Selasa, 21 April 2026

Tokoh Agama di Belu Minta Masyarakat Jangan Terprovokasi Hoax

-Di tengah situasi yang penuh kewaspadaan akibat merebaknya virus corona atau covid 19, masyarakat diminta untuk tidak terprovokasi dengan informasi p

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Ferry Ndoen
POS KUPANG.COM/TENI JENAHAS
POSE BERSAMA---Bupati Belu, Willybrodus Lay foto bersama pimpinan Forkompimda dan tokoh agama usai rapat bersama di Aula Polres Belu, Rabu (22/4/2020) 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| ATAMBUA-----Di tengah situasi yang penuh kewaspadaan akibat merebaknya virus corona atau covid 19, masyarakat diminta untuk tidak terprovokasi dengan informasi palsu atau hoax.

Masyarakat diharapkan tenang dan mencernai semua informasi secara baik dan benar agar tidak terjadi kepanikan pada diri sendiri serta keresahan bagi masyarakat yang lainnya.

Hal ini disampaikan para tokoh agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Belu saat rapat bersama dengan Pemerintah Kabupaten Belu
dan Forkompimda plus di Aula Polres Belu, Rabu (22/4/2020).

Hal ini diutarakan Ketua Majelis Jemaat GMIT Polycarpus Atambua, Pdt. Maya. Katanya, baru-baru ini di Atambua sempat beredar informasi palsu atau hoax terkait aktivitas pasar dan di tempat umum ditutup selama tiga hari. Setelah dicek ternyata informasi itu tidak benar.

Informasi palsu seperti ini sangat meresahkan masyarakat dan menimbulkan kepanikan bagi masyarakat sehingga ada masyarakat yang berbondong-bondong ke pasar untuk membeli stok makanan. Jika hoax seperti ini tidak cepat diluruskan oleh pihak yang berweweng maka akan timbul kepanikan di tengah masyarakat.

Pendeta Maya meminta pemerintah agar mampu menangkal hoax dengan cepat memberikan informasi yang benar atau meluruskan informasi palsu/hoax kepada tokoh agama sehingga tokoh agama dapat melanjutkan ke umat.

"Kami minta pemerintah dapat memberikan informasi yang benar kepada kami agar dapat melanjutkannya kepada umat dengan tujuan agar menenangkan psikologi umat," pinta Pdt. Maya.

Untuk membantu pemerintah, pihak gereja sudah menghimbau kepada seluruh umat agar menggunakan masker. Penggunaan makser juga merupakan satu dari sekian upaya untuk mencegah penularan covid 19.

"Kami terus menghimbau umat wajib pakai masker saat aktivitas di luar rumah dan melaksanakan semua himbauan pemerintah demi mencegah penyebaran Covid-19," ungkap Pdt. Maya.

Sementara Ketua FKUB Kabupaten Belu, Romo Stef Boisala,Pr mengusulkan kepada pemerintah agar menyiapkan tempat isolasi terpusat bagi para pelaku perjalanan dari zona merah yang datang ke Belu.

Hal ini penting karena arus masuk orang dari daerah zona merah covid 19 ke Kabupaten Belu selalu ada setiap harinya. Supaya efektif, pelaku perjalanan dari zona merah perlu dilakukan isolasi terpusat pada satu tempat sehingga pemerintah dapat memantau dan mengawasi secara rutin.

Romo Stef juga menyayangi sikap apatis dari masyarakat yang enggan menggunakan masker walaupun sudah dihimbau oleh pemerintah. Ia melihat masih banyak masyarakat yang menganggap tidak penting menggunakan masker dengan alasan bahwa mereka belum terbiasa dan merasa sesak napas saat memakai masker di tempat umum. Ada pula masyarakat yang memakai masker tidak sesuai peruntukannnya. Yang seharusnya, masker menutup mulut dan hidung, malah warga mengenakan masker di leher, ada juga yang taruh di kepala.

Kondisi seperti, lanjut Romo Stef dibutuhkan sosialisasi terus menerus dari pemerintah termasuk tokoh agama agar masyarakat wajib menggunakan masker dan paham menggunakan masker yang benar.

"Kami terus memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya menggunakan masker demi mencegah penyebaran Covid-19, namun sayangnya masih banyak umat dan masyarakat umum yang telah mendapatkan masker namun enggan memakainya dan lebih banyak memakai pada leher dan hiasan kepala," ujar Romo Stef.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved