Kamis, 14 Mei 2026

“Ami Noran”, Nostalgia Saksi Hidup Bencana Tsunami 1992 di Sikka, Simak!

trauma dan kepedihan mendalam bagi para penyintas. Setiap kejadian pada waktu itu masih melekat kuat di kepala dan hati mereka.

Tayang:
Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ARIS NINU
Monumen Tsunami di Kota Maumere, Sikka.  

“Ami Noran”, Nostalgia Saksi Hidup Bencana Tsunami 1992 di Sikka, Simak

POS-KUPANG.COM | MAUMERE--Tepat dua puluh delapan tahun yang lalu, sejarah telah mencatat katastrofe yang terjadi di Kota Maumere, Kabupaten Sikka.

Tepat dua puluh delapan tahun yang lalu, Maumere tenggelam dalam pilu dan duka memberi kisah tersendiri bagi para penyintas bencana. Pada pekan kedua bulan Desember 1992, udara panas begitu sangat menyengat bersamaan dengan itu pula hujan pun turun.

Alam seakan-akan telah memberi aba-aba. Firasat buruk telah menghantui sebagian besar masyarakat Maumere, namun mereka tetap konsisten melakukan aktivitas seperti biasanya. Ke kantor, melaut, berkebun, berdagang, bermaindan sebagainya.

Pengetahuan umum masyarakat Maumere tentang tsunami masih sangat minim kala itu. Tsunami mengguncang beberapa pulau di Kabupaten Sikka, salah satunya adalah Pulau Babi. Gempa yang disusul tsunami setinggi 2,5-3,6 m menghancurkan 28.118 rumah, 785 bangunan sekolah, tempat ibadat serta 403 ruko dan perkantoran.

Selain itu, bencana alam tahun 1992 meninggalkan trauma dan kepedihan mendalam bagi para penyintas. Setiap kejadian pada waktu itu masih melekat kuat di kepala dan hati mereka.

“Ami Noran,” alias kami ada bergema di beberapa titik kota Maumere. Getaran begitu kencang mengguncang kota ini, petanda kesekian yang ditunjukan oleh alam.  Badan Meterologi dan Geofisika mencatat gempa inilah yang paling kencang dengan magnitudo mencapai skala 6,8 yang menyebabkan ratusan rumah runtuh, pohon-pohon tumbang, dan terjadi longsor di perbukitan. Lusia Bona Luron,  salah satu penyintas bencana 1992 kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (12/12/2020) siang.

Lusia Bona Buron yang kerap kali disapa Mama Oa mengisahkan saat bencana itu, ia berusia 21 tahun dan tinggal bersama pamannya di Nita Rotat, Kecamatan Nita. Seminggu sebelum kejadian, Lusia bermimpi berada di sebuah gua menghadap ke arah utara dan ia bertemu seorang perempuan yang memintanya untuk terus berhati-hati.

 “Hari sabtu kala itu terasa sangat aneh bagi saya. Saya melarang paman mereka supaya jangan ke kebun. Tapi mereka pergi dan mereka juga ajak saya. Saat itu, udara terasa panas sekali seakan matahari berada dekat di atas kami. Tanah-tanah panas semua dan tiba-tiba hujan turun. Setelah itu terjadi goncangan yang sangat kuat sehingga membuat saya terhempas. Saya juga melihat banyak rumah-rumah rubuh, batu-batu dari atas kebun menggelinding menutupi akses jalan dan terdengar suara gemuruh,” jelas Lusia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Thomas Dey, salah satu penyintas bencana 1992 yang sehari-hari melaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Ia berumur 35 tahun ketika bencana itu datang. Ia adalah salah satu dari kesekian banyak orang yang menyaksikan sendiri tsunami tahun 1992 yang terjadi di Kota Maumere.

POS-KUPANG.COM berkesempatan bertemu dengannya, Sabtu (12/12/2020) siang di Lorong Kaget Waioti.  “Bapak, bisakah bapak menceritakan tentang tsunami 1992 yang dulu menjadi bencana terbesar di Pulau Flores khususnya Kota Maumere? Saya ingin mendengar cerita dari bapak,” kata POS-KUPANG.COM

kepada Thomas. Dari sepenggal pertanyaan ini, Thomas yang didampingi istri dan anak pertamanya itu mulai menuturkan kejadian demi kejadian pada bulan Desember 1992. Thomas pun mulai bercerita, hari itu udara begitu sangat panas dan seketika hujan turun. Aroma bau laut begitu menyengat masuk ke indera penciuman. Cuaca hari itu juga tidak memungkinkan untuk ia melaut. Namun, beberapa temannya tetap pergi melaut.  “Saya punya perasaan sudah mulai tidak enak. Saya larang saya punya istri untuk duduk di pantai begitu pun dengan tetangga saya,”ujar Thomas.

Ia melanjutkan kisahnya. Sekira pukul 13.30 siang, guncangan begitu dahsyat. Guncangan kuat ini membuat pasir pantai seperti terbuka dan tertutup. Semua masyarakat panik. Thomas mengarahkan mereka untuk keluar dari rumah dan berlari menuju lapangan luas yang tidak jauh dari rumahnya. Air laut perlahan-lahan naik hingga ke pemukiman warga.

Sontak semua berlari mencari tempat yang datarannya lebih tinggi. Gereja Katolik St. Gabriel Waioti yang dulunya adalah pasar menjadi tempat pengungsian warga Waioti kala itu. Semua sibuk menyelamatkan diri sedangkan Thomas harus kembali ke rumahnya untuk mencari anak keduanya yang berumur dua tahun.

Guncangan masih terasa sehingga membuat Thomas bejalan seperti orang mabuk. Kedua kalinya Thomas kembali lagi ke rumahnya untuk mengambil kain dan selimut agar anak-anaknya tidak kedinginan. Saat berada di dalam rumah, gempa terjadi lagi. Thomas dengan gesit keluar dari rumahnya melalui sebuah jendela yang membuat kakinya terluka karena terkena pecahan kaca.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved