News
Temuan Pansus di Nunkolo-TTS Jaringan Air Bersih Rp 1,5 Miliar Mubazir, Marthen: Sungguh Disayangkan
Panitia khusus (Pansus) terus bekerja melakukan uji petik ke lapangan guna mencocokkan hasil kerja sebagaimana tertuang dalam LKPj Bupati TTS 2020
Penulis: Dion Kota | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Dion Kota
POS KUPANG, COM, SOE - Panitia khusus (Pansus) terus bekerja melakukan uji petik ke lapangan guna mencocokkan hasil kerja sebagaimana tertuang dalam LKPj Bupati TTS tahun 2019.
Dipimpin Ketua DPRD TTS, Marcu Mbau, dan Wakil Ketua, Yusuf Soru, Pansus LKPj melakukan uji petik di Kecamatan Kie, Nunkolo dan Amanatun Selatan.
Di Kecamatan Kie, Pansus mendapati ruas jalan Oenai-Boti yang baru dikerjakan tahun 2019 sepanjang 300 meter menelan anggaran Rp 200 juta putus akibat longsor. Ruas jalan sertu itu longsor sepanjang hampir delapan meter dan menyisakan badan jalan hanya sekitar 80 cm.
Sempitnya badan jalan yang tersisa hanya bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda motor.
Pansus LKPj mendorong Pemda TTS untuk segera memperbaiki ruas jalan tersebut agar bisa kembali dilewati kendaraan roda empat. Pasalnya, ruas jalan Oenai-Boti merupakan jalan pintas menuju tempat wisata Desa Boti.
"Kita dorong agar segera diperbaiki. Pemda perlu membangun bronjong dan mengadakan penghijauan di titik longsor. Hal ini guna mencegah terjadinya longsor susulan," ujar Marthen Tualaka, Ketua Pansus LKPJ, di kediamannya, Sabtu (6/6).
Setelah meninjau titik longsor Jumat (5/6), pansus kembali melanjutkan perjalanan ke Puskesmas Kie. Di puskesmas ini, pansus menyempatkan diri berdialog dengan para tenaga medis.
Terungkap, jika Puskesmas Kie kekurangan tenaga medis, khususnya tenaga gizi. Dua tenaga gizi di puskesmas ini merupakan tenaga magang diupah Rp 250 ribu per bulan. Selain itu, dua tenaga gizi tersebut harus melayani 13 desa di Kecamatan Kie.
Selain kekurangan tenaga gizi, Puskesmas Kie juga kekurangan mobil operasional. Saat ini Puskesmas Kie hanya memiliki satu mobil ambulans melayani 13 desa.
"Karena Puskesmas Kie tidak memiliki tenaga gizi, kita minta agar dua tenaga magang tersebut diangkat menjadi tenaga kontrak sehingga kesejahteraannya bisa lebih baik. Mengingat saat ini Pemda TTS tengah gencar menekan angka stunting dan gizi buruk. Kita juga minta agar mobil ambulans di Puskesmas Kie bisa ditambah karena puskesmas ini memiliki wilayah pelayanan yang sangat luas," ujar Marthen.
Masih dikecamatan Kie, tepatnya di Desa Nekmese, Pansus meninjau mata air Oenia. Sayangnya walaupun airnya berlimpah dan sudah terdapat jaringan perpipaan, namun belum dioperasikan untuk melayani masyarakat di Kecamatan Kie dan Amanuban.
Pemandangan serupa terlihat di Desa Fat, Kecamatan Nunkolo. Jaringan air bersih yang dibangun tahun 2019 senilai Rp 1,5 miliar mubazir.
Pasalnya, pasca diresmikan, jaringan air bersih yang menggunakan pembangkit listrik tenaga surya tersebut tak lagi dioperasikan. Akibatnya, masyarakat Kecamatan Nunkolo tak mendapat pelayanan air bersih.
"Sungguh kita sayangkan, saat bupati datang air jalan, begitu bupati pulang, air juga hilang. Padahal jaringan air bersih di Desa Fat ini dibangun dengan anggaran Rp 1,5 miliar tapi mubazir. Kita akan segera panggil Dinas PRKP untuk mengklarifikasi hal ini. Apa masalahnya. Kita berharap dua sumber air tersebut bisa segera dioperasikan untuk melayani masyarakat," tegas Marthen. *