“Ami Noran”, Nostalgia Saksi Hidup Bencana Tsunami 1992 di Sikka, Simak!
trauma dan kepedihan mendalam bagi para penyintas. Setiap kejadian pada waktu itu masih melekat kuat di kepala dan hati mereka.
Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso
Thomas sempat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, air laut yang tadinya tergenang hingga ke pemukiman warga tiba-tiba menyurut jauh. Thomas berlari menyelamatkan diri.
“Saya melihat air laut itu menyurut jauh. Tiba-tiba ada gelombang besar dan tinggi sekali melebihi tinggi pohon kelapa. Gelombang itu seperti naga besar,” tutur Thomas.
Gelombang besar itu kemudian menerjang daratan Waioti dengan cergas dan ligat dari arah lautan Flores. Semua yang ada di daratan Waioti habis tersapu gelombang dengan hitungan detik. Pemukiman warga telah rata dengan tanah.
“Maumere hancur. Pemukiman warga hancur. Pohon-pohon tumbang. Banyak suara tangisan di setiap sudut kota Maumere. Ketakutan melanda kami. Tidak hanya itu, kami juga kelaparan, kedinginan, dan kesakitan. Kami tidak pernah menyangka ini bisa terjadi kepada kami. Kami kehilangan rumah dan kehilangan orang yang mereka cintai. Itu adalah hari yang paling menyedihkan,” kata Thomas lirih.
Pius Kato, pria berumur 61 tahun ini juga menceritakan kejadian tsunami pada 1992 kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (12/12/2020) sore di rumahnya, Lorong Garuda, Jalan Moan Sadipun, Maumere.
Pius menuturkan saat itu ia berada di dalam kapal sedang memindahkan barang-barang. Tiba-tiba terjadi guncangan yang sangat kuat. Air laut menyurut hingga dermaga menjadi kering. Ia kemudian melompat ke dermaga dan berlari. Ia melihat banyak gedung pertokoan yang hancur. Semua orang berlari menyelamatkan diri. Goncangan itu membuat semua orang berlari seperti orang mabuk.
“Saya juga melihat salah satu bapak kehilangan nyawanya ketika menolong seorang wanita yang tertindih tembok roboh. Saya juga melihat banyak orang yang membawa kasur, televisi, dan semua barang-barang berharga mereka. Mereka masih mementingkan harta dan barang-barang berharga mereka daripada nyawa mereka sendiri,” jelas Pius.
Baca juga: Renungan Harian Katolik, Minggu 13 Desember 2020: Di Tengah Kamu Berdiri Dia yang Tidak Kamu Kenal
Baca juga: Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilu Kecamatan Komodo Berjalan Lancar
Bencana tsunami 1992 di Kota Maumere telah mengukir cerita bagi para penyintas bencana dan menjadi sejarah lahirnya Kota Maumere kembali.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/monumen-tsunami-di-kota-maumere-sikka.jpg)