Breaking News:

Opini Pos Kupang

Transformasi Radio guna Mempertahankan Audiens

Pergeseran pola konsumsi media yang dimulai sejak kemunculan televisi dan kini media online memberikan prediksi radio perlahan ditinggalkan

Transformasi Radio guna Mempertahankan Audiens
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Sherley Siki, Praktisi Komunikasi dan Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmus Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

POS-KUPANG.COM - Pergeseran pola konsumsi media yang dimulai sejak kemunculan televisi dan kini media online memberikan prediksi bahwa industri radio perlahan-lahan akan ditinggalkan oleh pendengar dan pengiklannya. Dalam situasi ini, industri radio telah melakukan beberapa transformasi untuk tetap mempertahankan eksistensinya.

Radio merupakan salah satu media massa yang sudah ada sejak abad ke 20 setelah surat kabar, dan menjadi media elektronik pertama yang hadir di tengah masyarakat. Media ini ditemukan pertama kali oleh seorang ilmuwan Italia bernama Gugliemo Marconi pada tahun 1896 kemudian mengalami inovasi-inovasi hingga pada tahun 1933 seorang ilmuan Amerika, Edwin Howard Amstrong menemukan sistem frekuensi FM.

Taati Protokol New Normal

Selanjutnya, kejayaan radio dimulai sejak tahun 1940-an dan menjadi sebuah media favorit masyarakat di Amerika dan mempengaruhi segala aspek komunikasi.

Di Indonesia radio menjadi media yang sangat populer dalam masyarakat setelah masa kemerdekaan tahun 1950-an. RRI menjadi satu-satunya radio pada masa tersebut yang melakukan siaran dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh daerah di Indonesia.

Radio penyiaran swasta kemudian muncul pada tahun 1960-1970-an dan saling memperebutkan pendengar tanpa adanya regulasi dan batasan dalam waktu penyiaran.  Total radio swasta di Indonesia pada tahun 1970 hingga 1988 berjumlah 227 dan meningkat hingga 280.

Begini Seharusnya Cara Masak Nasi yang Sehat Bagi Tubuh

Angka ini pun semakin meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2007 menjadi 847 stasiun radio swasta yang tercatat oleh Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) (Nugroho, Siregar, and Laksmi, 2012).

Masduki (2001) menjabarkan bahwa, iklim Industri radio pada masa pra dan awal kemerdekaan Indonesia banyak mengandung informasi perjuangan dan propaganda, namun iklim itu kemudian mendadak berubah pada zaman orde baru, radio lebih condong kepada hiburan dibandingkan pada informasi dan pendidikan.

Hal ini disebabkan karena adanya ketentuan pemerintah yang melarang radio swasta untuk memproduksi berita dan oleh karenanya harus melakukan siaran relay 5 jam dalam sehari dari stasiun milik negara. Sebaliknya dalam hal pendapatan pada tahun 1980-an dikeluarkan sebuah peraturan yang melarang media pemerintah untuk menerima iklan, sehingga radio swasta pun banyak mendapatkan bagian dalam kue iklan.

Usman (2009) menjelaskan bahwa pada tahun 1990-an persaingan antar stasiun radio untuk mendapatkan pendengar dan pengiklan sangatlah kompetitif sehingga radio-radio mencoba melakukan diferensiasi dan posisioning terhadap diri mereka sendiri seperti menjadi radio berita, radio dangdut dan sebagainya.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved