Senin, 11 Mei 2026

'Kami Mbeo Latu Corona Tapi Kami Mo Ngere Emba Walo' Jeritan Mama-mama Pedagang di Pasar Ende

Dampak dari masifnya penyebaran virus corona di Tanah Air mulai dirasakan oleh para pedagang di Pasar Wolowona, Kabupaten Ende

Tayang:
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Salah seorang pedagang sayur di Pasar Tradisional Wolowona, Kabupaten Ende, Kamis (16/4/2020) 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dampak dari masifnya penyebaran virus corona di Tanah Air mulai dirasakan oleh para pedagang di Pasar Wolowona, Kabupaten Ende.

Para pedagang mengeluh lantaran pendapatan mereka menurun drastis seiring dengan mewabahnya virus corona di Tanah Air.

Di tengah kegalauan para pedagang Pemda Ende terus mengimbau masyarakat agar membatasi pergerakan di luar dan menjaga jarak (social dan physical distancing) sebagai langkah preventif untuk mencegah penyebaran virus corona.

Setiap Guru Membuat Jadwal Bagi Para Murid Untuk Mengikuti Pembelajaran Melalui Siaran TVRI

Namun, pasar yang terletak di ujung Timur Kota Ende tepatnya di jalan jurusan Ende - Maumere ini tetap ramai.

Para pedagang tetap berjualan seperti biasa, para tukang ojek tampak mangkal berkelompok di sejumlah titik tanpa mengenakan masker.

Imbauan social dan physical distancing dari Pemda Ende untuk mencegah penyebaran virus corona, nampaknya tidak diindahkan.

Cegah Corona di NTT -Ishak Nuka Yakin Larangan Angkut Penumpang oleh Kapal Laut Bisa Efektif

Pasar Wolowona merupakan salah satu Pasar Tradisional di Kabupaten Ende yang ramai dikunjungi. Di pasar ini mayoritas pedagang kaum ibu.

Mereka menjual berbagai kebutuhan pokok seperti sayur, ubi, pisang, beras dan sebagainya. Sebagian kecil kaum bapa dan anak muda menjual ikan segar.

Pantauan POS-KUPANG.COM, Kamis (16/4/2020), Pasar Wolowona sangat ramai, bahkan para pedagang berjualan hingga ke pinggir jalan.

Seorang ibu bernama Verositas Teodita tampak emosional ketika ditemui sejumlah wartawan. "Kalian ini siapa dan dari mana," tanya Verositas.

"Kami mbeo latu corona tapi kami mo ngere emba walo (kami tau ada Corona tapi kami mau bagaimana lagi)," ungkap Yosita dalam bahasa Ende. Suara lantang membuat para pedagang, tukang ojek dan pengunjung mendekat dan berdiri di sekitar.

Warga Desa Noemuri ini, mengaku pendapatanmya menurun drastis. "Dulu sebelum Corona datang dari kampung dagangan saya kentang, sayur, ubi laku cepat, orang langsung ambil, sekarang duduk berjam-jam tidak laku-laku. Bukan cuman saya orang lain " ungkapnya.

Dia berharap kendati pendapatannya menurun, Pemda Ende jangan sampai menutup pasar. "Kami go peti are? (bagaimana kami mau beli beras) bayar utang, biayai sekolah dan kebutuhan rumah tangga," keluh Verositas.

Ditanya soal Corona, Verositas mengaku takut, namun karena keadaan memaksa ia harus tetap berjualan. "Yah kita waspada dengan Corona, kita juga takut tapi mau bagaimana kondisi kita begini" ungkapnya.

Para pedagang, tukang ojek dan pengunjung yang berdiri di sekitar Verositas mengangguk-angguk mendengar pengakuannya. Mereka setuju dengan apa yang dikeluhkan Verositas.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved