Rabu, 15 April 2026

3 Pedagang Pasar Positif Covid-19, Pasar Lembor Kabupaten Mabar Ditutup 9 Hari

Sebanyak 3 dari 7 pasien positif Covid-19 di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) merupakan pedagang di Pasar Lembor

Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Camat Lembor, Pius Baut, SE 

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Sebanyak 3 dari 7 pasien positif Covid-19 di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) merupakan pedagang di Pasar Lembor.

Sehingga, pasar tradisional tersebut akan ditutup sementara sejak 15 Mei 2020 hingga 23 Mei 2020 atau selama 9 hari.

Kebijakan tersebut diambil demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona ( Covid-19) di daerah itu.

dr. Andreas Fernandes: Bekerja di Luar Rumah Berisiko Tertular Covid-19

Demikian disampaikan Camat Lembor, Pius Baut, SE saat dikonfirmasi per telepon, Kamis (14/5/2020).

"Ditutup sementara mulai besok hingga 23 Mei 2020," ungkapnya.

Pius menjelaskan, aktivitas pasar tidak dihentikan sepenuhnya, akan tetapi para pedagang sembako masih diberikan izin untuk berjualan.

Bupati Tahun Serah Uang PRS Bagi 9 Lansia di Nonohonis

"Ada pembatasan waktu, yakni dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang," katanya.

Kebijakan tersebut merupakan keputusan yang diambil setelah pertemuan bersama dengan Forkompinda Kabupaten Mabar pada Kamis pagi.

Diakuinya, kebijakan tersebut dirasa sebagian pihak memberatkan, namun keputusan tersebut tetap akan dijalankan demi pencegahan penyebaran virus Corona di daerah itu.

"Karena pasar masih jadi biang kerumunan, sehingga sulit untuk memutuskan mata rantai penularan virus Corona. Memang sulit, tapi ini sudah keputusan yang sudah diambil," paparnya.

Pihaknya pun telah melakukan pendataan dan telah memasukkan lebih dari 400 pedagang pasar agar mendapatkan kompensasi dari pemerintah daerah melalui Disperindagkop Kabupaten Mabar.

"Ini baru usulan, sehingga kami berharap pemerintah memberikan kompensasi karena pasar ditutup," katanya.

Saat ditanya kebijakan tersebut akan mempersulit masyarakat untuk mendapatkan sembako, Pius menilai, hal tersebut tidak terlalu berdampak karena aktivitas penjualan sembako tetap dijalankan walaupun dengan pembatasan waktu.

Selain itu, pihaknya pun mendorong masyarakat agar berkreasi dengan membeli sembako di pasar dan menjual kembali sembako tersebut di desa.

"Kami yakin tidak menimbulkan dampak besar. Karena yang ditutup adalah toko pakaian dan perlengkapan yang ditutup, saya pikir masyarakat untuk sementara tidak beli pakaian pun masih bisa hidup. Itu analogi sederhananya," katanya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved