Sabtu, 30 Mei 2026

Kenali 5 Tanda Anak Kecanduan Film Dewasa Begini Cara Mengatasinya

Dalam jangka panjang, kecanduan film dewasa bisa memicu berbagai dampak buruk, seperti mengganggu konsentrasi anak

Tayang:
Editor: Hermina Pello
(Shutterstock)
Ilustrasi pornografi. 

POS-KUPANG.COM - Dengan kemajuan teknologi yang pesat maka saat ini konten pornografi cenderung lebih mudah diakses karena teknologi yang semakin maju.

Apalagi bila anak mulai mencoba untuk melihat konten pornografi

Pornografi bisa menimbulkan kecanduan, tak terkecuali pada anak.

Nah bagaimana jika anak menonton pornografi? Bisa menimbulkan kecanduan, Apalagi  banyak orangtua terlalu permisif kepada anak dan memberikan gawai sejak usia dini.

Dalam jangka panjang, kecanduan pornografi bisa memicu berbagai dampak buruk, seperti mengganggu konsentrasi anak hingga anak rentan menjadi pelaku kejahatan seksual.

Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A(K) mengungkapkan, ketika anak menonton pornografi, mereka tetap mungkin mendapatkan rasa kesenangan, meskipun sebetulnya belum memiliki pemahaman cukup.

Kesenangan itu kemudian akan merangsang melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang.

Pada kesempatan berikutnya anak tersebut akan mencari-cari kembali apa yang membuatnya senang saat itu dan kembali mengakses pornografi. Jika dilakukan terus-menerus, anak bisa mengalami kecanduan.

"Penelitian menunjukkan kecanduan pornografi dampaknya bisa seperti kecanduan narkoba." Demikian diungkapkan dr. Eva dalam Instagram Live bersama IDAI, Selasa (18/8/2020).

Kecanduan pornografi bisa menyebabkan fungsi-fungsi dalam kehidupan anak menjadi terganggu.

Untuk itu, orangtua diimbau untuk mencegah itu sebelum terjadi, bahkan mencegahnya sejak sebelum anak mengakses internet.

Namun, bagaimana jika anak sudah terlanjur mengaksesnya dan mengalami kecanduan?

Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai oleh orangtua, antara lain:

- Ketika anak mulai suka bersembunyi untuk mengakses internet.

- Ketika anak mulai tidak bisa dilepaskan dari gawai.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved