Budaya Tionghoa: Ubah Nama Bisa Mengubah Nasib? Segera Simak Kisah Lengkap Berikut Ini
Ibunda yang sakit hati sudah tidak tahan lagi dengan kadar otak anaknya yang ia samakan dengan seekor udang. Kata nenek, ubah nama bisa jadi solusi.
Ketika ia pertama kali mendapatkan KTP, Do-hyung merasa bingung. Wajah di foto terlihat akrab, namun nama yang tertera terasa asing. Do-hyung tidak bisa menerima nama barunya yang berkonotasi seperti lelaki. Namun ayahnya tidak bermaksud demikian. Semuanya hanya untuk membawa keberuntungan bagi sang gadis.
Hingga kini, masyarakat Korsel masih mempercayai bahwa ketiadaan jodoh bagi seorang wanita adalah hal pembawa sial bagi keluarga. Syahdan, hal ini lantas melibatkan orangtua yang khwatir turut serta terlibat dalam mempertahankan marwah keluarga dari ancaman nasib sial.
Akan tetapi menurut Grace Chung, seorang dosen studi keluarga di Seoul National University, kesialan yang muncul justru berasal dari budaya Korea yang konformis. Perempuan yang belum menikah dipandang sebelah mata oleh para keluarga dan koleganya.
Bagi wanita-wanita muda yang tidak tahan banting, hal ini tentu sangat memberatkan. Akhirnya mereka melakukan apa saja untuk menyenangkan orangtua dan orang dekat mereka, termasuk mengganti nama.
**
Pendapat lain dikemukakan Jasper Kim, dari kelompok Asia-Pacific Global Research Group. Menurutnya, perkembangan ekonomi yang sangat pesat membuat banyak orang merasa tertekan menjalani hidupnya. Pergantian nama bagi beberapa orang Korea tidak hanya dipandang sebagai pembawa keberuntungan, namun semacam 'avatar' dalam bentuk personafikasi baru.
Nama baru bagi mereka adalah semacam wujud resolusi baru untuk melupakan pengalaman pahit masa lalu dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Nama baru adalah solusi terbaik sembari harap-harap cemas, siapa tahu saja ada rejeki nomplok datang melawas.
**
Tidak sama seperti di China yang melakukan berbagai perhitungan elemen Fengshui dalam pencarian nama baru. Di Korea Selatan, tugas ini diserahkan kepada Tae-eul (dukun) yang bertanya kepada para dewa atas saran dari sebuah nama yang terbaik.
Namun demikian, seorang Tae-eul mengatakan bahwa nama baru hanyalah harapan baru. Ia mengatakan bahwa "orang Korea seharusnya lebih berfokus kepada masalah yang membuat dirinya stres, bukan mengharapkan keajaiban tanpa berusaha."
Bagaimana dengan nasib Yu Do-hyung? Pada akhirnya ia merasa lebih percaya diri dan nyaman dengan nama barunya.
"Sekarang saya merasa nama itu sangat cocok untuk saya. Nama baru tidak mengubah seluruh hidup saya. Perubahan ini memberikan kekuatan energi yang baik. Saya kira nama baru ini membuat saya merasa lebih baik."
Sayangnya, Do-hyung juga mengatakan bahwa nama barunya belum bisa membantunya menemukan jodoh.
**
Sekali lagi, sebagai seorang Numerolog yang seharusnya berspesialis pada perubahan nama, saya dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada yang instan di dunia ini.
Numerolog meyakini bahwa perubahan nama adalah penanda adanya suatu perubahan dalam hidup. Namun hubungan ini bukanlah mujizat instan terhadap perbaikan nasib. Keduanya ada atas azas hukum sebab dan akibat.
Sayangnya apakah nama menyertai nasib, atau sebaliknya, masih seperti pertanyaan yang mana lebih dulu, telur atau ayam. Namun jangan terlalu kecewa, karena setiap nama pasti memiliki energi yang positif, anda hanya perlu memahaminya untuk membuat ia menjadi sebuah senjata yang dahsyat dalam kehidupanmu.
**
Oh ya, fase kedua perubahan nama Tionghoa, saya alami pada akhir tahun 2018. Saat itu seorang kawan memperkenalkan diriku dengan seorang ahli Fengshui yang akrab dipanggil dengan nama A-Suk (paman).
Kali ini motivasinya tidak berasal dari ibunda tercinta, namun karena keisengan diriku yang akhir-akhir ini sangat menyukai eksperimen dengan nama. Nama 'Chong' yang berarti 'pintar,' kemudian diubah lagi menjadi 'Weng-Chong,' yang berarti 'pengetahuan yang tak terbatas' (abundant knowledge).
Kata si Asuk sih, perubahan nama ini bisa membuat karyaku semakin terkenal dan dikenal oleh masyarakat luas. Tepat setahun setelah itu, saya bergabung di Kompasiana dan selalu meninggalkan jejak di ruang blog bersama ini.
Ada korelasinya? Entahlah. Yang pasti senang berada di sini bersama para Kompasianer dan berbagi ilmu yang tak terbatas.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul Mengubah Nama, Mengubah Nasib dalam Budaya Tionghoa: https://www.kompasiana.com/komjenrg6756/5fdf3ee7d541df128d4c82c2/mengubah-nama-mengubah-nasib-dalam-budaya-tionghoa?page=all
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ruben-onsu-dibikin-tak-bisa-tidur-sarwendah-khawatir-lihat-perlakuan-betrand-peto-pada-thania.jpg)