News
Astaga, Pelabuhan Nangakeo Tidak Terurus, Kaca di Ruang Tunggu Pecah, Ada Tulisan tak Senonoh Lagi
Kondisi Pelabuhan Nangakeo, Kabupaten Ende, amat memerihatinkan. Semua fasilitas pelabuhan yang terletak di Desa Bhera Mari itu sudah rusak parah.
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Oris Goti
POS KUPANG, COM, ENDE - Kondisi Pelabuhan Nangakeo, Kabupaten Ende, amat memerihatinkan. Semua fasilitas pelabuhan yang terletak di Desa Bhera Mari itu sudah rusak parah.
Disaksikan Pos Kupang, Minggu (5/7), gapura menuju pelabuhan sudah berantakan, atap dan seng bergelantungan di gapura, pos jaga sudah ditutupi tumbuhan liar.
Tidak jauh dari gapura, terdapat dua bangunan, namun atap dan plafonnya sudah roboh. Sementara jalan menuju ruang tunggu dari gapura pun penuh dengan rumput liar.
Ruang tunggu pelabuhan lebih parah lagi. Semua fasilitas dalam ruang tunggu seperti meja dan kursi sudah tidak ada lagi. Tidak hanya itu semua kaca pintu dan jendela susah pecah dan berhamburan di lantai. Dinding ruang tunggu dipenuhi gambar dan tulisan, paling banyak gambar dan tulisan tak senonoh.
Sementara itu kondisi dermaga juga amat memerhatikan, pos jaga, jembatan sudah rusak parah. Tampak beberapa warga sedang memancing ikan dari atas dermaga.
Salah seorang warga, Asomon Karim terlihat sedang menjemur biji kakao di halaman belakang ruang tunggu. Saat ditemui Pos Kupang, Karim mengatakan, pelabuhan Nangakeo sudah sangat lama tidak digunakan lagi.
"Kalau tidak salah tahun 2010 itu tidak ada lagi kapal masuk di sini. Kami di sini jemur kakao di halaman ini. Kalau dalam ruang tunggu itu, memang parah sekali. Kursi dan meja tidak ada lagi ditempatnya karena sudah dicuri orang," ungkapnya.
Menurutnya sejak pelabuhan itu tidak digunakan lagi, mereka mulai jemur kakao di halaman depan ruang tunggu.
Dikatakannya, ruang tunggu pelabuhan tersebut sering digunakan warga, terutama kawula muda untuk mabuk-mabuk dan pacaran.
"Itu lihat gambar-gambar di dalam kalau sudah mabuk mereka mulai buat sembarangan," katanya.
Asomon sendiri, dulunya berharap dengan adanya pelabuhan tersebut mereka bisa punya peluang usaha atau menjadi buruh pelabuhan.
"Tetapi ini, tidak pakai lagi, ya sudah. Bangunannya mulai ada tahun 2003," ungkapnya.
Dampak lainnya sangat dirasakan pedagang asongan. Mereka dililit utang karena tidak bisa membayar cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dipakai untuk modal usaha.
Tidak hanya itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama ini dibayar Kades Bhera Mari, Pare Pua Salama, mengunakan uang pribadi.