Opini Pos Kupang
Logika Minimalis
2010, saat ditawarkan mengajar critila thinking di Universitas Multmedia Nusantara ( UMN) milik Kompas, saya agak terkejut
Sebuah pencerahan kerap menyisir pinggiran sebuah fenomena. Banyak orang yang menganggap kisah kecil itu sepeleh yang coba diangkat ke permukaan. Bagi seorang penulis, kesadaran akan hal kecil merupakan batu loncatan untuk refleksi lebih jauh.
Tentu refleksi atas peristiwa tidak menjebak seorang penulis agar sekadar menjadi komentartor atas peristiwa. Bila itu terjadi, sudah pasti tidak akan bisa `lolos' seleksi Kompas. Lebih lagi tulisan hanya ikut dalam sebuah gossip rendahan yang dilansirkan.
Sebaliknya sebuah refleksi memang bertolak dari sebuah peristiwa sederhana, yang mungkin dianggap sepeleh tetapi kemudian dijadikan titik berangkat dari sebuah refleksi. Inilah yang lebih jauh disebut sebagia tanda zaman.
Sebuah tanda, simbol, petunjuk yang menghentakan batin, menyadarkan pikiran untuk bertolak lebih dalam.
Pemikiran tentang `signo temporum', `tanda zaman' tidak saja penting dalam membaca tanda-tanda dan gejala sosial tetapi bahakn menjadi pijakan utama dalam teologi. Pemikiran yang sangat spiritual pun bisa dibedah dari fenomena kecil yang diangkat, direfleksikan hingga menjadi pemikiran bernas.
Dalam kehidupan sosial politik tentu tidak lepas dari bidikan tanda zaman. Fenomena politik sangat beragam. Banyak sekali gejala yang membentuk apa yang disebut kompleksitas. Sebuah struktur yang terlihat sangat sulit dibedah karena terlihat tak beraturan dari atas.
Ia analog dengan ribuan burung yang beterbangan bersamaan mencakar langit tetapi tak satupuan bertabrakan. Dari bawah terlihat sebuah kompleksitas atau kerumitan tetapi ternyata semuanya bisa dilihat keterkaitan dan keterhubungannya.
Itulah tugas politisi yang ingin membangun karier. Ia tidak melihat kerumitan sesaat lalu menanggapi secara gegabah (apalagi infantil), tetapi secara cermat dan bijaksana melihat makna yang bisa dikais di balik kerumitan itu.
Tetapi sanggupkan kita melihat dengan cermat kerumitan itu? Bisakah kita mengurai kerumitan itu dan menentukan tindakan yang tepat sebagai tawaran solusi? Memang di tengah pandemi seperti ini, tanggapan emosional dianggap lumrah. Orang mudah terprovokasi.
Namun, masih ada pilihan yang lebih cerdas agar disebut berkepribadian professional dan berkualitas. Hal itu ditandai oleh keberanian mengambil jalan bijak dan cermat. Kebijakan dan kecermatan punyang diminta minimals dengan logika minimalis pula.
Sebuah logika yang tentu saja dikemas dalam permenungan dengan memberi ruang pada sunyi untuk pembatinan. Orang Spanyol benar ketika mengatakan: El silencio es la cuna de la palabra (diam adalah rahim lahirnya kata-kata). *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)