Rabu, 22 April 2026

Abu Hitam Pekat dari PLTU Ropa Ende Bikin Bunga Jambu Mete Mati, Nelayan Susah Cari Ikan

Abu berwarna hitam pekat berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap Ropa ( PLTU Ropa) Kabupaten Ende diduga telah membuat bunga jambu mete mati

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
PLTU Ropa Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur Timur (NTT), Jumat (11/9/2020). 

"Aduh saya punya jambu mete tidak berbuah lagi gara-gara abu dari PLTU itu, saat dia sudah berbunga tetapi kalau kena abu itu dia mati sehingga tidak bisa berbunga," keluh Siti.

Menurutnya, ketika berada di kebunnya ia selalu mengenakan masker. "Kami hari-hari di kebun pakai masker. Takut abu itu," ujarnya.

Tidak hanya itu, kata Siti, dampak abu itu juga dirasakan oleh para nelayan.

"Saya punya suami nelayan dan dia dengan teman-temannya ada banyak sering mengeluh karena laut itam dan susah dapat ikan," kata Siti.

Kepala DLH Minta PLTU Ropa Segara Ambil Tindakan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende, Abdul Majid Haris ditemui POS-KUPANG.COM, yang kebetulan baru kembali dari PLTU Ropa minta PLTU Ropa segera tindak lanjut terkait laporan warga mengenai abu hitam tersebut.

Haris menuturkan tujuannya datang ke PLTU hendak mengecek ke PLTU terkait empat penyelam yang mengalami gatal-gatal dan bintik-bintik merah pada di tubuh pasca selam di laut dekat PLTU Ropa.

Dia katakan pihak perusahaan belum lakukan pemeriksaan peningkatan suhu air laut dalam enam bulan terakhir ini. "Yah alasannya karena Covid-19, yang datang ukur harus dari Laboratorium yang terakreditasi," ungkapnya.

Limbah Sempat Mengendap Capai 5.000 Ton

Sebelumnya Ibu Argentina Kabid pengelolaan limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende kepada POS-KUPANG.COM, 9 September 2020 mengatakan, limbah PLTU Ropa sempat mengendap lebih dari satu tahun.

Limbah dimaksud yakni Bottom Ash (FABA) sisa hasil pembakaran batubara.

"Jadi mereka ada itu 2017 lalu pada 2019 tepatnya maret baru faba diangkut ke Jawa, karena menurut mereka fabanya 5. 000 ton," ungkapnya.

Ibu Argentina mengatakan faba berikutnya belum diangkut karena menurut pihak perusahaan satu tahun dulu baru diangkut. "Jadi katanya kalau sudah setahun baru diangkut," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oris Goti)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved