Tes Cepat Cegah Corona

PENELITI Biomolekuler, Dr. Fima Inabuy dalam Webinar yang diselenggarakan ETIKA bersama Pos Kupang dan Forum Akademia NTT (FAN)

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ELLA UZU RASI
Moderator Webinar dari Etika, Ir. Theodorus Widodo 

POS-KUPANG.COM - PENELITI Biomolekuler, Dr. Fima Inabuy dalam Webinar yang diselenggarakan Etnis Tionghoa Kupang ( ETIKA) bersama Pos Kupang dan Forum Akademia NTT (FAN), Sabtu (04/07) mengatakan, saat ini tidak cukup hanya melakukan penanganan pada level penanggulangan.

"Jauh lebih penting adalah kita menangkap dan secepat mungkin memetakan dimana area-area yang terinfeksi virus ini dan segera mengisolasi guna mencegah penyebaran atau transmisi lokal" ujar Fima dalam Webinar yang juga diikuti sejumlah akademisi dari Universitas Indonesia, Unair, NTB dan daerah lainnya di Indonesia.

Dijelaskan, penggunaan rapid tes yang saat ini banyak digunakan dimana-mana memang ada manfaatnya tetapi tidak relevan dalam mencegah penularan virus Covid- 19 ini sejak awal.

Guru-Guru Solidaritas Beri Sumbangan, Sabtu Depan Mess Guru SD Inpres Naimata Mulai Diperbaiki

Dijelaskan, sebelum sympton tersebut muncul pada hari ke nol virus sudah berinkubasi tiga sampai empat hari sebelumnya. Dimasa ini seseorang sudah menularkan kepada orang-orang di sekitarnya dan ini terus berlangsung hingga hari ke tujuh sesudah mengalami gejala pertama. Ditahap inilah pasien akan dapat dideteksi menggunakan PCR.

Rapid tes hanya mendeteksi akumulasi antibodi seseorang terhadap virus ini meskipun
tidak secara spesifik. Mulai hari ke tujuh terus meningkat sampai hari ke sepuluh dan seterusnya dan akan menurun pada hari ke 16. Jadi di sini kita bisa lihat bahwa rapid tes itu efektif sesudah 1 minggu dan seterusnya. Tapi tidak bisa mendeteksi ketika seseorang baru saja terkena virus ini.

Kajari Maumere Jalan Kaki 2 Km Saat Kegiatan JMS di Wairbukan

"Oleh karena itu memang agak berbahaya kalau kita hanya mensyaratkan seseorang pelaku perjalanan untuk hanya menggunakan rapid tes apalagi hanya satu kali. Itu sama dengan percuma. Karena dia tidak akan terdeteksi sama sekali," jelas Fima.

Mengapa q-PCR itu penting sebagai standar yang digunakan untuk deteksi virus Covid-19, menurut penelitian ada sekitar tiga hari sejak virus itu masuk ke dalam tubuh seseorang dan periode seseorang paling infeksius atau paling menularkan itu berada pada 3 hari sebelum dia menimbulkan gejala, hingga kurang lebih 7 hari sesudah gejala muncul. Pada tahap ini rapid tes tidak mampu membantu.

"Disinilah yang menjadi concern kami. Banyak OTG, banyak career yang beredar di masyarakat kita yang tanpa kita ketahui menularkan kepada orang-orang yang punya kerentanan tinggi," ujar Fima.

Dan inilah yang ditarget dari Pooled Test dengan cara mendeteksi secepat mungkin dengan mengambil sampel dan dilakukan tes secara pool, mengumpulkan sampel dalam satu reaksi yang sama dengan tujuan menghemat biaya bahan kimia dan waktu.

Kebijakan Anggaran Keliru

Menurut moderator Forum Academia NTT, Dr. Dominggus Elcid Li, Pool Test menjadi peluang untuk mengatasi persoalan kelangkaan reagen dalam melaksanakan tes massal untuk mengetahui sebaran Covid-19 di wilayah Provinsi NTT.

"Secara garis besar kami melihat bahwa pool tes menjadi peluang untuk mengatasi kelangkaan reagen maupun hal-hal yang lain. Kita berharap dengan model inovasi teknologi ini kita akan mampu untuk memecahkan banyak persoalan terkait persoalan mikrobiologi," katanya.

Ia mengatakan, pool tes yang menjadi alternatif terbukti telah mampu mendeteksi lokus penyebaran karena mampu melakukan tes massal dalam waktu singkat.

Teknologi biomolekuler, menjadi salah satu teknologi yang bisa ditempuh menjadi terobosan dalam tes massal yang murah dan cepat. Tes tersebut dapat menjadi jalan tengah untuk melakukan pemetaan penyebaran virus.

Dikatakan, dibutuhkan tiga laboratorium yakni aniratiriun milik provinsi, laboratorium milik kota dan laboratorium milik pihak ketiga. Saat ini, kerja sama Forum Academia NTT telah mendirikan laboratorium NTT Science and technologi Institut yang akan dipimpin dr. Fima Inabuy dan dr. Alfredo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved