Punya Nyali Hadapi Beijing di Laut China Selatan, Kenapa?

Editor: Gordy Donofan
Kompas.com
Kapal perusak milik Angkatan Laut AS yang dilengkapi misil kendali, USS Higgins. Kapal ini menjadi satu dari dua kapal militer AS yang dilaporkan terlihat berlayar di wilayah Laut China Selatan, Minggu (27/5/2018).(SCMP / US NAVY) 

Cina Sebut Amerika dan Sekutu Baratnya Tak Punya Nyali Hadapi Beijing di Laut China Selatan, Kenapa?

POS-KUPANG.COM -- Cina Sebut Amerika dan Sekutu Baratnya Tak Punya Nyali Hadapi Beijing di Laut China Selatan, Kenapa?

Hubungan antara China dan Amerika beserta sekutu Baratnya sepertinya tak akan membaik dalam waktu dekat.

Sebagai bukti, media pemerintah China sekali lagi melancarkan serangan pedas terhadap AS dan sekutu Baratnya menyusul tindakan keras terbaru Beijing terhadap oposisi pro-demokrasi di Hong Kong.

Baca juga: TERBARU Ibu Hamil & Anak Usia Dini Rp 3 Juta, Cek Penerima Bantuan PKH Tahun 2021: Berikut LINK-nya

Baca juga: TERBARU Ibu Hamil & Anak Usia Dini Rp 3 Juta, Cek Penerima Bantuan PKH Tahun 2021: Berikut LINK-nya

Baca juga: Wabup Army Dukung Pemekaran Desa Sutual

Melansir Express.co.uk, The Global Times - media harian yang dikelola pemerintah China - telah menerbitkan editorial yang mengklaim Barat "tidak akan berhasil" dengan tekanan yang diterapkan pada China atas pelanggaran hak asasi manusia.

Surat kabar tersebut juga memperingatkan bahwa Barat tidak "punya nyali" untuk menghadapi China.

Editorial ini datang sehari sebelum The Global Times memberi selamat kepada Joe Biden atas kemenangannya sebagai Presiden AS dari Donald Trump.

Ucapan selamat yang hangat itu datang setelah seminggu China berdiam diri terhadap hasil Pemilu AS.

Express.co.uk memberitakan, China sepertinya menanti untuk melihat pandangan apa yang akan diambil Biden tentang kebijakan luar negeri AS.

Akan tetapi, para ahli yakin dia tidak akan mengubah arah kebijakan sehingga tidak akan mengakhiri ketegangan antara Washington dan Beijing.

Presiden terpilih, yang akan menggantikan Trump di Gedung Putih pada Januari 2021 mendatang, telah berjanji bahwa AS akan membela pelanggaran China atas hak asasi manusia, ekspansionisme militer, dan praktik perdagangan yang tidak fair.

Selama beberapa bulan terakhir, pemerintahan Donald Trump telah memberikan dukungannya di belakang para pengunjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong.

AS, seperti halnya Inggris dan Jerman, minggu ini mengecam pengusiran empat anggota parlemen pro-demokrasi China dari badan Dewan Legislatif Hong Kong.

Langkah dari Beijing memicu reaksi marah, sehingga memicu pengunduran diri semua menteri pro-demokrasi yang tersisa di parlemen sebagai bentuk aksi protes.

Kini, The Global Times mengklaim bahwa semua kritik dari Barat sebenarnya tidak ada artinya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved