Pendidikan Indonesia Pasca Covid-19

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas 2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas 20 Mei) tahun 2020 diwarnai dengan situasi global pandemi Covid-19

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ISTMEWA
Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si 

Sebagaimana dulu, Dr. Wahidin Sudirohusodo ingin membuat perubahan pada bangsanya melalui gerakan mahasiswa kedokteran ‘Budi Utomo’.

Ada dorongan karena rasa cinta sang pahlawan akan kondisi anak-anak bangsa yang tidak bersekolah waktu itu (sebelum 1908) padahal memiliki kepandaian. Kesadaran utama yang menguat adalah pendidikan itu penting bagi kemajuan Indonesia.

Dan pada masa pandemi covid-19 sekarang ini, Pemerintah berupaya keras untuk melindungi Satuan Pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, hingga PT, yang mana hal tersebut didukung penuh oleh Para Pimpinan Perguruan Tinggi (Universitas), dengan menetapkan “masa dirumahkan”, dimana para Guru/Dosen dan Murid/Mahasiswa melaksanakan pembelajaran di rumah (home learning).

Pola Home Learning ini efektifitasnya sangat tergantung pada Para Guru/Dosen dalam menggunakan Kelas Online atau Kelas Maya, dan juga bagaimana partisipasi Murid/Mahasiswa dalam mengakses Kelas Maya tersebut.

Di titik ini, izinkan saya memberikan pendapat tentang beberapa point, yaitu :

1.   Di tengah situasi pandemi Covid-19, Lembaga-lembaga Pendidikan telah menerapkan Pembelajaran Online sebagai alternatif yang paling rasional dari antara pilihan-pilihan yang ada.

Hal ini justru memberikan kesempatan bagi Institusi bersama seluruh komponennya untuk membuat loncatan-loncatan kemajuan dalam aspek penguasaan IT (Teknologi Informasi) sesuai platform pilihan tertentu. Dalam hal ini, pola home learning dan pembelajaran online akan mendorong mahasiswa/murid untuk menguasai metode-metode pembelajaran online secara lebih baik, demikian halnya juga Para Dosen/Guru.

Dengan home learning, memang akan ada tambahan item biaya untuk pulsa data internet, namun di sisi lain, home learning justru menghilangkan item biaya-biaya yang harus disiapkan para mahasiswa/murid pada kondisi normal seperti biaya transportasi, biaya cetak/biaya penggunaan kertas karena semuanya dalam format paperless.

Dalam hal biaya pulsa data internet tersebut, kita bisa melihat ada banyak pihak telah “turut-serta” meringankan beban mahasiswa (peserta didik) yang mengalami kesulitan belanja pulsa data internet.

Seperti yang dilakukan oleh Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere yang memberikan uang virtual berupa pulsa data internet bagi para mahasiswanya; atau yang dilakukan oleh Para Alumni di beberapa Perguruan Tinggi lain di Pulau Jawa; maupun oleh Pemerintah Daerah (kabupaten maupun provinsi) tertentu.

Tindakan “turut-serta” tersebut, tidak lain merupakan bentuk kesetia-kawanan dan solidaritas sesama warga bangsa, untuk bergandengan tangan saling menolong dalam menyelamatkan pendidikan putra-putri bangsa.

Selain itu, pembelajaran online ternyata lebih efisien dalam pemanfaatan ruang dan waktu. Pengaturan waktu lebih flexibel, dan pemakaian ruang disesuaikan dengan kondisi partisipan.

Penelusuran sumber-sumber literatur pun menjadi lebih mudah bagi peserta didik, yaitu hanya melalui ujung jari yang sedang mengutak-atik smartphone sebagaimana hakekat zaman digital dalam era Revolusi Industri 4,0 maupun Society 5,0.  

Selain kebijakan pembelajaran online, banyak Institusi Pendidikan juga masih menerapkan pembelajaran offline dimana Guru/Dosen mengunduh materi-materi ajar dari internet lalu dibagikan ke peserta didik masing-masing untuk dipelajari dan dikerjakan selama masa dirumahkan; namun metode tersebut pun tetap memerlukan pulsa data internet.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved