BBPP Kupang

P4S Abdilaboratus : Siapa Bilang Lahan Kering Tak Bisa Budidaya Apel India

Kementerian Pertanian akan konsisten mendukung tumbuh kembang, serta mengawal P4S melalui Pembinaan, pemberdayaan serta pengawalan

Editor: Rosalina Woso
zoom-inlihat foto P4S Abdilaboratus : Siapa Bilang Lahan Kering Tak Bisa Budidaya Apel India
dok BBPP Kupang
P4S Abdilaboratus yakni membudidayakan Putsa atau Apel India yang lebih dikenal oleh masyarakat NTT adalah Kom Apel.

P4S Abdilaboratus : Siapa Bilang Lahan Kering Tak Bisa Budidaya Apel India

POS-KUPANG.COM--Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta para petani di Tanah Air agar lebih mandiri dan maju. Hal ini akan memengaruhi beragam hasil pertanian sehingga bisa diolah menjadi produk-produk lain yang bernilai tambah

"Mandiri itu berarti semua bisa disiapkan dengan kemampuan dan kekuatan kita sendiri," kata SYL

Kementerian Pertanian akan konsisten mendukung tumbuh kembang, serta mengawal P4S melalui Pembinaan, pemberdayaan serta pengawalan untuk kemajuan P4S Binaan BPPSDMP.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi menegaskan terkait penyediaan sektor pangan yang tak boleh berhenti ini menjadi wujud semangat petani terus berproduksi ditengah pandemik Covid 19.

“ P4S atau petani harus terus berinovasi sehingga petani dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi, karena kemajuan pertanian suatu negara tergantung pada kemampuan SDM” ujar Dedi

Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) menjadi salah satu lokasi bagi petani untuk belajar. Karena itu, P4S harus kritis, kompetitif, kreatif, Inovatif, komunikatif dan kolaboratif di segala keadaan.

Hal itu pula yang telah dilakukan oleh P4S Abdilaboratus yaikni membudidayakan Putsa atau Apel India atau yang lebih dikenal oleh masyarakat NTT adalah Kom Apel.

Menyebut Apel India tentu asing ditelinga kebanyakan orang khusus di NTT. Sesungguhnya Apel India ini merupakan hasil persilangan antara batang bidara atau kom (bahasa Kupang, red) lokal yang bisa ditemukan dimana-mana di NTT dengan kom apel yang selama ini banyak dikembangkan di Semarang, Jawa Tengah.

Jika selama ini orang lebih banyak mendatangkan bibitnya dari Semarang maka saat ini sudah bisa dikembangkan oleh P4S Abdilaboratus yang di nahkodai oleh Yohanes Lalang di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah.

Yohanes Lalang menuturkan, salah satu usaha yang jadi tren sekarang adalah kom apel. Kom lokal memang ditemukan dimana saja disetiap daerah yang tumbuh liar di hutan-hutan

Buah kom lokal biasanya kecil-kecil tetapi kom apel buahnya agak besar seperti buah tomat. Untuk menghasilkan buah kom apel ini, kata Yohanes, tidak susah karena dirinya sudah melakukan ujicoba

Yohanes yang juga Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dampingan Balai Besar Penyuluhan Peternakan (BBPP) Kupang ini mengatakan, tanaman kom apel memang masih langka.

Untuk mendapatkan anakan kom apel harganya Rp 100.000/anakan karena bermanfaat cukup besar
Ternyata berhasil sehingga saya pikir kita tidak perlu datangkan lagi dari Jawa karena kitapun bisa kembangkan di NTT," katanya

Yohanes menuturkan, baru-baru ini pihak Undana mengambil 60 anakan kom apel yang dikembangkannya. Dia berencana pada tahun 2020 ini akan mengadakan 2.000 anakan kom apel karena harganya sedang "naik daun". Keunggulan dari kom apel yang dikembangkannya ini, dalam 4-5 bulan sudah bisa berbuah dan rasanya seperti buah apel.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved