Meski Juara Olimpiade Internasional, Remaja Ini Gagal SBMPTN, Tapi Diterima Di 4 Universitas Ternama
Rayhan mengungkapkan, saat SNMPTN, ia memilih Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI) ITB serta Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB
Pilihan Jatuh ke UI
Dari beberapa universitas tadi, pilihan Rayhan pun jatuh ke Teknik Mesin di Universitas Indonesia (UI).
Terdapat alasan utama mengapa Rayhan memilih UI sebagai tempat berikutnya menimba ilmu.
"Papa saya baru meninggal empat bulan lalu. Tanggung jawab keluarga sekarang ada di saya. Walaupun saya anak bungsu, tetapi saya anak laki-laki satu-satunya di keluarga. Jadi saya mikirin juga untuk enggak mau merantau dan sebisa mungkin kuliah di tempat yang terdekat," jelas Rayhan.
Rayhan mengaku, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia bermimpi menjadi juara di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Seiring berjalannya waktu, mimpi Rayhan itu pun terwujud pada tahun 2019 ketika meraih medali perak bidang Fisika di OSN 2019, Manado.
Berkah dari menjuarai ajang tersebut, Rayhan mendapat kesempatan untuk mewakili daerahnya ke ajang olimpiade internasional.
"Sekaligus saya terpilih untuk mewakili DKI Jakarta di ajang International Olympiad of Metropolises 2019, Moscow," ucap Rayhan.
• OLah Lahan Tidur, Kadis Ketahanan Pangan Sumba Barat Usul Beli 25 Traktor
• Group Ampera Nasyid MAN Nagekeo Runner UP Ajang Syiar Anak Negeri Tahun 2020
Rayhan mengungkapkan, saat SNMPTN, dia memilih Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI) ITB serta Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB.
Waktu yang dinanti pun tiba, tetapi takdir berkata lain, Rayhan dinyatakan gagal diterima melalui jalur SNMPTN.
Dia pun sempat merasa semua prestasi yang pernah ia raih semasa duduk di bangku SMA menjadi sia-sia dan tak berguna.
"Seolah-olah, prestasi-prestasi yang sudah saya capai selama tiga tahun di SMA menjadi sia-sia. Walaupun saya yakin tidak ada yang sia-sia," kata Rayhan.
Berbeda saat SNMPTN yang memilih kuliah di jurusan teknik, di SBMPTN Rayhan justru memilih jurusan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS).
Walaupun berganti pilihan, tak membuat Rayhan lolos di SBMPTN. Ia kembali gagal.
Rayhan mengaku life must go on, hidup harus terus berjalan, dan akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Waktu tidur akhirnya saya kurangi menjadi dua sampai tiga jam per hari," ucap Rayhan. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/14/130000465/kisah-rayhan-diterima-di-ui-uns-unpad-dan-binus-setelah-gagal-snmptn-dan?page=all#page2
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rayhan-danendra-wiracalosa.jpg)