Perlancar Perdagangan Antardaerah Pemulihan Ekonomi NTT
Wabah Corona ( Covid-19) melumpuhkan ekonomi nasional dan daerah. Saat ini pertumbuhan ekonomi NTT hanya 2 persen
Dosen Fakultas Ekonomi UKAW Kupang ini mengatakan, penyebaran virus Corona memberikan dampak pada pengangguran terbuka. Terdata sebanyak 2,8 persen atau 160 ribu tenaga kerja yang menganggur.
Sedangkan penggangguran terselubung, yang bekerja tapi tidak memperoleh upah sekitar 650 ribu atau 12 persen. Ia menyebut totalnya 800 ribuan angkatan kerja menganggur, yang terpaksa tidak bekerja.
Dampak berikutnya, lanjut Fritz, pekerja tetap, harian, basis bulanan, pelaku ekonomi berhadapan dengan opportunity cost besar karena ada potongan yang besar.
"Itu dampak nyata yang terjadi kalau mengikuti skenario. Dikatakan bahwa perekonomian akan mengalami kontraksi, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi dari 5 persen turun ke 2 persen. Ini penurunan sangat tajam. Perkiraan saya di bawah itu kalau tidak bisa melakukan recovering dengan baik. Bagaimana merespon ekonomi yang mengalami kontraksi ini," katanya.
Fritz mengatakan pemerintah memberlakukan New Normal mulai tanggal 15 Juni. Gambaran New Normal di bidang ekonomi yang dihadapi nanti sebenarnya biasa saja karena pelaku ekonomi akan masuk masa New Normal dengan cara yang sudah lazim digunakan.
Dari sisi pandang ekonomi protokol kesehatan, lanjut Fritz, butuh waktu adaptasi untuk masuk New Normal. Mereka akan berhadapan dengan permintaan pasar yang menurun, kesulitan likuiditas mau berusaha tapi tidak ada modal.
"Karena selama di rumah mereka akan makan pokok kata orang Kupang. Dengan adanya pembatasan dalam era New Normal, jaringan usaha dari hulu hilir terdekat tidak bisa lagi sambung, delivery sistem terganggu. Artinya akan terganggu, ini tiga problem utama kita," bebernya.
Untuk menghadapi New Normal, Fritz mengingatkan harus memperkuat kembali konsumsi rumah tangga, bukan dengan cara memberikan uang untuk makan tapi berikan likuiditas untuk bisa berproduksi.
Recovery
Pengamat Ekonomi Regional, Dr James Adam, MBA mengatakan, aktivitas ekonomi NTT berjalan tapi sangat lambat atau lesu. Ada aktivitas di pasar tapi perputarannya sangat lambat karena pembeli tidak ke pasar akibat ketakutan.
"Kalau zona merah, dampaknya lebih besar dan sangat kelihatan ketimbang daerah zona hijau. Tapi secara umum berdampak sangat luas," katanya.
Menurutnya, terjadi pengurangan produksi, merumahkan tenaga kerja karena produktifitas menurun sehingga efesiensinya pengurangan.
"Secara kasat mata saja sudah berdampak. Ibu mau ke pasar takut, toko-toko juga ditutup, dampaknya memang sangat besar. Dengan penyebaran ini banyak juga muncul kreativitas orang-orang tertentu. Dulu saat awal terjadi virus, susah mencari masker, tapi sekarang di segala sudut kota menjual masker. Kemudian muncul ide lagi yang baru. Artinya bahwa dengan kehadiran virus ini memberikan dampak positif pada sektor-sektor tertentu," paparnya.
Secara data pertumbuhan ekonomi, kata James Adam, seharusnya saat ini ekonomi NTT berada di angka 4 persen, tapi sekarang baru dua persen. Oleh karena itu yang menjadi permasalahannya adalah recovery.
Ia mencontohkan krisis moneter Indonesia pada tahun 89, recovery Indonesia sangat lambat. Program stimulus dari pemerintah ini yang harus disusun agar jangan terlalu terlena dengan situasi ini.