Sabtu, 30 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Himne Natal Sedulius

Itulah pembuka lagu "A solis ortus cardine", salah satu himne Gregorian Natal yang hari ini kita kenal

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh Mario F. Lawi, Alumnus Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma

POS-KUPANG.COM - Itulah pembuka lagu "A solis ortus cardine", salah satu himne Gregorian Natal yang hari ini kita kenal. Tujuh bait lagu himne tersebut diambil dari salah satu puisi himne yang ditulis oleh Caelius Sedulius, seorang penyair dan teolog yang hidup pada sekitar abad kelima Masehi.

Martin Luther, dalam karyanya De Divinitate et Humanitate Christi, menyebut Sedulius sebagai poetae Christianissimus-penyair paling Kristen. Sedulius adalah salah satu penulis himne termasyhur dalam gereja, selain nama besar seperti Ambrosius.

Ada tiga karya penting yang ditulis Sedulius: dua puisi himne, dan satu puisi epik biblikal. A solis ortus cardine, salah satu puisi himnenya, adalah puisi akrostik alfabetik: kata pertama setiap kuatrinnya membentuk abjad Latin secara berurutan.

Baca juga: Launching Women Care Day di Mapolda NTT: Irjen Lotharia: Rakyat Butuh Aksi Nyata

Karena berpola alfabetis, puisi tersebut juga dikenal sebagai puisi abecedarius. Bentuk akrostik merupakan salah satu bentuk puisi tertua yang dikenal, yang bisa dilacak ke versi asli beberapa bagian Kitab Ratapan, Mazmur dan Amsal.

Pada Abad Pertengahan, puisi epiknya, Carmen Paschale (Nyanyian Kemenangan), termasuk salah satu karya yang dikaji dalam kurikulum sekolah. Carmen Paschale dianggap layak dikaji secara artistik dan merupakan sumber teologi yang baik oleh Abad Pertengahan. Sumber utama puisi-puisi Sedulius adalah Alkitab, terutama edisi terjemahan Latin Vulgata.

Baca juga: Masyarakat Golewa Minta Informasi Penyebaran Covid-19

Pada tahun 2019, penerbit Bentara Pradipa Pustaka menerbitkan terjemahan Indonesia dua himne Sedulius.

Dalam tujuh bait pertama puisi akrostik Sedulius, bisa kita amati sejumlah kecenderungan Sedulius dalam membingkai peristiwa kelahiran Yesus Kristus dengan menggunakan jukstaposisi.

Bait pertama himne adalah sebuah ajakan universal, ditunjukkan Sedulius dengan verba subjungtif "canamus" (marilah kita memuji): hendaklah seluruh bumi memuji Kristus.

Pada bait kedua, Sedulius mengekspresikan Natal sebagai peristiwa keterlibatan Allah: Pencipta mengambil citra hamba melalui "inkarnasi" (dari kata "in" dan "caro").
Keterlibatan Allah dalam peristiwa inkarnasi bertujuan membebaskan manusia dari belenggu maut, sebagaimana digambarkan Sedulius dalam dua baris terakhir bait kedua secara puitis: ut carne carnem liberans/non perderet quod condidit.

Meski menggunakan jukstaposisi dua deklinasi kata "caro," kedudukan keduanya berbeda: yang pertama (carne) adalah yang membebaskan, yang belakangan (carnem) adalah yang dibebaskan melalui peristiwa inkarnasi.

Melalui peristiwa pembebasan tersebut, Allah tidak mungkin membatalkan apa yang telah Ia ciptakan.

Pada bait ketiga kita dapati kebingungan Maria ketika menerima kabar Gabriel. Kebingungan Maria dan kabar Gabriel dalam Perjanjian Baru adalah teks latar yang dirujuk Sedulius tanpa menggunakan nama kedua tokoh tersebut dalam puisinya.

Menurut Sedulius, tubuh Perawan Maria adalah rumah bagi rahmat surgawi. Rahim Maria merangkul rahasia yang tak ia ketahui. Meski demikian, kita tahu, Maria dengan mantap menjawab tugas ilahi tersebut dengan "Fiat".

Bait ketiga tersebut punya kesejajaran dengan bait keempat. Jika pada bait ketiga rahmat surgawi (gratia caelestis) memasuki tubuh Sang Perawan, pada dua baris pertama kuatrin keempat Sedulius menegaskan bahwa peristiwa tersebut sejajar dengan berubahnya rumah hati (domus pectoris) manusia menjadi Bait Allah (templum Dei). Bait ketiga dan bait keempat ada dalam jukstaposisi.

Pada dua kuatrin terakhir, Sedulius masih menggemakan alusi alkitabiah dengan merujuk jawaban Maria kepada Gabriel ketika menerima kabar: "Bagaimana mungkin, sedangkan aku belum bersuami?"

Sedulius menggunakan kata "vir" sebagai totum pro parte bagi "suami" sekaligus mengembalikan alusi kepada versi Vulgata Injil Lukas. Referensi lain yang dirujuk Sedulius melalui bait keempat adalah situasi zamannya: pada abad keempat, doktrin keperawanan abadi Maria mulai populer.

Sebagai penyair yang hidup pada sekitar abad kelima, pandangan Sedulius tentang doktrin ini dapat lebih eksplisit kita temukan dalam puisi epiknya, Carmen Paschale.

Pada bait kelima, Sedulius menyampaikan kisah kelahiran Yesus. Nama Yesus tidak disebutkan dalam bait tersebut, melainkan dirujuk sebagai "yang dikabarkan Gabriel" (quem Gabrihel praedixerat).

Sedangkan pada dua bait selanjutnya, yang merupakan dua bait terakhir himne Sedulius yang memotret kisah Natal, Sedulius menampilkan latar kandang dan tokoh para gembala.

Pada bait keenam, Yesus yang lahir di atas jerami di palungan disusui dengan air susu yang seadanya. "Disusui" saya terjemahkan dari kata "pastus" yang digunakan Sedulius.

Kata "pastus" meski dengan jelas punya hubungan dengan "pastor" atau gembala, pada tempat yang pertama lebih cocok kita letakkan pada konteks kelahiran di kandang.

Kata "pastus" menunjukkan kerentanan sang bayi, dan dalam situasi tersebut bisa kita proyeksikan kerentanan kawanan: sebuah jukstaposisi yang saling memproyeksikan, yang juga mengingatkan kita pada jukstaposisi di bait-bait sebelumnya.

Tindakan menyusui adalah pernyataan cinta, dan dengan menggunakan kata tersebut, Sedulius menggunakan kuplet terakhir bait keenam tersebut untuk mempersiapkan gambaran besar di bait ketujuh: Sang Bayi yang lahir dan dinyatakan di hadapan para gembala adalah Gembala dan Pencipta segala makhluk (pastor creatorque omnium). (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved