Letkol Revilla Oulina Berbagi Pengalaman Tugas di Sudan: Pakai Rompi Antipeluru 8 Kg

TAK pernah terbayangkan di benak Letnan Kolonel (Sus) Revilla Oulina Piliang (46), perwira menengah TNI Angkatan Udara (AU)

Editor: Kanis Jehola
TRIBUN MEDAN
Letnan Kolonel (Sus) Revilla Oulina Piliang 

POS-KUPANG.COM - TAK pernah terbayangkan di benak Letnan Kolonel (Sus) Revilla Oulina Piliang (46), perwira menengah TNI Angkatan Udara (AU) menjadi perempuan pertama yang mendapat menjabat sebagai chief dalam pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB).

Villa, sapaan akrabnya, diangkat sebagai Chief United Nation African Union Mission (UNAMID) 9 PBB saat bertugas di Darfur, Sudan, tepatnya di Kota Al-Fashir. Wanita kelahiran Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman itu bertugas di Sudan sedikitnya selama satu tahun, mulai Juni 2017 -2018. Sebagai Chief U9, Villa mengurusi bidang Civil Military Co-operation (Cimic) atau koordinasi sipil-militer di tingkat pusat.

"Saya satu-satunya perempuan yang menjadi chief saat itu. Saya juga dapat informasi baru pertama kali (ada) perempuan menjadi chief. Di daerah lain, semisal Kongodan Lebanon saya tanya apakah ada chief perempuan, ternyata tidak ada juga," ucap Villa dalam wawancara khusus dengan Tribun Network, di Jakarta, Jumat (23/10/2020).

Baca juga: Pengurus Partai Golkar Sumba Timur ini Miliki Tanggal Lahir Sesuai HUT Partai Golkar

Berawal dari sebuah telegram dari Markas Besar (Mabes) TNI ke Mabes Angkatan Udara untuk mengikuti seleksi menjadi kandidat anggota pasukan perdamaian PBB.

"Dari kantor mengirim nama, setelah terkumpul di Mabes TNI kami menjalani tes. Tesnya banyak mulai dari kesehatan hingga kemampuan mengemudikan mobil stir kiri," kata ibu dua anak itu.

Lolos ujian di Indonesia, Villa kembali menjalani ujian di Sudan. "Tes pertama bahasa I

Baca juga: Wisata Bukit Damai di Sumba Barat: Nikmati Kampung Adat Liti yang Eksotis

nggris, komputer, nyetir dites lagi. Kalau tidak lulus dikembalikan ke negaranya," kenangnya.

Terakhir wawancara dengan First Commander UNAMID. "Setelah wawancara baru ditempatkan, kamu sebagai A, sebagai B, sebagai C. Jadi waktu itu kita bertujuh ke sana, laki-laki enam, saya sendiri perempuan. Masing-masing dapat jabatan," tambahnya.

Villa mendapat tugas di Markas Besar UNAMID yang berada di Kota Al-Fashir, sekira dua jam perjalanan udara dari Khartum, ibukota Sudan. Saat itu di Sudan ada sembilan chief, masing-masing mempunyai tugas berbeda.

"Chief U1 mengurus personel, Chief U2 operation, Chief U3 Inteligent, Chief U4 itu logistic, Chief U5 Planning, Chief U6 Communication, Chief U7 Training, Chief U8 Engineer, dan Chief U9 Cimic (Civil Military Co-operation). Saya mengurus hubungan dengan masyarakat, bisa bertemu. Yang bisa terjun langsung untuk menemui masyarakat," katanya.

Meski berstatus militer aktif, selama di Sudan Villa mengaku tidak pernah membawa senjata api. Alasannya, membawa senjata api berisiko tinggi. Namun ketika keluar dari markas besar, Villa mendapat pengawalan pasukan bersenjata lengkap, terdiri dari iring-iringan tujuh mobil.

"Prosedur tetapnya, saya diharuskan pakai rompi antipeluru dan pakai helm. Rompinya lumayan berat 8 kilogram. PBB tidak bertanggungjawab manakala kita tidak taat prosedur itu," kata Villa.

Banyak sekali pengalaman menarik dan baru ditemui di negeri tersebut ketika Letkol Villa blusukan ke kampung-kampung. Ia menemukan keunikan ketika masuk ke rumah penduduk setempat.

"Tempat tinggal mereka rata-rata atapnya terbuat dari rumbia. Alas rumah berupa pasir sehingga ketika cuci piring atau perlatan rumah tangga lainnya, tinggal dibuang begitu saja, langsung terserap ke pasir itu," katanya.

Unit Cimic UNAMID juga bertugas membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, klinik, suplai air bersih, dan lain-lain.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved