Minggu, 31 Mei 2026

Kenali 5 Tanda Anak Kecanduan Film Dewasa Begini Cara Mengatasinya

Dalam jangka panjang, kecanduan film dewasa bisa memicu berbagai dampak buruk, seperti mengganggu konsentrasi anak

Tayang:
Editor: Hermina Pello
(Shutterstock)
Ilustrasi pornografi. 

Richardson dan rekannya mensurvei 330 pria yang memiliki latar pendidikan tinggi. Mereka ditanya di usia berapa pertama kali mengenal pornografi, dan apakah karena dipaksa, tidak sengaja atau melah mencarinya.

Peneliti juga mengajukan serangkaian pertanyaan untuk mengetahui apakah mereka kemudian memiliki perasaan “Power Over Women" (merasa lebih berkuasa dibanding wanita dan menganggap wanita seharusnya patuh) atau "Playboy" (terlibat dalam aktivitas seksual dengan beberapa wanita). 

Berdasarkan riset, cara orang pertama kali terpapar pornografi—baik dipaksa, tidak disengaja atau sengaja—tidak memiliki pengaruh besar pada dua sisi norma maskulinitas tersebut.

Namun, semakin muda seseorang melihat pornografi, makin besar kemungkinan dia mengadopsi norma power over women.

Sementara, pria yang mengenal pornografi pada usia lebih besar cenderung mengadopsi norma playboy.

Meski begitu Richardson mengakui bahwa hasil tersebut tidak membuktikan sebab-akibat, dan penelitian ini juga tidak dapat menunjukkan bahwa paparan awal terhadap pornografi menyebabkan misogini, karena banyak faktor lain yang bisa menyebabkannya. 

Mengacaukan Moral

Kecanduan pornografi adalah masalah yang biasanya berkembang di kalangan pria. Ironisnya, dalam kadar tertentu, masalah ini bisa berdampak pada karir dan bahkan mengacaukan moral.

Laporan yang dirilis laman Huffington Post di tahun 2017 menyebutkan, situs porno paling banyak dikunjungi daripada situs tenar lain, seperti Netflix, Amazon, dan Twitter.

Berdasarkan statistik Pornhub Analytics, tahun 2018 sebesar 5,5 juta jam lebih telah dihabiskan banyak orang, untuk mengunjungi situs tersebut.

Perkembangan teknologi memang mempercepat dan mempermudah akses terhadap konten pornografi.

Menurut psikolog Luke Vu, kecepatan dan kemudahan akses ke realitas virtual pornografi membuat banyak pria bisa mengatur sendiri keinginan seksualnya.

Dia menyebut, kecanduan pornografi sebagian besar disebabkan oleh efek negatif internet dan tidak bersifat turun temurun.

Vu juga mengatakan, penyalahgunaan pornografi di internet sebagian besar disebabkan oleh teknologi. "Gratis, mudah diakses, dan tentu saja alasan 'tidak ada yang tahu kamu menggunakannya'," ucap Vu.

Pornografi pada 1990an dan awal 2000an lebih sulit diakses. Seseorang harus pergi ke toko video atau membeli DVD porno -misalnya. "Ini berarti kamu harus mengelola keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual," ucap dia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved