Breaking News:

“Ami Noran”, Nostalgia Saksi Hidup Bencana Tsunami 1992 di Sikka, Simak!

trauma dan kepedihan mendalam bagi para penyintas. Setiap kejadian pada waktu itu masih melekat kuat di kepala dan hati mereka.

Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ARIS NINU
Monumen Tsunami di Kota Maumere, Sikka.  

“Ami Noran”, Nostalgia Saksi Hidup Bencana Tsunami 1992 di Sikka, Simak

POS-KUPANG.COM | MAUMERE--Tepat dua puluh delapan tahun yang lalu, sejarah telah mencatat katastrofe yang terjadi di Kota Maumere, Kabupaten Sikka.

Tepat dua puluh delapan tahun yang lalu, Maumere tenggelam dalam pilu dan duka memberi kisah tersendiri bagi para penyintas bencana. Pada pekan kedua bulan Desember 1992, udara panas begitu sangat menyengat bersamaan dengan itu pula hujan pun turun.

Alam seakan-akan telah memberi aba-aba. Firasat buruk telah menghantui sebagian besar masyarakat Maumere, namun mereka tetap konsisten melakukan aktivitas seperti biasanya. Ke kantor, melaut, berkebun, berdagang, bermaindan sebagainya.

Pengetahuan umum masyarakat Maumere tentang tsunami masih sangat minim kala itu. Tsunami mengguncang beberapa pulau di Kabupaten Sikka, salah satunya adalah Pulau Babi. Gempa yang disusul tsunami setinggi 2,5-3,6 m menghancurkan 28.118 rumah, 785 bangunan sekolah, tempat ibadat serta 403 ruko dan perkantoran.

Selain itu, bencana alam tahun 1992 meninggalkan trauma dan kepedihan mendalam bagi para penyintas. Setiap kejadian pada waktu itu masih melekat kuat di kepala dan hati mereka.

“Ami Noran,” alias kami ada bergema di beberapa titik kota Maumere. Getaran begitu kencang mengguncang kota ini, petanda kesekian yang ditunjukan oleh alam.  Badan Meterologi dan Geofisika mencatat gempa inilah yang paling kencang dengan magnitudo mencapai skala 6,8 yang menyebabkan ratusan rumah runtuh, pohon-pohon tumbang, dan terjadi longsor di perbukitan. Lusia Bona Luron,  salah satu penyintas bencana 1992 kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (12/12/2020) siang.

Lusia Bona Buron yang kerap kali disapa Mama Oa mengisahkan saat bencana itu, ia berusia 21 tahun dan tinggal bersama pamannya di Nita Rotat, Kecamatan Nita. Seminggu sebelum kejadian, Lusia bermimpi berada di sebuah gua menghadap ke arah utara dan ia bertemu seorang perempuan yang memintanya untuk terus berhati-hati.

 “Hari sabtu kala itu terasa sangat aneh bagi saya. Saya melarang paman mereka supaya jangan ke kebun. Tapi mereka pergi dan mereka juga ajak saya. Saat itu, udara terasa panas sekali seakan matahari berada dekat di atas kami. Tanah-tanah panas semua dan tiba-tiba hujan turun. Setelah itu terjadi goncangan yang sangat kuat sehingga membuat saya terhempas. Saya juga melihat banyak rumah-rumah rubuh, batu-batu dari atas kebun menggelinding menutupi akses jalan dan terdengar suara gemuruh,” jelas Lusia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Thomas Dey, salah satu penyintas bencana 1992 yang sehari-hari melaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Ia berumur 35 tahun ketika bencana itu datang. Ia adalah salah satu dari kesekian banyak orang yang menyaksikan sendiri tsunami tahun 1992 yang terjadi di Kota Maumere.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved