Perang Dimulai, Israel Hajar Iran,Hancurkan Fasilitasn Militer Penting,Terkuak Maksud Negeri Zionis
Namun perang intelejen dan saling sabotase fasilitas penting termasuk tempat pengayaan nuklir Iran diduga telah dilakukan oleh agen-agen intelejen Isr
"Kami putuskan untuk ikuti cara administrasi Trump dalam beri tekanan maksimum kepada Iran," ujarnya.
Baca Juga: Sungguh Hina, Sepeda untuk Kemanusiaan Malah Diperjualbelikan di Indonesia, Brompton Secara Khusus akan Memburu Pencuri Sepeda Seri Wheels for Heroes Tersebut
Tekanan maksimum, strategi minimum
Serangan itu sepertinya merupakan bagian dari kampanye 'tekanan maksimum, strategi minimum' yang disebutkan oleh pejabat intel Uni Eropa yang namanya tidak ingin disebutkan.
Sumber itu mengatakan Iran dapat saja mempertimbangkan respon kasar setelah melihat amarah mereka memuncak setelah kematian Qassem Soleimani dari serangan AS.
"Adalah satu hal yang cukup sulit untuk meminta perhatian orang terarah lagi kepada insiden kematian Soleimani dalam kondisi krisis Covid-19 dan faktor global lain," ujar pejabat itu.
Baca Juga: Seperti Superman, Ini 3 Pasukan Khusus TNI yang Punya Kemampuan Tempur di Atas Rata-rata, Tak Kalah dengan Militer Negara Lain!
"Dan lebih sulit lagi untuk lakukan rangkaian operasi yang cepat tanpa strategi.
"Serta, kutakutkan rencana Israel adalah memprovokasi Iran agar merespon dengan tegangan militer ditingkatkan saat Trump masih menjadi presiden."
Joe Biden mengusung hal berbeda
Israel juga berpendapat, ketika nanti pemilu mungkin dimenangkan oleh Joe Biden, administrasinya akan kembali menyelamatkan kesepakatan nuklir tahun 2015 lalu yang sudah ditentang oleh Trump.
Sedangkan saat ini, banyak yang percaya jika Trump tidak akan menang pemilu untuk kedua kalinya.
"Akan berkurang niatan untuk lakukan tindakan barbar dan misi rahasia seperti ledakkan fasilitas nuklir di bawah administrasi Biden," ujar pejabat Uni Eropa.
Saat ditanya seberapa banyak aliansi Amerika berpengaruh terhadap niat mereka membuat kebijakan, pejabat itu menjawab dengan blak-blakan.
"Ada alasan mengapa kami semua mengikuti pemilu AS dan menonton CNN setiap hari," jawabnya.