Kamis, 23 April 2026

Abu Hitam Pekat dari PLTU Ropa Ende Bikin Bunga Jambu Mete Mati, Nelayan Susah Cari Ikan

Abu berwarna hitam pekat berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap Ropa ( PLTU Ropa) Kabupaten Ende diduga telah membuat bunga jambu mete mati

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
PLTU Ropa Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur Timur (NTT), Jumat (11/9/2020). 

POS-KUPANG.COM | ENDE - Abu berwarna hitam pekat berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap Ropa ( PLTU Ropa) Kabupaten Ende diduga telah membuat bunga jambu mete mati, akibatnya jambu mete tidak bisa berbuah.

Tanaman jambu mete itu milik warga di lahan sekitar PLTU yang berbahan bakar batubara tersebut.

Tidak hanya itu, warga juga mengeluhkan air laut menjadi hitam membuat para pelayanan kesulitan mencari ikan.

Liman Sunset Festival 2020 Promosi Pariwisata Pulau Semau

Menurut warga ketika pukat ikan diangkat dari dalam air laut sudah berubah warna menjadi hitam pekat, sehingga setiap dua jam mereka harus mencuci pukat.

Jika tidak dicuci, dalam kondisi yang hitam pekat ikan tidak akan masuk ke dalam pukat.

Penelusuran POS-KUPANG.COM di area sekitar PLTU Ropa berawal dari keterangan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Abdul Majid Haris pada 9 September 2020 di ruang kerjanya.

Update Corona Sumba Timur - Pasien ke-13 Positif Covid-19 yang Meninggal Miliki Penyakit Penyerta

Haris menuturkan pihaknya mendapat laporan bahwa ada empat penyelam dari Kementerian Perikanan dan Kelautan yang melakukan penyelaman di area laut dekat PLTU Ropa.

Pasca selam, kata Haris, empat penyelam tersebut mengalami gatal-gatal dan timbul bintik-bintik merah di tubuh. Menurutnya tempat mereka menyelam tak jauh dari PLTU Ropa.

"Kami mau ambil sampel air lautnya dekat PLTU Ropa untuk selanjutnya diperiksa," ungkap Haris.

Jumat (11/9/2020), POS-KUPANG.COM mendatangi PLTU Ropa. Sayangnya security tidak mengizinkan POS-KUPANG.COM masuk bertemu dengan manager.

Security lalu meminta surat tugas. POS-KUPANG.COM lantas menyerahkan id card. Beberapa saat kemudian security mengatakan, managernya sedang di Maumere. POS-KUPANG.COM lalu meminta nomor telfon manager tetapi tidak diberikan.

Selanjutnya, POS-KUPANG.COM menyisir area permukiman warga menuju pantai di belakang PLTU Ropa. Di pantai ada beberapa perahu nelayan namun tak ada orang di sana.

Mencegangkan! Pepohonan, rumput dan bunga-bunga hutan di belakang PLTU Ropa hitam pekat. POS-KUPANG.COM pun merasa sedikit sulit bernapas ketika sudah kurang lebih 30 menit berada di pantai itu.

Selanjutnya POS-KUPANG.COM bergeser ke permukiman warga. POS-KUPANG.COM bertemu dengan salah seorang warga bernama Siti Rugeyah yang hendak ke kebun.

Ditanya POS-KUPANG.COM mengenai aktivitas PLTU Ropa, Siti langsung mengeluh bahwa gara-gara abu hitam dari PLTU Ropa jambu mete miliknya tidak lagi berbuah.

"Aduh saya punya jambu mete tidak berbuah lagi gara-gara abu dari PLTU itu, saat dia sudah berbunga tetapi kalau kena abu itu dia mati sehingga tidak bisa berbunga," keluh Siti.

Menurutnya, ketika berada di kebunnya ia selalu mengenakan masker. "Kami hari-hari di kebun pakai masker. Takut abu itu," ujarnya.

Tidak hanya itu, kata Siti, dampak abu itu juga dirasakan oleh para nelayan.

"Saya punya suami nelayan dan dia dengan teman-temannya ada banyak sering mengeluh karena laut itam dan susah dapat ikan," kata Siti.

Kepala DLH Minta PLTU Ropa Segara Ambil Tindakan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende, Abdul Majid Haris ditemui POS-KUPANG.COM, yang kebetulan baru kembali dari PLTU Ropa minta PLTU Ropa segera tindak lanjut terkait laporan warga mengenai abu hitam tersebut.

Haris menuturkan tujuannya datang ke PLTU hendak mengecek ke PLTU terkait empat penyelam yang mengalami gatal-gatal dan bintik-bintik merah pada di tubuh pasca selam di laut dekat PLTU Ropa.

Dia katakan pihak perusahaan belum lakukan pemeriksaan peningkatan suhu air laut dalam enam bulan terakhir ini. "Yah alasannya karena Covid-19, yang datang ukur harus dari Laboratorium yang terakreditasi," ungkapnya.

Limbah Sempat Mengendap Capai 5.000 Ton

Sebelumnya Ibu Argentina Kabid pengelolaan limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende kepada POS-KUPANG.COM, 9 September 2020 mengatakan, limbah PLTU Ropa sempat mengendap lebih dari satu tahun.

Limbah dimaksud yakni Bottom Ash (FABA) sisa hasil pembakaran batubara.

"Jadi mereka ada itu 2017 lalu pada 2019 tepatnya maret baru faba diangkut ke Jawa, karena menurut mereka fabanya 5. 000 ton," ungkapnya.

Ibu Argentina mengatakan faba berikutnya belum diangkut karena menurut pihak perusahaan satu tahun dulu baru diangkut. "Jadi katanya kalau sudah setahun baru diangkut," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oris Goti)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved