Breaking News:

5 Ibu Laporkan Admin Arisan Online ke Polda NTT karena Dirugikan Hingga Ratusan Juta

Lima perempuan yang berstatus ibu rumah tangga resmi melaporkan teman arisan mereka, NAK ke pihak berwajib.

POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Tim kuasa hukum korban penipuan dan penggelapan, Niko ke Lomi, Lulu B. Manoe dan Leo Lata Open. 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Lima perempuan yang berstatus ibu rumah tangga resmi melaporkan teman arisan mereka, NAK ke pihak berwajib. Pasalnya, mereka merasa telah dirugikan oleh NAK hingga ratusan juta rupiah.

Laporan tersebut dilakukan oleh kelimanya ke Polda NTT pada 28 Mei 2020 lalu. Kelima ibu rumah tangga itu masing masing SB, EKL, LP, ABZ, MBC. Laporan mereka tentang dugaan penipuan dan penggelapan itu tertuang dalam surat tanda terima laporan polisi Nomor : STTL/B/222/V/RES.1.11/2020/SPKT 28 Mei 2020.

Anita Gah Janji Mahasiswa Tidak Mampu Bisa Dapat Beasiswa

Kuasa hukum korban, Nikolaus Ke Lomi, kepada wartawan pada Jumat (4/7) malam mengatakan, kelima kliennya melaporkan NAK yang tinggal di asrama 744 Tobir, Kabupaten Belu, NTT karena dugaan penipuan dan penggelapan.

NAK dalam kasus tersebut, bertindak sebagai perintis sekaligus admin dari arisan online Nong Ariso yang dibentuk tahun 2018. Sejak pembentukan, awalnya arisan ini berjalan normal. Namun, sejak Maret 2020, arisan ini dinyatakannya macet tanpa alasan jelas. Kemacetan itu, jelas Niko, telah merugikan seluruh anggota arisan termasuk kliennya. Bahkan katanya, total kerugian yang dialami kelima korban mencapai Rp500 juta.

"Sudah ditanyakan, tetapi admin selalu beralasan bahwa member yang bermasalah," ujarnya.
Sebelumnya, para korban sudah menempuh upaya mediasi, tetapi NAK rupanya tidak beretiket baik. Ia bahkan, menantang para korban membuat laporan polisi.

Menurut dia, selain melapor NAK ke Polda NTT, korban juga melaporkan suami NAK, yang merupakan oknum anggota TNI ke polisi militer (POM). Pasalnya, ada dugaan kuat dana arisan online mengalir ke rekening suaminya.

Keterlibatan suami NAK dalam arisan online bentukan isterinya itu, bukan lagi jadi rahasia umum. Karena, sebelum arisan dinyatakan macet, suami NAK juga bertindak sebagai penagih uang nasabah yang macet pembayaran.

"Ada bukti lengkap transferan ke rekening suaminya, makanya kita laporkan ke POM. Soal jumlahnya, nanti penyidik yang ungkap. Jika laporan tidak diterima POM, kami akan laporkan ke Danrem," tegasnya.
Ia berharap penyidik Polda NTT objektif dan profesional mengungkap tuntas kasus itu, sehingga kliennya bisa mendapatkan keadilan.

"Lokusnya di Belu, tetapi laporannya ke Polda karena, kami yakin lokasi paling netral, ada di Polda NTT. Karena itu, Polda NTT harus tegas tanpa pandang bulu. Yang salah harus diproses hukum," tutupya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved