Melihat Aktivitas Ramadhan di Ende Agustinus Sahur dan Buka Puasa Bersama Istri
Bagi masyarakat Kabupaten Ende toleransi bukan sekedar basa basi namun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dari rumah tangga
Penulis: Romualdus Pius | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | ENDE - Bagi masyarakat Kabupaten Ende toleransi bukan sekedar basa basi namun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dari rumah tangga. Hal ini setidaknya ditunjukan oleh keluarga, Dr dr Agustinus G Ngasu, M.Kes, Mmr.
Pria yang akrab dipanggil, Gusti sehingga terkesan agak Bali namun nama baptisnya adalah Agustinus mengaku telah 24 tahun menemani sang istri, drg Muna Fatma, M.Kes untuk sahur maupun buka puasa bersama.
Hal itu dilakukan karena sang istri adalah seorang Islam yang taat, sedangkan dirinya adalah seorang yang beragama Katolik.
• Bupati Robby : Kehadiran Mall di Maumere Demi Kemajuan Masyarakat Sikka
Kepada POS-KUPANG.COM, Jumat (24/4/2020) di Ende, Gusti demikian sapaannya mengatakan bahwa meskipun keduanya berbeda agama namun selama menjalani kehidupan rumah tangga selama 24 tahun tidak pernah ada perbedaan atau pertentangan yang bernuasa agama.
Agustinus mengatakan bahwa dalam membina rumah tangga meskipun berbeda agama namun hal itu tidak untuk dipertentangkan namun dijalani sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing.
• Hari Ini Terakhir Bagi Maskapai Layani Penumpang di Bandara Atambua
Sebagai satu rumah tangga yang memiliki keyakinan berbeda maka didalam rumah mereka juga terdapat simbol agama yang juga berbeda namun dibiarkan berdekatan.
"Iya di rumah ada kitab suci, Alkitab juga Alquran dan buku-buku doa baik dalam Agama Islam dan juga Katolik," kata Agustinus.
Saat-saat seperti ini ketika istri sedang berpuasa karena memasuki Bulan Ramadhan maka pada saat istri sahur dan juga buka puasa maka kami satu keluarga juga ikut sahur dan buka puasa bersama ujar Gusti.
Karena kehidupan yang dilandasi dengan cinta kasih maka selama menjalani biduk rumah tangga selama 24 tahun tidak ada konflik dalam keluarga karena masalah agama.
"Bahkan ketika ada doa bergiliran di rumah seperti doa Rosario setiap Bulan Mei dan Oktober, sang istri juga sibuk untuk mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan doa seperti meja doa maupun hal lainnya," ungkap Gusti.
Pesan penting yang hendak disampaikan adalah bahwa agama adalah urusan pribadi untuk dihati didalam hati dan perilaku sehari-hari bukan untuk diperdebatkan.
Warga lainnya,Irfan yang berasal dari Desa Koanara, Kecamatan Kelimutu,Kabupaten Ende mengaku meskipun dirinya hidup diantara mayoritas warga yang beragama Katolik namun dirinya merasa tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif yang berlatar belakang agama.
Bahkan tidak saja hidup dengan warga yang beragama lain dalam kehidupan keluarga, Irfan mengaku dirinya dikelilingi oleh saudaranya yang beragama Katolik.
Irfan mengaku bahwa pada saat Puasa seperti ini terkadang ibunya yang beragama Katolik menyiapkan sahur untuk dirinya.
"Bagi saya semangat toleransi bagi orang lain dan daerah lain mungkin baru tataran kata-kata namun saya telah menjalani dan mengalami sendiri," kata Irfan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/melihat-aktivitas-ramadhan-di-ende-agustinus-sahur-dan-buka-puasa-bersama-istri.jpg)