Ramadan di Kampung Sawah

Kami Sudah Saling Menghargai

Berada di pinggir ibu kota, masuk wilayah Bekasi Jawa Barat. Hingga sekarang di kenal sebagai kampung Betawi

Editor: Kanis Jehola
(Kolase TribunStyle (Pixabay))
ucapan Marhaban ya Ramadhan 2020 

POS-KUPANG.COM - Berada di pinggir ibu kota, masuk wilayah Bekasi Jawa Barat. Hingga sekarang di kenal sebagai kampung Betawi, memiliki dua gereja tua, berusia seabad lebih. Gereja Katolik Santo Servatius, berdiri sekitar tahun 1896 dan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah berdiri sekitar 1874.

Kerukunan di Kampung Sawah, Bekasi Jawa Barat, mengalir begitu saja dalam keseharian kehidupan para warganya. Tak ada istilah "setting" dalam keakraban yang terbangun antara warga Kampung Sawah yang berbeda-beda agama dan sukunya.

Bagian Barat Kampung Sawah dibatasi oleh Kali Sunter, yang merupakan perbatasan antara Bekasi dengan DKI Jakarta. Sementara bagian Utara dibatasi Pasar Kecapi, bagian Selatan dibatasi Kampung Raden, dan bagian Timur Kampung Sawah dibatasi Kali Cakung.

BREAKING NEWS: Pemeriksaan Ulang Swab Cluster Sukabumi, Lima Sampel Positif

Praktik kehidupan yang dijalani warga Kampung Sawah mengedepankan persatuan, tali persaudaraan dan Kebhinekaan yang berbasis pada Pancasila. Tak ada umat beragama di Kampung Sawah merasa diri lebih baik dibanding lainnya.

Toleransi begitu kental menyelimuti kampung yang luasnya kurang lebih 15 kilometer persegi. Jacob Napiun (64), seorang tokoh masyarakat Kampung Sawah, mengungkap tak ada yang tahu bagaimana Kampung Sawah hingga kini terkenal akan toleransi antar warganya.

"Histori Kampung Sawah awalnya seperti apa, kakek saya pun mungkin tidak akan bisa jawab, kapan mulainya toleransi di Kampung Sawah," kata Jacob kepada Tribun saat ditemui.

Tak Miliki Handphone, Mahasiswa Politani Kupang Tidak Mengikuti Perkuliahan Online

Toleransi yang diwariskan turun-temurun. Jacob dan warga lainnya menjadi generasi pewaris dan penikmat toleransi yang sudah diciptakan generasi sebelumnya. "Kami punya kewajiban, menjaga, melestarikan apa yang kami alami sekarang ini," kata Jacob .

Kebiasaan gotong royong, menghargai, dan saling menghormati sudah menjadi budaya, bagian dari kehidupan warga Kampung Sawah.

Di Kampung Sawah, lokasi rumah ibadah besar saling berdekatan. Ada Gereja Katolik dan Masjid Agung di Kampung Sawah, yang jaraknya hanya dipisahkan jalan aspal. Dengan beragam aktifitas dan kebisingannya masing-masing. Gereja memiliki lonceng, begitu juga masjid yang selalu melantunkan azan, panggilan untuk menunaikan salat lima waktu berjamaah.

Jacob mengaku tidak tahu bagaimana proses pembangunan dua rumah ibadah bisa saling berdekatan. Menurut cerita Jacob, umat Katolik yang ada di Kampung Sawah sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni sejak tahun 1896.

"Kemudian dari GKP itu lebih tua lagi, tahun 1874. Sudah terbentuk ada di sana. Panjang bila saya ceritakan," ungkap Jacob.

"Kemudian Masjid Kampung Sawah ini baru dibangun dengan kelengkapan yang ada seperti sekarang ini pada tahun 1970an. Jadi sekitar 100 tahunan bedanya, antara pembangunan gereja dan masjid di sini," Jacob menjelaskan.

Lokasi rumah ibadah yang berdekatan ini membentuk sebuah segitiga yang berada di tengah-tengah Kampung Sawah. Warga setempat kerap menyebutnya segitiga emas Kampung Sawah. Di antara tiga rumah ibadah besar di Kampung Sawah, memiliki kekhususan masing-masing yang terus menjaga.

"Toleran itu berarti merepresentasikan banyak hal. Kebhinekaan, kemudian gotong royong juga kental dan sebagainya," jelas Jacob singkat.

Jacob bercerita, di tiga rumah ibadah ini pada hari Minggu punya kegiatan yang hampir sama waktunya. "Di Gereja Katolik setengah sembilan, di GKP jam sembilan, di Masjid ada pengajian bulanan rutin, itu juga jam sembilan pagi," kata Jacob.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved