Breaking News

Opini Pos Kupang

NAMAKU: ASON SOFIAN

Tribunnews mencatat di head line beritanya: `Viral seorang ayah jual HP Rusak Rp10 ribu untuk beli beras 1 kg

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Dan kenapa Ason berbuat demikian? Wabah covid-19 membuat penghasilan ekonominya berantakan. Dia tidak mau tahu, harus berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan hapenya yang rusak. Saya membayangkan ini: jangankan ada yang beli, bertanya saja, mungkin tidak. Ada catatan tentang Ason. Dia pernah bekerja di bengkel.

Namun kini ia sudah tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Isterinya bekerja di pembuatan tempe. Kelima anak Ason yang tinggal di kavling Kamboja, Blok B1 Nomor 87 RT 04 RW15 kelurahan Sei Pelenggut, Kecamatan Sagulung Batam tak ke sekolah dengan alasan tak punya .Salah satu anak penyandang disabilitas. (twitter akun @elsyandria). Beban Ason memang luar biasa. Dia harus bertarung nyawa sendiri untuk menafkahi 7 orang: isteri, 5 anak dan dia sendiri. Beban fisik dan psikhis.

Ason sangat mengalami faktual, apa artinya kegetiran hidup. Di depan ke lima anaknya itu dia sementara memberikan satu kuliah nyata tentang filsafat esksitensial: apa itu hidup. Tentang hak-hak dasar manusia: sandang, pangan, papan.

Di hadapan ruang lingkup hak-hak asasi itulah kemanusiaan seorang Ason terkepung. Tatapannya hanya sejangkau bayang-bayang. Cerita Favela, temanku di Brasil tiba-tiba menyeruak alam sadar. Satu tumpukan rumah dan himpitan manusia yang disusun berderet-deret; ada bayangan luka fisik, psikhis etc terpapar dari kegelisahan aneka wajah.

`Orang-orang miskin di jalan/yang tinggal di dalam selokan/ yang kalah di dalam pergulatan/ yang diledek dalam impian/ janganlah mereka ditinggalkan..'.(Rendra:Potret Pembangunan Dalam Puisi, dalam `Orang-Orang Miskin', hlm.82-83). Ason dkk: janganlah juga ditinggalkan! (*)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved