Opini Pos Kupang

ORA ET LABORA

Covid-19. Dia bagai seorang gadis. Usianya 19 tahun? Dia lagi manggung. Panggungnya itu dengan sangat mudah dia gelar di mana-mana

ORA ET LABORA
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: P. Wilfrid Babun SVD

POS-KUPANG.COM - Namanya Covid-19. Dia bagai seorang gadis. Usianya 19 tahun? Dia lagi manggung. Panggungnya itu dengan sangat mudah dia gelar di mana-mana. Ke mana dia mau. Suka-suka dia. Pentasan tunggal. Lakonnya horor. Semua mata diharuskannya untuk tidak kedip, menatap dalam diam seribu bahasa.

Itulah namanya, panggung kematian. Makanya, bikin panik. Dunia berisik. Manusia, siapa pun dia, menggigil di satu sudut ruang kosong eksistensial. Batinnya duduk terpekur sambil kalkulasi tentang apa arti semuanya ini!

NAMAKU: ASON SOFIAN

Apakah betul 19 tahun? Entahlah. Saya juga tidak mau pusing dengan cari tahu. Mungkin seperti saya, anda juga lagi makan gigi. Kita pun berguman sendiri: `korona go to hell with all your poisons'. Saya tidak tau, apakah mbak Google pun masih berani menjawab. Kalau betul seksi dan berusia 19 tahun, korona itu parasnya persis bagaimana? Perilakunya yang mengerikan ini membuat temanku menyindir.

Korona jenis kelamin apa? ...banci! Ah, itu tidak etis. Tetapi itulah fakta lain, gumam manusia yang lagi `otw' di ruang publik. Ada lucu, tetapi terbanyak ada linang air mata menggumpal di hati.

Melihat Aktivitas Ramadhan di Ende Agustinus Sahur dan Buka Puasa Bersama Istri

Mengapa tidak. Ada banyak nyawa melayang disambar petir korona siang malam.`Menangislah maka kau akan menangis sendiri. Tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu'(Maurus: Anekdot Orang-orang Besar, hlm.v). Anekdot itu juga perlu dan terkadang penting sebagai pembersihan jiwa. Katarsis. Lagak Covid-19 yang mematikan itu menyedot perhatian dan energi sosial manusia yang menghuni planet bumi ini. Negara-negara pun bahu membahu `menyingsing lengan baju' bekerja sama. Ruang publik pun disesaki dengan berbagai informasi.
Dari yang menghibur tetapi juga ada yang mengibul. Kerja hebat teknologi komunikasi menjadikan dunia ini segitu simple. Cerita di dunia yang satu bisa dengan sangat mudah kita akses. Seorang mama tua di kampung bilang ke anaknya di belahan dunia lain:'eh kau tidak perlu datang. Kau punya muka beta su lihat na. Apalagi sekarang ada penyakit kodorona'. Cucunya bisik: `bukan kodorona nenek: Korona!'

Covid-19 yang kecil itu menggegerkan dan menggelisahkan dunia. Berita aktual kasus positif korona di 10 negara dengan kasus tertinggi pun bisa kita penjet dan baca. `Amerika Serikat sudah 305 ribu, Italia 119 ribu, Spanyol 117 ribu, Jerman 85 ribu, RRT 83 ribu, Perancis 63 ribu, Iran 53 ribu, Inggris 38 ribu, Turki 20 ribu, Swiss 19 ribu' (times.com). Untuk menghadang pernyebaran wabah virus korona, solidaritas gerakan mengusung kemanusiaan lintas negara muncul di mana-mana. Korona juga berhasil mengakrabkan kembali, biar sejenak, dua sahabat yang lagi konflik. Bersatu itu memang indah. Itu semua kita tahu dalam tempo sekejap.

Dunia ini terasa kecil. Itulah global village versi Marshall MacLuhan. Covid-19 yang kecil itu seakan mengecilkan dunia dan manusia. Kita berhimpit-himpit di ruang publik seraya menunggu: entah lonceng maut atau dentang gereja yang pintunya tertutup rapat di hari-hari ini.

Takut virus. Covid-19 yang seksi itu mengharuskan pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar/ PSBB dalam rangka percepatan penanganan Coronavirus Disease 2019. Tujuannya untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit kedaruratan kesehatan masyarakat.

Ada upaya serius preventif lonjakan jumlah pasien penyakit ini di Indonesia. Saya kira, dia yang sedikit tidur di hari-hari sulit ini, mungkin sekali, salah satunya adalah pak Joko Widodo: Presiden kita yang ramping tetapi tegar. Slogannya:'kerja, kerja, kerja' nampaknya signifikan. Hic et nunct.

HOMO ORANS

Corona-19 ini tidak hanya menjadi perbincangan dan kerja eksternal: di dunia publik. Epicentrum kehidupan rohani kita pun hari-hari ini teruji betul. Sholat Jumaatan tidak digelar.

Gereja sunyi. Azan terdengar jauh dari rumah. Lonceng gereja samar-samar membelah sunyi. Mendekat ke mesjid kita cemas.. Ke halaman gereja saja pun kita jadi mawas. Padahal tempat-tempat sakral itu sangat kita butuh. Kita butuh simbol dalam hidup. Dekat dengan sesama, kita saling jabat tangan. Saling menguatkan Sekarang? Dia yang kita imani terasa sangat jauh. Menyebut namanya yang kudus, lidah terasa kelu. Ke Langit kita kibarkan suara: save our soul. Kita berlama-lama di kesunyian diri. Entah untuk apa? Killing time? Sampai kapan?

Pada tanggal 27 Maret 2020, umat Katolik seluruh dunia berdoa bersama Paus Fransiskus, mohon berkat perlindungan dari Allah atas merebaknya wabah penyakit. `Lindungilah dan peliharalah kami agar segera terbebaskan dari wabah virus korona. Anugerahkanlah kesembuhan bagi semua yang terjangkit, berilah istirahat kekal kepada mereka yang berpulang dalam damaiMu'. Doa bersama di ruang sunyi, publik, sambil paus Fransiskus memberikan berkat `urbi et orbi'. Berkat apostolik paus ini sifatnya universal.'Bantulah para tenaga medis, para dokter dan perawat, para relawan dan saudara yang merawat pasien agar mereka tabah dan tegar dalam upaya mereka membantu sesama. Jagalah mereka dan seluruh sanak saudaranya agar tetap sehat dan aman sentausa'. Juga ada doa untuk para pemimpin bangsa dan agama:'agar mampu mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan efektif dalam menangani wabah virus corona dan dampak-dampaknya. Semoga mereka mampu melibatkan seluruh warga untuk bersatu padu meningkatkan kepedulian dan solidaritas serta mengambil sikap yang tepat.'. Lalu ada litani doa, juga untuk Santa Corona: `santa Corona dan santo Viktor: doakanlah kami!'. Pasti banyak lantunan doa yang kita persembahkan di berbagai kesempatan, oleh berbagai pihak terkait wabah Covid-19.

Saya teringat puisi Chairil Anwar ini: Doa. `Tuhanku/ dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu/ Biar susah sungguh, mengingat Kau penuh seluruh/ CahayaMu panas suci/ tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/ Tuhanku, aku hilang bentuk/ Remuk/.../ Tuhanku di pintu-Mu aku mengetuk/ Aku tidak bisa berpaling'. Kita adalah paduan elok: homo orans sekaligus homo faber. Ora et labora! (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved