Opini Pos Kupang

"Salah" Hamil, Kualitas Anak NTT Terancam

Kasus stunting masih menjadi highlight masalah kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT)

Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh: dr. Riyanti Teresa Arifin, Program Internsip RSUD Prof WZ Johannes

POS-KUPANG.COM - Stunting masih menjadi highlight masalah kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT). Apalagi setelah Presiden Joko Widodo mencanangkan target balita stunting menurun sampai 14 persen di tahun 2024.

Secara umum, persentase balita stunting di Provinsi NTT menurun dalam tiga tahun terakhir, dari 35,4 persen di tahun 2018, 30,3 persen di tahun 2019 dan 28,2 persen di tahun 2019.

Namun berkebalikan dengan Kota Kupang, tercatat pada tahun 2020 ini, angka kejadian stunting melonjak menjadi 5.151 (32,2 persen) dari yang sebelumnya di tahun 2019 sebanyak 3.892 (29,9 persen). (Media Indonesia 25/9/2020).

Baca juga: Selalu Ingat Pesan Ibu

Pemerintah Kota maupun Provinsi telah menggalakan berbagai program kerja untuk memberantas stunting di NTT, dari pengukuran dan pemantauan yang akurat, pemberian makanan tambahan (PMT), mengupayakan gizi ibu hamil yang adekuat dan serentetan usaha lainnya, termasuk menggaet kerja sama dengan berbagai pihak.

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat dicegah dan diintervensi jika dilakukan sejak dini, dan bukan hanya mempengaruhi kondisi fisik, namun juga potensi akademik dan kesehatan anak. Stunting atau perawakan pendek terjadi akibat anak kekurangan kandungan gizi dalam jangka panjang.

Anak yang mengalami stunting merupakan anak dengan perawakan lebih pendek dari potensi maksimal tinggi anak tersebut, yang dapat diprediksi dengan tinggi orangtua.

Baca juga: Dapat Bantuan Internet Gratis dari Kementerian Kominfo, Begini Tanggapan Kepala Puskesmas Aimere

Jadi bukan semua anak yang pendek langsung serta merta dikatakan stunting. Maka dari itu terdapat kurva pertumbuhan yang sudah disetujui secara nasional oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mengukur apakah anak tersebut stunting atau tidak. Kurva ini juga disahkan oleh WHO sehingga jarang sekali anak yang dikatakan pendek akibat genetik orangtua/ras tertentu melewati garis bawah kurva (ditemukan terlalu pendek menurut kurva).

Kehamilan "Tiba-tiba"

Saya sendiri berpraktik magang di dua tempat di Kota Kupang, sebagai dokter jaga IGD di suatu Rumah Sakit dan dokter poliklinik umum di Puskesmas. Saat saya berpraktik, kerap kali saya menemukan anak yang stunting akibat diurus dengan kakek dan nenek, atau karena makanannya tidak diperhatikan oleh orangtua akibat berbagai macam kendala.

Selidik punya selidik, akar permasalahan yang dapat saya simpulkan adalah kehamilan terjadi saat orangtua tidak siap, baik karena kehamilan itu memang tidak diinginkan atau karena waktu kehamilan yang tidak tepat.

Pada akhirnya, status gizi ibu seringkali pas-pasan untuk hamil -bahkan tidak jarang kondisi kesehatannya buruk, atau kondisi emosional, sosial dan ekonomi orangtua juga pas-pasan untuk menghadapi calon bayi yang lahir. Setelah lahir pun anak tidak terurus sehingga gizi semakin tidak terpenuhi.

Menurut WHO, 4 dari 10 kehamilan di dunia merupakan kehamilan yang tidak direncanakan (termasuk didalamnya kehamilan yang memang tidak diinginkan atau waktu kehamilan yang tidak tepat). 63 Persen diantaranya mengalami keguguran dan 37 persen lainnya dilahirkan.

Kehamilan yang tidak direncanakan menyebabkan pemeriksaan kehamilan terlambat, meningkatkan kemungkinan kematian ibu dan bayi, dan status nutrisi yang buruk akibat perawatan anak yang tidak optimal.

Konsekuensi jangka panjang dari anak yang tidak diinginkan meliputi potensi kognitif maksimal tidak tercapai, perkembangan emosional tidak maksimal, gangguan perilaku, kebiaasan baik tidak terbentuk, timbul penyakit kronis, perawakan pendek dan bahkan kemungkinan kriminalitas saat dewasa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved