Opini Pos Kupang
NAMAKU: ASON SOFIAN
Tribunnews mencatat di head line beritanya: `Viral seorang ayah jual HP Rusak Rp10 ribu untuk beli beras 1 kg
Oleh: Wilfrid Babun SVD
POS-KUPANG.COM - Pasti banyak dari kita tidak tahu, siapa dia. Tribunnews mencatat di head line beritanya: `Viral seorang ayah jual HP Rusak Rp10 ribu untuk beli beras 1 kg, ternyata anak-anaknya belum makan' (Kamis 16 April 2020).
Siapa yang berani mau hp yang begitu? Hanya orang kurang kerjaan, atau mungkin tidak waras saja yang mungkin membelinya.
Berita selalu punya makna! Ada poin penting: bagaimana sang ayah itu sungguh mengasihi dan mencintai anak-anaknya. Justru di hadapan mata anak-anaknya itu seorang ayah dengan sangat serius menunjukkan apa itu cinta.
• Melihat Aktivitas Ramadhan di Ende Agustinus Sahur dan Buka Puasa Bersama Istri
Perhatiannya sungguh luar biasa. Bapak berusia 48 tahun ini seakan mau mengatakan cinta kasih itu bukanlah rangkaian kata-kata manis; Bukan kotbah elok dari mimbar penerimaan sakramen nikah. Bukan juga janji nikah di depan penghulu. Tetapi cinta itu kerja. Cinta itu kerja nyata.
Dan banyak kali harus dimulai dan dirawat di kedalaman hati. Ason seakan mengingatkan kita bahwa anak adalah masa depan. Masa depan ditentukan saat kini. Sekarang. Yang dikerjakan sekarang dengan baik, pasti kemudian akan memetik hasilnya juga dengan baik.
• Bupati Robby : Kehadiran Mall di Maumere Demi Kemajuan Masyarakat Sikka
Tidak ada satu kebaikan yang jatuh dengan sendirinya dari langit. Tetapi kualitas kebaikan dan kualitas hidup selalu harus dikerjakan, mulai kini.
`Orang yang menabur dengan menucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak- sorai. Orang yang berjalan dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya"(Maz.126: 5-6). Memang itulah hidup.
Dan itu jugalah yang bisa kita saksikan, kerja dari seorang Ason. Tidak tahu, hape itu milik siapa. Entah isterinya, atau dari kelima anaknya, atau dia beli di-loak?
Dan `transaksi ekonomi yang belum jelas itu ' terjadi di saat kritis dan krisis. Saya kira ada linangan air mata yang sangat disembunyikan Ason di pelupuk matanya.
Dia tidak mau anak-anaknya melihatnya dengan nyata. Dan ini cerita banyak dari orangtua kita. Mereka berkorban mati-matian untuk anak. Saat duduk bersama di tungku api, anak bertanya: kenapa menangis. Sang mama menyahut sambil menghindar dari pandangan anaknya ke lain tempat dan menjawab sekenanya: `ada asap api yang merangsang kelopak mata mama!' Sang anak tetap curiga.
Tetapi itulah. Orangtua kita selalu cerdas menyembunyikan air mata. Kalau ada susah, itu biasa mereka bawa serta dalam rona-rona mimpi malam nun lelap. Terkadang juga mengelayut dalam igauan tengah malam.
Koran memang menulis Ason ini dengan sangat bijak sana, imaginatif dan juga emosional:'jual hp untuk anaknya yang belum makan'. Bukan untuk dirinya. Yang butuh itu anaknya. Untuk satu yang sangat eksistensial: untuk hidup satu generasi. Jumlahnya tidak seberapa: 1 kilogram. Tidak banyak. Pas-pas. Ason mengingatkan saya penggalan doa berkuatan dasyat Sang Guru. `..berilah kami rejeki secukupnya pada hari ini'.
Secukupnya: satu protes untuk dunia yang glamour, hedonis, materialistis dan kapitalis. Ason dan aksinya adalah satu potret telanjang wajah dunia. Tetapi satu protes, suara profetis paling menyalak tentang kita.
"Masyarakat dunia saat ini diperhadapkan dengan pelbagai masalah utama yang hanya bisa diatasi dengan solidaritas global: kerusakan alam, migrasi, HIV/ AIDs dan kemiskinan" (Daven:"Gereja sebagai Global Players dan Solidaritas Global dengan Kaum Miskin",dalam Dr. Max Regus dkk. Lakukanlah Semua Dalam Kasih, hlm.127). Dan makan, soal perut adalah salah satu hal penting. Itu juga menentukan eksitensi kehidupan manusia. Juga Ason sekeluarga.
Dan kenapa Ason berbuat demikian? Wabah covid-19 membuat penghasilan ekonominya berantakan. Dia tidak mau tahu, harus berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan hapenya yang rusak. Saya membayangkan ini: jangankan ada yang beli, bertanya saja, mungkin tidak. Ada catatan tentang Ason. Dia pernah bekerja di bengkel.
Namun kini ia sudah tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Isterinya bekerja di pembuatan tempe. Kelima anak Ason yang tinggal di kavling Kamboja, Blok B1 Nomor 87 RT 04 RW15 kelurahan Sei Pelenggut, Kecamatan Sagulung Batam tak ke sekolah dengan alasan tak punya .Salah satu anak penyandang disabilitas. (twitter akun @elsyandria). Beban Ason memang luar biasa. Dia harus bertarung nyawa sendiri untuk menafkahi 7 orang: isteri, 5 anak dan dia sendiri. Beban fisik dan psikhis.
Ason sangat mengalami faktual, apa artinya kegetiran hidup. Di depan ke lima anaknya itu dia sementara memberikan satu kuliah nyata tentang filsafat esksitensial: apa itu hidup. Tentang hak-hak dasar manusia: sandang, pangan, papan.
Di hadapan ruang lingkup hak-hak asasi itulah kemanusiaan seorang Ason terkepung. Tatapannya hanya sejangkau bayang-bayang. Cerita Favela, temanku di Brasil tiba-tiba menyeruak alam sadar. Satu tumpukan rumah dan himpitan manusia yang disusun berderet-deret; ada bayangan luka fisik, psikhis etc terpapar dari kegelisahan aneka wajah.
`Orang-orang miskin di jalan/yang tinggal di dalam selokan/ yang kalah di dalam pergulatan/ yang diledek dalam impian/ janganlah mereka ditinggalkan..'.(Rendra:Potret Pembangunan Dalam Puisi, dalam `Orang-Orang Miskin', hlm.82-83). Ason dkk: janganlah juga ditinggalkan! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)