Opini Pos Kupang

"Salome" Sebagai Strategi Ketahanan Pangan Lahan Kering

Kata "SALOME" pada judul di atas terasa agak asing di telinga sebagian besar pembaca

Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Prof. Ir. Fred Benu, PhD, Rektor Undana Kupang

POS-KUPANG.COM - Kata "SALOME" pada judul di atas terasa agak asing di telinga sebagian besar pembaca, tetapi tidak demikian dengan mereka yang sudah lama terlibat dalam aktifitas pertanian lahan kering di NTT.

Kata itu sebagai singkatan dari kenyataan praktik budidaya tanaman pangan lahan kering di NTT, yang dikenal dengan menanam "Satu Lobang Rame-rame" ( SALOME).

Maksudnya, para petani lahan kering kita biasanya menanam tanaman pangan yang sedikit berbeda dari rujukan teori budidaya tanaman pangan pada umumnya yaitu menanam secara monokultur, berada dalam larikan, dan menurut jarak tanam tertentu.

Miris, 13 Puskesmas di TTS Tanpa Dokter

Para petani lahan kering kita biasanya melakukan budidaya tanaman pangan mereka dengan menanam secara campuran dalam satu lubang tanam yang terdiri dari jagung, kacang-kacangan, labu, bahkan ubi kayu. Menanam tanpa jarak tanam dan dicampur sekaligus.

Saya kembali mengangkat isu tentang "SALOME" karena banyaknya tanggapan yang muncul saat saya menyampaikan materi pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam.

Pada forum Webinar dimaksud, ada yang bertanya seolah-olah bahwa praktik budidaya seperti SALOME tidak cukup produktif dan tidak mampu memberikan jaminan ketahanan pangan bagi masyarakat NTT, khususnya pada masa pandemic Covid-19 saat ini. Tapi saya mencoba memberikan pemahaman dari sudut pandang yang agak berbeda.

Warga Positip Corona Dirawat di RSUD Waikabubak, Bupati Niga Minta Warga Jangan Panik

Walaupun saya mengakui bahwa praktik SALOME ini tidak mampu memberikan produktivitas pangan yang tinggi dibanding praktik budidaya tanaman pangan yang mono kultur, didukung oleh input produksi yang memadai (bibi tunggul, pupuk, pestisida, supalai air, dsb).

Sebagai salah satu examiners, saat ini saya sedang memberikan penilaian terhadap Thesis S3 dari salah satu PhD student di Western Australia, yang menulis tentang "Adoption and Impact of conservation Agriculture on Maize Farming." Saya memberikan komentar pada thesis dimaksud terkait praktik budidaya tanaman pangan petani lahan kering sebagai berikut:

"The traditional cultivation method such as mix cropping system practiced locally by mixing seeds of different species of food crops and plant them in one hole is not necessarily wrong. In fact, it is a kind of practice to anticipate crop failure that is if one crop fail, other crops remain to provide them food. In the region with extreme weather condition, the local farmers will put food security as the priority over income"

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved