Salam Pos Kupang

Pantulan Kemiskinan

HAMPIR sebagian besar wilayah di NTT mengalami kendala dalam proses belajar mengajar secara online ( daring)

Pantulan Kemiskinan
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - HAMPIR sebagian besar wilayah di NTT mengalami kendala dalam proses belajar mengajar secara online ( daring). Kendala tersebut di antaranya adalah persoalan listrik di NTT yang masih belum merata hingga semua desa di NTT ini.

Tidak adanya jaringan listrik di beberapa wilayah di NTT dapat terlihat dari masih rendahnya elektrifikasi di NTT yaitu belum mencapai angka 80 persen. Oleh karena itu, maka PT PLN NTT terus menggenjot tingkat elektrifikasi dengan berbagai terobosan seperti program diskon 50 persen biaya penyambungan layanan pasang baru untuk konsumen golongan tarif daya R1-450 VA dan R1-900 VA yang terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan/atau yang berada di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T).

Harga Gula Naik Drastis di Pasar Danga

Akibat ikutan dari belum mencapai 100 persennya elektrifikasi di NTT sudah terlihat jelas dalam berbagai ungkapan guru-guru di NTT terkait pelaksanaan belajar dari rumah bagi siswa-siswi tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK saat pandemi Covid-19 ini.

Keluhan masyarakat itu adalah tidak adanya handphone dan televisi sehingga tidak bisa mengakses belajar online yang disampaikan guru maupun yang disiarkan melalui radio dan Televisi Republik Indonesia (TVRI).

(Re)orientasi Kartu Prakerja

Kondisi inilah yang mendorong beberapa guru di daerah untuk bersikap proaktif dengan mendatangi rumah-rumah siswa guna memberikan materi pelajaran di rumah. Seperti yang terjadi di di Desa Riit, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.

Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Riit mendatangi rumah muridnya, memberi pelajaran, penugasan dan mengambil kembali hasil pekerjaan murid. Kagiatan serupa dilaksanakan stiap hari oleh guru. Soal-soal penugasan bersumber dari buku mata pelajaran.

Menurut Kepala SDN Riit, Fransiskus Dominikus selama bulan Maret 2020, pelajaran yang bisa dilaksanakan hanya untuk murid kelas IV. Sedangkan pada April, berlangsung serentak kepada 182 murid kelas I-VI. Kunjungan guru ke rumah murid lumayan berat dengan kondisi topografi. Namun, pilihan ini paling mungkin dilaksanakan dibanding menggunakan Hp android.

Apa yang dilakukan guru-guru SDN Riit dan beberapa sekolah lainnya yang sudah pernah diberitakan Pos Kupang hanya mau menjelaskan bahwa kondisi NTT masih belum bebas dari persoalan penerangan dan masih bergelut dengan kemiskinan.

Selain itu, kehadiran guru ke rumah-rumah siswa membawa pesan yang sangat berarti untuk pemerintah yaitu, bangunlah kelistrikan untuk rakyat sehingga rakyat bisa menggunakan kehadiran listrik tersebut untuk membangun ekonominya. Jika warga belum mampu membayar biaya pemasangan baru maka pemerintah harus hadir untuk membantu rakyatnya.

Selain itu, dengan kehadiran guru di rumah-rumah murid tersebut tentunya sangat tidak efektif dan cukup melelahkan. Oleh karena itu, perlu juga dipikirkan untuk menghadirkan siswa-siswi kurang dari 10 orang untuk diberikan materi pelajaran dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah.

Hanya dengan cara itu, maka proses belajar mengajar masih bisa terus dilakukan di tengah pandemi Covid-19 ini. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved