Ini yang Dilakukan Pemkab Lembata Terkait ASF

ia bersama stafnya melakukan beberapa skenario untuk menanggulangi penyebaran virus ini.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
zoom-inlihat foto Ini yang Dilakukan Pemkab Lembata Terkait ASF
POS-KUPANG.COM/RICARDUS WAWO
Bangkai babi yang mati karena virus ASF dibuang begitu saja di lahan kosong Koligleteng, Kota Lewoleba, Senin (11/1/2021)

Ini yang Dilakukan Pemkab Lembata Terkait ASF

POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Virus flu babi Afrika atau ASF yang menyerang ternak babi di Nusa Tenggara Timur umumnya dan kabupaten Lembata, telah membuat para peternak harus mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Kepala dinas peternakan kabupaten Lembata, Kanis Tuaq mengatakan sejak 30 hari yang lalu virus tersebut terdeteksi menyebar di kabupaten Lembata, ia bersama stafnya melakukan beberapa skenario untuk menanggulangi penyebaran virus ini.

Dijelaskannya, selain menyediakan tempat penguburan gratis untuk meminimalisasi pembuangan bangkai ternak secara sembarangan, hal itu juga untuk melakukan pencegahan penyebaran ke ternak babi lainnya.

“Pemerintah ambil alih penguburan massal sejak tanggal 14 sampai 28 Januari di lokasi eks GOR Lamahora, sejak kemarin dan hari ini ada 69 ekor. Masyarakat menghantar babi ke lokasi penguburan massal dan gratis,” ucap Kanis ketika dihubungi, Sabtu (16/1/2021).

Terkait dengan pencegahan, Kanis bersama stafnya melakukan skema pencegahan dengan melakukan edukasi ke masyarakat melalui media sosial, surat imbauan untuk menguburkan ternak mati, melarang lalu lintas ternak antar kecamatan, biosecurity kandang, pelarangan pemotongan ternak yang sedang sakit.

Lebih jauh, ia menerangkan sejak tanggal 29 Desember 2020 dilaporkan adanya kematian ternak babi sebanyak 21 ekor, bersamaan dengan ini, pihaknya juga langsung mengirimkan sampel uji ke laboratorium pengujian di Denpasar, Bali.

”Ini sekaligus tanggal pengiriman sample uji ASF. Kami di Lembata baru musim ASF. Kabupaten lain se-NTT sejak awal tahun 2020 sudah terjangkit,” sambungnya.

Secara keseluruhan, Kanis mengungkapkan sebanyak 495 ekor babi di Lembata dilaporkan mati dengan kerugian ditaksir mencapai 1,7 miliar hingga 2 miliar.

Menurutnya, virus ini terdeteksi menyebar di kabupaten Lembata sejak tanggal 19 Desember 2020, namun gejala awalnya telah diketahui sejak bulan November 2020.

Penyebaran di Lembata, katanya, terjadi begitu cepat akibat banyak masyarakat belum mengetahui gejala awal virus ini sehingga peredarannya pun tergolong bebas dan pada akhirnya menyebar ke ternak babi lainnya.

Diketahui, gejala awal virus ini menyebar ke ternak babi yaitu malas makan, panas tinggi, badan kemerahan hingga pada akhirnya mati dan virus ini juga tidak menyebar ke ternak lain maupun ke manusia.

Terkait dengan ternak yang mati hingga proses ganti rugi, Kanis menyampaikan belum mengetahui petunjuk lanjutan.

”Kalau untuk pemberdayaan para peternak yang mengalami kerugian akibat virus ini ke depan belum di ketahui tergantung kebijakan bupati” lanjutnya.

Rafael, salah seorang peternak asal kecamatan Ile Ape Timur yang bermukim di kelurahan Lewoleba Timur, mengaku hingga saat ini  dua ekor ternak babi miliknya mati akibat virus ini.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved