Ketua Sinode GMIT Pdt Mery Kolimon : Refleksi Pasca Vaksinasi Covid-19

Ketua MS GMIT, Pdt Dr Mery Kolimon merupakan salah satu dari beberapa orang yang mendapat vaksin Covid-19 pada hari pertama di NTT

Editor: Hermina Pello
zoom-inlihat foto Ketua Sinode GMIT Pdt Mery Kolimon : Refleksi Pasca Vaksinasi Covid-19
Pdt Mery Kolimon
Ketua MS Sinode, Pdt Mery Kolimon divaksin Covid-19 pada hari pertama pelaksanaan vaksin COoid-19 di Nusa Tenggara Timur

Ada yang mengklaim mendapat penglihatan Tuhan untuk tidak menerima vaksin: cukup berdoa, tidak usah bekerja. Saya secara pribadi melihat bahwa hal itu merupakan reaksi psikologis tengah situasi keterancaman yang dirasakan manusia.

Namun pada saat yang sama, sangatlah penting untuk kita melatih diri mencari informasi dari sumber yang terandalkan.

Tuhan memberi kita akal budi untuk menguji semua berita dan informasi, menguji semua suara yang mengklaim mendengar suara Tuhan.

Gereja belajar memahami suara Tuhan (berteologi) pertama dan terutama dari Alkitab. Sumber berteologi yang lain adalah nurani tiap orang percaya, juga dari penyataan Allah dalam sejarah, dalam budaya, ilmu pengetahuan, dan dalam pengalaman hidup manusia, termasuk pengalaman penderitaan.

Roh Tuhan Berhembus atas Tulang-Tulang Kering

Tahun ini, GMIT menjadikan Yehezkial 37:14 sebagai teks yang membimbing pelayanan GMIT di masa pandemi Covid-19. Allah membawa Yehezkial ke dalam lembah penderitaan yang penuh tulang-tulang sangat kering yang tercerai berai, lambang dari kehidupan yang terputus dari Tuhan dan kehilangan masa depan.

Tuhan menyuruh Yehezkial berbicara dengan tulang-tulang itu. Tuhan juga menyuruhnya memanggil roh dari empat penjuru mata angin masuk ke dalam tulang-tulang kering itu memberi kehidupan.

Gereja tidak dibawa Tuhan untuk menghindari bencana. Sebaliknya Tuhan justeru menuntun gereja masuk dan berjuang di tengah-tengah lembah ancaman kehidupan itu.

Namun tugas gereja tak berhenti untuk berada di situasi penuh ancaman secara pasif.

Gereja mendapat panggilan untuk bersaksi tentang karya Roh Allah yang penuh kuasa untuk menghidupkan. Yehezkial mendapat otoritas untuk bernubuat kepada Roh Kudus untuk menghidupkan tulang-tulang kering itu.

Saya melihat tugas gereja di masa ini adalah belajar memahami realitas “tulang-tulang kering”, yaitu ancaman kehidupan di masa pandemi ini. Kita harus membuka mata untuk mendengar dan mempelajari temuan para ilmuan tentang perkembangan virus ini di seluruh dunia.

Kita juga perlu realistis tentang bahaya dan ancaman yang kita hadapi. Namun kita tidak boleh hilang harapan. Justeru gereja dipanggil untuk mewartakan dan mengerjakan kabar baik di tengah situasi bencana.

Dalam kerangka itu, vaksinasi oleh pemerintah perlu diterima secara positif sebagai keterlibatan gereja dalam karya Allah bagi pemulihan hidup manusia. Sekaligus kita perlu tetap kritis terhadap praktik-praktik yang bisa menciderai kemanusiaan dalam upaya-upaya manusia yang terbatas dalam proses vaksinasi itu.

Saya tetap mendorong anggota jemaat-jemaat GMIT dan umat Kristen di seluruh dunia membuka diri secara konstruktif terhadap upaya vaksinasi yang sedang berlangsung.

Untuk itu, masing-masing orang sebaiknya sudah mengecek keadaan kesehatannya di fasilitas kesehatan terdekat sebelum menerima vaksin.

Dengan menerima vaksin, kita sedang merawat kehidupan di tengah-tengah realitas “tulang-tulang kering”.

Seorang kawan berbagi pemikiran. Ada tiga jenis "tulang-tulang kering" - ada tulang-tulang fisik yg kering sebab kebugaran di dalamnya terancam; ada "tulang-tulang" mental yg kering sebab kemampuan untuk memakai akal budi dan belajar dari ilmu juga terancam (mungkin oleh ketakutan atau reaksi stres/psikologis); dan ada "tulang-tulang" spiritual yg kering ketika iman kita terancam oleh keputusaasaan, sinisisme dan kepasrahan.

Kita semua menjadi "tulang kering" berhadapan dengan pandemi. Yehezkiel memanggil roh dari empat penjuru. Vaksin salah satu penjuru, dan gereja berupaya juga untuk mengembalikan roh melalui pelayanan yang aman bagi umat.

Saya percaya bahwa dalam segala situasi, Allah kita adalah Imanuel; Ia beserta kita. Allah Tritunggal beserta kita tidak secara pasif, tetapi Allah berada bersama kita secara aktif. Ia bertindak untuk keselamatan dunia ciptaanNya.

Kuasa dosa merusak hidup manusia dan alam semesta, namun Allah tak berhenti menolong manusia dan dunia yang rapuh. Keyakinan bahwa Allah beserta itu memberi manusia daya untuk bahu membahu bersama melawan kuasa sakit dan kematian di tengah-tengah ancaman pandemi Covid sekarang ini.

Vaksin Covid-19 adalah bagian dari karunia Allah bagi budi manusia untuk mengolah ilmu pengetahuan menjadi bagian dari alat keselamatan. Menerima vaksin adalah bagian dari komitmen untuk merawat kehidupan.

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved