Opini Pos Kupang
Pentekosta: "Nyala Api yang Mengobarkan Iman Gereja"
Hari Raya Pentekosta adalah momentum peringatan Gereja akan peristiwa turun-Nya Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api ke atas para rasul
Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum, Alumnus Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang, Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
POS-KUPANG.COM - Hari Raya Pentekosta adalah momentum peringatan Gereja akan peristiwa turun-Nya Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api ke atas para rasul (Kis. 2:1-11).
Pentekosta dirayakan dalam kalenderium Liturgi Gereja pada hari kelima puluh setelah Paskah atau pada hari terakhir dari Minggu Paskah ketujuh.
Peristiwa ini memeteraikan janji Yesus Kristus untuk mengutus Roh Penghibur kepada para rasul demi karya pewartaan kepada segala bangsa (Bdk. Kis. 1:8).
• Pemerintah Hantar Bantuan Penanggulangan Covid-19 ke Rumah Penyandang Disabilitas
Pentekosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti "hari yang kelima puluh" (Pentekoste hemera).Dalam Perjanjian Lama, pada mulanya, umat Yahudi merayakan Pentekosta tepat tujuh minggu setelah hari panen gandum (Im. 23: 15-21; Ul. 16: 9-12).
Dalam perkembangan selanjutnya, hari Pentekosta ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Paskah Yahudi sendiri adalah perayaan Yahudi untuk mengenangkan peristiwa "Tuhan lewat" untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi dari tulah yang hendak ditimpakan kepada bangsa Mesir.
"Hari kelima puluh" itu memperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Pentekosta: Momentum Kairos bagi Para Rasul Dalam Kitab Suci, peristiwa Pentekosta dikisahkan dalam Kis. 2:1-13.
• Update Corona di TTU: Bertambah 462, Jumlah PPDP di TTU Tembus Angka 3.336 Orang
Ketika para rasul berkumpul dan berdoa bersama, tiba-tiba turunlah Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api. "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing." (Kis. 2:1-3).
Peristiwa turunnya Roh Kudus ini menggenapkan janji Yesus sendiri ketika Ia hendak naik ke Surga.
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis. 1:8).
Yesus tidak pernah meninggalkan rasul-rasul-Nya berjalan sendiri bagaikan domba tanpa gembala. Yesus sendiri bersabda: "Aku tidak akan meniggalkan kamu sebagai yatim piatu." Sebelum meninggalkan para rasul, Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai dan menguatkan mereka dalam karya pewartaan Injil. Roh Kudus yang dijanjikan Yesus itu turun pada saat hari Pentekosta.
Roh Kudus memampukan para rasul untuk berkata-kata dalam banyak bahasa. "Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya." (Kis. 2:4).
Bahasa adalah hal yang penting dalam pewartaan. Para Rasul Yesus berlatar belakang Yahudi.
Dengan menganugerahkan rahmat untuk berkata-kata dalam banyak bahasa, sebenarnya Tuhan menunjukkan bahwa Ia menyertai para rasul untuk mewartakan Injil-Nya kepada semua bangsa.
Para rasul dipanggil untuk mewartakan kabar keselamatan, tidak hanya kepada orang Yahudi melainkan kepada semua bangsa.
Roh Kudus juga mengaruniakan kepada para rasul kekuatan dan keberanian untuk menjalankan misi pewartaan. Kis. 1:8 dengan jelas mengatakan bahwa setelah mereka memperoleh rahmat Roh Kudus, mereka akan menjadi saksi Kristus di Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Mereka memperoleh keberanian untuk "keluar dari zona nyaman" (comfort zone) di Yerusalem dan bergerak ke luar Yerusalem hingga ke seluruh dunia.
Peristiwa Pentekosta adalah peristiwa kairos (rahmat) bagi para murid. Mereka beralih dari situasi "takut dan terutup" menuju situasi "berani dan terbuka". Setelah Yesus naik ke surga, para murid kehilangan sosok Guru yang selalu mereka ikuti kemana saja Ia pergi. Mereka mungkin merasa kesepian dan cemas.
Belum lagi, ancaman orang-orang Yahudi yang menganggap bahwa mereka membawa aliran sesat karena percaya kepada Yesus sebagai Mesias Allah. Roh Kudus memberikan rahmat keberanian dan penguatan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus akan senantiasa menyertai hidup dan pewartaan mereka.
Makna Pentakosta bagi Gereja; Nyala Api yang Mengobarkan Iman
1. Keberanian untuk Menjadi Saksi Kristus
Peristiwa Pentekosta juga sering dirayakan sebagai hari lahirnya Gereja. Roh Kudus mengurapi para rasul yang bersekutu dalam doa dan mengobarkan iman mereka untuk bersaksi di tengah dunia.
Peristiwa Pentekosta menandai purna tugas Yesus di dunia dan Ia telah kembali dalam persatuan dengan Bapa sebagai Pribadi Ilahi Allah Puteraserta menjadi momentum awal perutusan misioner Gereja dalam diri para murid.
"Pada hari Pentekosta selesailah Paska Kristus dalam curahan Roh Kudus. Sekarang, Ia nyata sebagai Pribadi Ilahi. Sekarang Ia diberikan dan diumumkan secara terbuka sebagai Pribadi Ilahi. Kristus Tuhan memberi Roh dalam kelimpahan." (KGK.,No. 731).
Roh Kudus memberikan rahmat keberanian dan penguatan kepada para rasul untuk menjadi saksi Kristus. Pasca peristiwa Pentekosta, para rasul memperoleh peneguhan iman. Petrus dan kesebelas rasul lain "bangkit" dan mulai memberi kesaksian (Bdk. Kis. 2:1).
Kitapun memohonkan rahmat Roh Kudus agar peristiwa Pentekosta menjadi momen berahmat bagi kita untuk bangkit dalam iman. Kita pasti akan mengalami pelbagai bentuk tantangan dan cobaan.
Namun, Roh Kudus akan senantiasa mengobarkan nyala api iman kita untuk terus berjuang menjadi saksi Kristus yang setia. Per crucem ad lucem; melalui jalan salib penderitaan menuju cahaya kebangkitan dalam Tuhan.
2. Semangat Berkomunitas dan Ketekunan Doa sebagai Senjata Cahaya
Roh Kudus turun atas para rasul ketika mereka berkumpul bersama dalam doa yang berkanjang. Apa maknanya bagi kita? Artinya, kita perlu bersatu dalam komunitas, baik dalam komunitas keluarga kita sebagai Gereja rumah tangga (ecclesia domestica)maupun dalam komunitas Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus.
Roh Kudus dicurahkan bagi orang yang terbuka untuk hidup bersama dalam damai dengan orang lain. Karunia Roh Kudus tidak menjadikan sesorang sebagai pribadi yangtertutup dan egois dengan kepentingan dirinya sendiri.
Rahmat yang diterima para rasul, yakni mampu berkata-kata dalam pelbagai bahasa tidak dimaksudkan untuk kemegahan atau kesombongan diri mereka sendiri, melainkan untuk pelayanan bagi banyak orang.
Rahmat dan talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita pun tidak boleh kita simpan untuk diri kita sendiri, melainkan dipakai untuk pelayanan kepada banyak orang.
Selain itu, peristiwa Pentekosta juga menunjukkan makna penting dari hidup doa. Doa harus menjadi senjata cahaya iman kita dalam untung maupun malang dan dalam suka maupun duka. Kita tahu bahwa Roh Kudus sendiri lah yang menggerakkan hati kita untuk berdoa.
"Roh Kudus yang melaksanakan karya Allah adalah pelatih doa." (KGK.,No. 741). Kita hanya mampu dekat dengan Roh Kudus jika kita terus setia membangun komunikasi dalam doa.
3. Peran Maria sebagai Ibu Gereja
Peristiwa Pentakosta juga menunjukkan pentingnya peran bunda Maria sebagai ibu Gereja. Dalam Kis. 1:14 dikatakan: "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." Maria telah menemani peziarahan Gereja sejak awal mula.
Yesus sendiri menyerahkan ibu-Nya kepada Gereja pada peristiwa Salib yang dilambangkan dengan penyerahan Maria kepada Yohanes.
"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu mereka menerima dia di dalam rumahnya." (Yoh. 19:26-27).
Maria selalu hadir dalam Gereja dan setia menjadi perantara doa-doa kita kepada Putera-Nya. Kita memohonkan doabunda Maria yang terus setia menyertai perjalanan Gereja.
Kita juga harus meneladani sikap iman bunda Maria yang dengan penuh ketaatan menyerahkan diri pada kehendak Ilahi. Fiat mihi secundum verbum tuum; Terjadilah padaku menurut perkataanMu (Bdk. Luk. 1:38).Fiat Maria haruslah menjadi fiat kita umat beriman.
Di bulan Maria ini, dengan berdevosi secara khusus kepada Maria, kita memohonkan rahmat Roh Kudus untuk membaharui diri kita. Sebagai pribadi istimewa yang dipenuhi rahmat Allah (gratia plena), Maria menjadi mempelai Allah Roh Kudus (sponsa Sancti Spiritus). "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Luk. 1:35).
Terang yang Bercahaya dalam Kekelaman Pandemi
Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, banyak umat beriman menjadi gelisah dan takut. Kita takut terhadap ancaman "musuh tak kasat mata" ini yang dapat mengancam hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi.
Untuk sementara, kita juga kehilangan kesempatan untuk merayakan ibadah di Gereja. Kita kehilangan kesempatan untuk bercengkerama bersamakerabat kita. Banyak juga saudara-saudari kita yang berjuang untuk menafkahi hidup mereka di tengah situasi yang serba sulit ini.
Namun, melalui peristiwa Pentakosta ini, semoga rahmat Roh Kudus tercurah dalam diri kita dan menyalakan sumbu pelita iman kita yang mungkin mulai pudar nyalanya.
Meski dalam situasi kelam pandemi Covid-19, kita harus tetap menghasilkan buah-buah Roh.
"Berkat kekuasaan Roh ini anak-anak Allah dapat menghasilkan banyak buah. Ia, yang telah mencangkokkan kita pada pokok anggur yang benar, membuat kita menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23)." (KGK.,No. 736).
Penguasaan diri untuk taat kepada protokol kesehatan, kesabaran untuk bertahan dan membatasi kegiatan luar serta kemurahan hati dalam membantu sesama yang membutuhkan di tengah situasi pandemi adalah perjuangan untuk menghasilkan buah-buah Roh Kudus yang dapat menjadi senjata cahaya dalam kekelaman pandemi ini.
Keluarga kita adalah "Gereja rumah tangga" (ecclesia domestica).Meski kebersamaan yang dirajut terbatas dalam lingkup keluarga, kita harus tetap bertekun dalam doa.
Kita percaya bahwa Roh Kudus akan menyertai kita untuk melewati masa-masa sulit ini, sebagaimana Roh Kudus pernah menyertai para rasul untuk melewati masa-masa sulit mereka. Kita diteguhkandengan janji Yesus sendiri: "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)