Cerita Penggerak Inklusi di Ngada Hingga Mendapatkan Inclusive Education Award dari Mendikbud RI

Cerita Penggerak Inklusi di Ngada Hingga Mendapatkan Inclusive Education Award dari Mendikbud RI

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/GORDI DONOFAN
Koordinator Penggerak Pendidikan Inklusi Kabupaten Ngada, Martinus Seo, S.Pd 

Lanjut dia, namun tidak semua sekolah yang respon. Hanya ada 24 sekolah yang respon untuk mau menyelenggarakan pendidikan inklusif.

Ketika Drs. Valentinus Bhalu kembali ke Kupang, lalu dirinya melakukan asesmen bersama guru-guru untuk menentukan anak-anak yang disabilitas atau inklusif.

Koordinator penggerak pendidikan inklusi Kabupaten Ngada ini, menyatakan pendidikan inklusif adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak yang mempunyai perbedaan mental, fisik, hambatan pendengaran, penglihatan, bicara, hambatan ekonomi atau hambatan topografi serta anak-anak yang mempunyai kemampuan cerdas istimewa yang IQ diatasnya 125 serta anak yang mempunyai bakat istimewa.

"Lalu saya mengirim data ke kementerian PKLK di Jakarta serta mengurus dokumen ijin operasional oleh gubernur NTT yang saat itu Drs. Frans Leburaya tidak lama kemudian kurang lebih 2 bulan dari kementerian mengirim beasiswa anak inklusif setiap anak 1,5 juta hingga 1,7 juta rupiah ke rekening kepala sekolah masing-masing SD, SMP, SMA dan SMK," ujarnya.

Dia menyebutkan tahun 2013 seorang Dirjen datang ke kabupagen Ngada untuk klarifikasi dana yang terserap di Ngada.

"Siapa kira-kira yang melakukan sosialisasi pendidikan inklusif di Ngada setelah mendapat penjelasan dari saya bahwa saya melakukan sosialisasi lalu Dirjen pulang ke Jakarta tepatnya tanggal 24 November 2014 saya di undang untuk mendapatkan penghargaan dari kementerian Direktorat Jendral pendidikan dasar pendidikan khusus dan layanan khusus tepatnya pada tanggal 2 Desember 2014 cek in tepat hotel Grand Artos Aero Wisata Magelang Jawa tengah untuk mengikuti acara penyerahan penghargaan inklusif (Inclusive Education Award ) saat itu yang menerima adalah para Gubernur, walikota, bupati, rektor dan media elektronik program Kikc Andi metro tv, program hitam putih Trans7 dan perorangan adalah saya sebagai guru SDK Naru dan kepala sekolah SMPN 4 Sidoarjo Jawa Timur," ujarnya.

Ia menceritakan yang mendorong dirinya untuk inklusif yaitu banyak anak yang putus sekolah karena tidak mampu secara ekonomi atau merasa malu dengan keadaan fisik atau keadaan emosional lainnya.

Dengan program inklusif anak-anak tersebut mendapatkan bantuan untuk membayar uang sekolah atau uang komite dan pakaian seragam serta alat tulis menulis lainnya.

Kepala SDK Naru ini mengisahkan yang membedakan pendidikan inklusif dan pendidikan biasa yaitu pendidikan yang biasa dilaksanakan secara reguler sedangkan pendidikan inklusif mengajar dan membimbing anak anak yang lamban belajar, kesulitan belajar, ataupun hambatan fisik atau emosional lainnya.

"Contoh, anak yang cerdas istimewa akan merasa bosan jika guru yang mengajar mengulang ulang bahan ajar yang sudah di ajarkan sedangkan anak yang lamban belajar tetap diam dan tidak menerima respon apa-apa," ujarnya.

Ia melanjutkan oleh karena itu, Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan pendampingan personal itu dilakukan terus-menerus atau ada anak yang bisa menulis tapi tidak tau membaca sebaliknya anak bisa membaca tapi tidak tau menulis atau bisa menghitung tapi tidak tau membaca.

Ia menyebutkan pengalaman pendidikan inklusif gampang- gampang sulit. Dengan kunjungan rumah melakukan perbaikan proses belajar mengajar dan pendekatan pada orang tua menyampaikan tentang kesulitan kesulitan belajar yang dihadapi anak di rumah.

"Tapi ada enaknya setiap tahun saya selalu di undang oleh kementerian untuk mengikuti bimbingan teknik inklusif pelatihan- pelatihan tentang disabilitas atau rapat koordinasi tingkat nasional dan tidur di hotel mewah naik pesawat pulang pergi negara yang bayar," ujarnya.

Ia menyampaikan di Ngada kondisinya belum berjalan secara baik sesuai diharapkan karena kurangnya Guru Pendamping Khusus (GPK) setiap sekolah.

GPK tidak mendapat insentif apapun yang berhubungan dengan anak- anak inklusif dan sekarng ini negara sedang melaksanakan bimbingan teknik secara daring oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan RI.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved