Salam Pos Kupang

Melitani Dampak Corona

PANDEMI Corona menghadirkan banyak dampak. Merisaukan. Terjadi kontraksi bidang ekonomi secara besar-besaran

Melitani Dampak Corona
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PANDEMI Corona menghadirkan banyak dampak. Merisaukan. Terjadi kontraksi bidang ekonomi secara besar-besaran. Media ini telah mewartakan banyak tenaga kerja NTT dari sektor formal maupun informal di berbagai daerah dirumahkan. Bahkan ada yang langsung di-PHK (pemutusan hubungan kerja).

Di Sumba Timur, misalnya, sebanyak 557 tenaga kerja menjerit. Mereka harus kehilangan pendapatan untuk menghidupi keluarganya. Pengangguran bertambah. Itu baru salah satu aspek.

Hampir semua pasar mingguan di NTT ditutup. Masyarakat kehilangan wadah untuk bertransaksi. Hasil pertanian tidak dijual, bahkan ada yang mubazir karena tak terserap di pasaran. Lagi-lagi para petani di pedesaan menjerit. Tak tahan dengan kondisi ini, rakyat TTS bersuara melalui wakil di Dewan agar pemerintah membuka lagi pasar mingguan sebagai urat nadi perekonomian. Tak selamanya rakyat hanya mau menadahkan tangan menerima bantuan sembako dari para dermawan untuk menyambung hidup, agar asap dapur tetap mengepul.

Pemkot Bedah Dua Rumah di Lasiana, Rumah Samuel Beratap Alang-alang

Bantuan sembako dan lainnya yang kini marak dilakukan oleh orang-orang yang berempati atau yang ingin menebar pesona politik hanya bersifat sementara, nikmat sesaat. Tidak mengajarkan warga untuk mandiri, tahan banting dalam masa- masa sulit seperti ini dengan melihat peluang usaha untuk menghasilkan duit.

Bantuan hanya bersifat stimulus, rangsangan, memberi energi kepada warga untuk tetap berusaha. Tinggal di rumah atau di rumah saja selama masa Covid-19 ini bukan berarti meliburkan aktivitas. Harus tetap bekerja, kreatif menghasilkan sesuatu. Bukan menjadi peminta, maaf kalau disebut 'pengemis' yang mengharapkan bantuan. Tinggal di rumah harus tetap produktif.

Lurah Liliba Tegaskan Perketat Pengawasan Terhadap Kerumunan Warga

Di sektor perhubungan, Corona menghantam semuanya, penerbangan terhenti total, jalur transportasi antarkabupaten ditutup. Sejurusnya banyak menimbulkan masalah baru. Penentu kebijakan di kabupaten menutup perbatasan antarkabupaten tanpa koordinasi.

Warta miris terungkap. Salah satunya, seorang bayi di Flores Timur harus meregang nyawa dalam kandungan ibunya karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Terlambat gara-gara jalur jalan di perbatasan Sikka-Flores Timur ditutup. Ambulans yang membawa sang ibu hamil dari Larantuka ke RSUD Maumere tertahan di titik lokasi jalan yang ditutup. Sang ibu hamil pun terlambat tiba di RSUD Maumere. Bayi tercinta meninggal dalam kandungan. Sedih. Semuanya karena salah kaprah.

Di bidang lainnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia memperkirakan penurunan tingkat okupansi di sekitar 6.000 hotel di Indonesia dapat mencapai 50 persen. Ini bisa mempengaruhi turunnya devisa pariwisata lebih dari setengah tahun lalu. Belum lagi soal impor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2020 pasti mengalami penurunan.

Dampak virus Corona juga menghadirkan inflasi. Pada bulan Maret 2020 tercatat sebesar 2,96 persen year on year (yoy) disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa harga pangan yang melonjak. Meski, terjadi deflasi pada komoditas aneka cabai dan tarif angkutan udara.

Kini, kita memulai kondisi normal baru agar masyarakat semakin efisien tidak akan menghalangi kebangkitan bisnis begitu pandemi Covid-19 usai. Yang dikhawatirkan adalah begitu pandemi corona usai, ada semacam "belanja balas dendam (revenge spending)" yang termasuk faktor yang mempercepat pemulihan kondisi bisnis.

Warga yang telah berbulan-bulan menahan diri untuk melakukan berbelanja termasuk melakukan perjalanan wisata atau kuliner, akan melampiaskannya dengan segera merealisasikan keinginan mereka, walaupun kemudian menjalani kondisi normal baru yang lebih efisien dibandingkan dengan sebelum ada virus Corona. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved