Gereja GMIT Polycarpus Atambua Buka Tanggal 21 Juni 2020. Simak Aturan yang Diterapkan

Gereja GMIT Polycarpus Atambua Klasis Belu melakukan berbagai persiapan yang berkaitan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19

POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS
Ketua Majelis Polycarpus Klasis Belu, Pendeta Maya Meza (kiri/baju kotak-kotak) didampingi Wakilnya, Pendeta Jesy Retha (baju merah) menjelaskan posisi duduk jemaat dalam gereja kepada wartawan, Rabu (3/6/2020). 

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Menjelang masa new normal yang sesuai Surat Edaran Gubernur NTT dimulai tanggal 15 Juni 2020, pihak Gereja GMIT Polycarpus Atambua Klasis Belu melakukan berbagai persiapan yang berkaitan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Gereja Polycarpus Atambua membuka kebaktian bagi jemaat mulai Minggu 21 Juni 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan. Diantaranya, jemaat wajib mencuci tangan, mengukur suhu badan sebelum masuk gereja dan wajib menggunakan masker.

Jawabi Kerinduan Umat Beragama, FKUB Sikka Gelar Rapat Bersama

Selain itu, untuk penerapan jaga jarak, petugas akan mengatur posisi duduk jemaat selama dalam gereja dengan jarak sesuai protokol kesehatan yakni satu setengah meter.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Polycarpus Klasis Belu, Pendeta Maya Meza kepada POS- KUPANG.COM saat ditemui, Rabu (3/6/2020). Pendeta Maya menjelaskan, menjelang pemberlakukan new normal, Gereja Polycarpus Klasis Belu tengah mempelajari isi Surat Edaran Gubernur NTT dan sudah melakukan rapat majelis untuk mengatur berbagai persiapan.

Bupati Niga Dapawole, Pemerintah Sumba Barat Siap Terima Kedatangan TKI

Persiapan yang dilakukan seperti menyediakan tempat cuci tangan, alat pengukur suhu badan, mempersiapkan petugas terlatih untuk mengukur suhu badan dan pengaturan posisi duduk jemaat dalam gereja.

Menurut Pendeta Maya, Gereja Polycarpus mulai membuka kebaktian bagi jemaat mulai tanggal 21 Juni 2020.

"Hari Minggu tanggal 14 hanya ibadat syukur majelis saja. Kita buka untuk jemaat hari Minggu tanggal 21 Juni 2020", kata pendeta Maya didampingi Wakil Ketua Majelis, Pendeta Jesy Retha.

Dalam hal jaga jarak, pihak gereja membatasi jumlah kehadiran jemaat saat mengikuti kebaktian dengan pola pembagian rayon dan penambahan jam ibadat, dari biasanya tiga kali menjadi empat kali kebaktian. Jadwalnya, dua kali kebaktian pagi dan dua kali sore hari.

Satu kali kebaktian dihadiri 20 rayon dengan jumlah jemaat diperkirakan 250 orang. Normalnya, kapasitas gereja Polycarpus mencapai 750 orang. Selain pembatasan kehadiran jemaat, jam kebaktian juga dipersingkat dan tidak ada lagi paduan suara.

Untuk kelancaran kegiatan kebaktian, petugas akan mengatur para jemaat untuk melakukan tes suhu badan, cuci tangan dan mengatur tempat duduk jemaat dalam gereja. Diharapkan jemaat tertib melaksanakan protokol kesehatan demi mencegah penularan Coid-19.

Ditanya mengenai ketersedian sarana pendukung yang berkaitan dengan protokol Covid-19, Pendeta Maya mengaku, saat ini sejumlah fasilitas sudah tersedia dan yang belum tersedia akan dilakukan pengadaan dalam waktu dekat.

Katanya, untuk tempat cuci tangan sudah tersedia, baik yang ukuran besar maupun ukuran kecil. Pihak gereja akan mempersiapkan sekitar 10 unit tempat cuci tangan di gereja. Kemudian, alat pengukur suhu badan akan dipersiapkan lagi dalam waktu dekat.

Pendeta Maya menambahkan, kendala yang dialami gereja saat menerapakan protokol Covid-19 adalah ketersedian air bersih.

Selama ini Gereja Polycarpus menggunakan air PDAM namun air mengalir tidak setiap saat. Jika aktivitas cuci tangan sangat tinggi maka penggunaan air bersih juga semakin banyak. Terkait kendala seperti ini, Pendeta Maya mengharapkan Pemerintah Kabupaten Belu bisa membantu suplai air bersih ke gereja satu kali dalam seminggu. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Teni Jenahas)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved