Plt Direktur Utama Bank NTT: Ubah Cara Kerja Konvensional ke Digital
HARI INI Bank NTT merayakan ulang tahun ke-58. Usia tersebut sudah cukup matang
POS-KUPANG.COM - HARI INI Bank NTT merayakan ulang tahun ke-58. Usia tersebut sudah cukup matang. Walau demikian, usia tersebut tentunya tidak hadir begitu saja, selain ditempa sejumlah persoalan, kepiawaian dalam pengelolaan dan manajerial serta membidik peluang-peluang untuk terus berkembang.
Untuk mengetahui sepak terjang Bank NTT yang memiliki tagline Melayani Lebih Sungguh ini dan berbagai aktivitasnya dalam menyambut ulang tahun ke 58 ini, Wartawan Pos Kupang, Ani Eno Toda dan Vemy Leo mewawancarai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexsander Riwu Kaho di ruang kerjanya, pada Rabu 8 Juli 2020. Berikut petikannya :
Apa yang akan bapak lakukan ke depan untuk membangun Bank NTT?
Saya mau mengubah model pelayanan dari konvesional ke digitial atau online tapi secara bertahap. Kita akan luncurkan dalam bentuk aplikasi. Dan bagi yang sudah punya aplikasi itu bisa langsung on boarding dalam artian mereka bisa melakukan permohonan melalui aplikasi mobile banking tersebut. Pemohon bisa tahu dengan jumlah penghasilanya dia bisa mendapatkan pinjaman berapa banyak, kalau semua persyaratan sudah oke tinggal ke kantor dengan menunjukan aplikasi yang sudah beres dan diproses.. Ini memudahkan nasabah.
• Warga Keluhkan Lampu Jalan yang Tidak Berfungsi
Selain itu di dalam aplikasi tersebut nasabah juga bisa mengetahui data-data asuransi dan juga data lainnya yang dibutuhkan sesuai permohonan yang diajukan. Akan kita finalisasi hingga tanggal 17 Juli 2020 bertepatan dengan ulang tahun kita yang ke-58. Untuk keamanan data juga kita sudah bekerjasama dengan Dirjen Dukcapil dimana semua digiring berbasis NIK one single identity. Dan aplikasi ini juga sudah terkoneksi langsung dengan Cybercrime, Imigrasi dan banyak pihak. Semuanya sudah terverifikasi dengan sangat baik dan terpantau.
• Resmikan RSUD Borong, Bupati Agas: Rumah Sakit untuk Kebutuhan Masyarakat
Aplikasi ini terkoneksi dengan NIK sampai ke ATM juga modulnya kita sesuaikan dengan ketentuan yang ada. Kalau dia di rumah dia bisa masukan persyaratan di dalam aplikasi tinggal datang ke kantor untuk finalisasi dan pencairan.
Bagaimana dengan usaha mikro?
Kalau mikro sudah ada kerjasama dengan BI. Untuk NTT mereka sudah siapkan marketplace sehingga UMKM yang sudah lolos sertifikasi maksudnya SNI, BPOM, Depkes bisa tergabung. Marketplace ini juga terkoneksi dengan banyak jaringan. Kita ke Sinode GMIT waktu itu untuk memperkenalkan terobosan ini dan sambutanya begitu baik dimana masih banyak jemaat yang datang untuk berjualan dengan membawa langsung komoditi yang mau dijual. Nah melalui aplikasi ini semua akan dimudahkan dan kita juga bekerjasama dengan Sinode agar melalui para pendeta, jemaat bisa diberi pengertian untuk menggunakan aplikasi ini agar mempermudah pengendalian uangnya. Memang tidak mudah tapi saya yakin dengan edukasi dan sosialisasi yang masif maka ini akan terserap dan terlaksana dengan baik.
Apa saja yang masih harus dibenah untuk terus menjaga eksistensi Bank NTT?
Banyak hal saat ini yang memang harus diubah secara internal seperti SDM, sistem dan prosedur fleksibility dan dinamisnya harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Hal pertama yang dilakukan ada perbaikan SDM dan kita sudah bekerjasama dengan LPII. Kami harus segera mensertifikasi analisis-analisis kredit, jadi jenjang karir analisis kredit harus diatur supaya daya tingkat risiko yang makin tinggi ini bisa segera diadaptasi.
Selain itu di bagian penilai agunan mereka juga harus disertifikasi dan saya minta dua yaitu konvensional dan digital selain itu juga independensi dan tanggung jawab sehingga bisa merangsang mereka untuk bekerja lebih baik lagi dalam melayani masyarakat.
Apa tantangan terbesar dalam pengelolaan Bank NTT?
Tantangan digitalisasi. Walaupun ini bersifat eksternal tapi punya dampak juga ke internal kita. Jadi mau tidak mau kita harus siap dalam hal ketahanan kelembagaan, daya saing, dan daya tumbuh. Dan semua hal ini berujung pada kesiapan modal, dari modal tersebut bisa menentukan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan oleh bank.
Makanya oleh otoritas dikelompokan menjadi 4 bank yaitu Buku 1, Buku 2, buku 3 dan buku 4. Untuk buku 1 modal inti minimum 1 triliun, buku 2 berjumlah 1-5 triliun, buku 3 berjumlah 5-15 triliun dan buku 4 berjumlah di atas 15 triliun. Bank NTT termasuk buku 2. OJK juga sudah menentukan bahwa inti minimum modal kita harus Rp 3 triliun supaya bisa menjawab dunia luar yang begitu dinamis saat ini. Nah kecepatan memenuhi modal inti minimum inilah menjadi salah satu tantangan internal kita.Tantangan internal kedua adalah SDM dan semua ikutannya yaitu kompetensi dan skill dan juga attitude.Tantangan berikut adalah daya saing yang berkaitan dengan produk dimana kita harus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar. Kita butuh produk yang bisa adaptasi dan juga fleksibel dengan kondisi saat ini. Dan tentu ini bukan hal yang mudah dimana di dalamnya ada aspek lain yaitu bagaimana harganya, bagaimana promosinya, bagaimana orangnya, bagaimana tempatnya dan lain-lain. Di sisi lain ada juga tantangan berupa regulasi-regulasi. Karena masing-masing punya persepsi berbeda tentang regulasi ini, kita dalam dunia bisnis mau tidak mau harus beradaptasi dengan cepat dan cerdas. Selain itu ada tantangan geografis. Tapi dengan pola saat ini semua desentaralisasi berpusat ke daerah dan bahkan desa dan kita sudah hadir di situ dan ini keunggulan tersendiri untuk Bank NTT.
Bagaimana dengan persoalan kredit macet Bank NTT?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/plt-direktur-utama-bank-ntt-harry-alexander-riwu-kaho.jpg)