Corona di NTT

VIDEO - Wawancara Eksklusif : Solidaritas Kemanusiaan Cegah Virus Corona di NTT.

VIDEO - Wawancara Eksklusif : Solidaritas Kemanusiaan Cegah Virus Corona di NTT

Penulis: Ryan Nong | Editor: Jhony Simon Lena

VIDEO - Wawancara Eksklusif : Solidaritas Kemanusiaan Cegah Virus Corona di NTT

POS-KUPANG.COM | KUPANG - VIDEO - Wawancara Eksklusif : Solidaritas Kemanusiaan Cegah Virus Corona di NTT.

Hingga Rabu (8/4/2020), provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu Provinsi yang dinyatakan belum terpapar Virus Corona (negatif virus Corona), bersama Provinsi Gorontalo. Hal tersebut menjadi perhatian bukan hanya Nasional tetapi juga dunia internasional.

• VIDEO - Cegah Corona NTT : Kapolda NTT Sampaikan Apresiasi Untuk Diaspora NTT

• VIDEO - Cegah Corona NTT : Pemuda Katolik Lembata Serahkan Bantuan Bagi Tenaga Medis RSUD Lewoleba

• VIDEO - Update Covid 19 : Saat Seorang Bocah Penumpang KM Lambelu Tiba di Ende Disemprot Antiseptik

Namun demikian, di tengah upaya pemerintah melakukan berbagai gerakan pencegahan dan penanggulangan, muncul peristiwa yang menyita perhatian publik sekaligus berpotensi menebar kepanikan dalam masyarakat.

Terbaru, polemik tentang bersandarnya kapal penumpang KM Lambelu milik Pelni di Pelabuhan Lorens Say Maumere yang diketahui membawa serta dua ABK dan satu penjaga kantin yang dinyatakan positif Corona melalui rapid test.

Bagaimana pemerintah melalui Gugus Tugas bekerja dan memastikan NTT menjadi daerah yang minim dampak terkait Corona. Berikut wawancara eksklusif Pemimpin Redaksi POS-KUPANG.COM, Hasyim Ashari dengan Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Marius Ardu Jelamu :

(HA)

Di tengah kesibukan menjadi juru bicara Gugus Tugas, terima kasih karena masih mau menyempatkan diri berbagi informasi untuk tribuners di NTT dan Indonesia. Masker (yang dipakai) nggak bisa lepas ya?

(MJ)

Iya, karena memang kita sudah diinstruksikan oleh badan kesehatan dunia (WHO) untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona dengan menggunakan masker.

(HA)

Terkait memutus mata rantai, ini ada yang luar biasa di NTT dan bahkan mungkin menjadi perhatian tidak hanya Indonesia tetapi juga dunia. Saat ini "it just two province standing" yang masih bebas Corona di Indonesia yaitu, Gorontalo dan NTT. Bisa dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dilakukan NTT sehingga belum ada angka positif Corona di NTT?

(MJ)

Bapak gubernur (melakukan) koordinasi, kontrol dan pengawasan yang sangat ketat. Di bandara, di pelabuhan dan di semua infrastruktur pemerintah, baik birokrasi sipil maupun TNI-Polri, bersama pemerintah mulai Gubernur sampai ketua RT semuanya bersinergi, dan disamping itu tentu dengan dukungan masyarakat.

Dengan dukungan masyarakat yang sangat kuat, kita bisa mengendalikan, mengontrol setiap orang yang masuk melalui bandara dan pelabuhan. Disana kita sudah tempatkan thermo scanner juga thermogun untuk mengukur suhu tubuh, lalu setiap orang yang datang wajib mengisi kartu tanda sehat lengkap dengan data pribadinya. Selanjutnya tenaga medis kita tetap memantau kemanapun mereka sesuai data pribadinya, dan tentu dengan kontrol yang kuat juga dari masyarakat.

Memang sejak awal bapak gubernur sudah menggerakkan semua struktur pemerintahan mulai Bupati, Camat Forkopimda dan sebagainya. Gubernur dan Wagub sama-sama mengontrol dan tentunya didukung oleh para bupati. Kita berterima kasih kepada para bupati di setiap wilayah yang mengontrol warga yang datang dan menerapkan protokol yang ditetapkan WHO, itu kuncinya.

(HA)

Terkait koordinasi dengan kepala daerah, ada begitu banyak pintu masuk yang bisa dilewati salah satunya melalui jalur laut. Peristiwa kemarin jadi catatan tersendiri. 3 ABK KM Lambelu terindikasi positif Corona melalui rapid test. Biar masyarakat lebih reda, apa yang bisa dijelaskan?

(MJ)

Ya, pertama, masyarakat jangan panik berlebihan. Bapak gubernur selalu himbau kita untuk jangan panik. Yang kedua, kita juga harus memberi kenyamanan warga NTT yang datang dari luar atau yang masuk ke kampung halamannya.

Tentu kesiagaan itu positif dan kewaspadaan itu bagus. Tetapi kalau menolak, tentu itu tidak bagus. Kenapa? Karena kalau kita menolak maka itu sama saja kita memberi beban psikologis kepada mereka. Karena saat ini masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia dan masyarakat NTT, dari sisi psikososial sudah tidak normal.

Jadi, psikososial dari seluruh masyarakat sedang "terganggu" karena penyebaran Virus Corona yang sangat eskalatif, terutama jika kita lihat pemberitaan di negara-negara Eropa, Amerika, juga negara lain, ada berita yang sangat mengerikan, itu yang membuat secara psikologi kita terganggu.

Ketika misalnya, warga yang datang yang juga secara psikologis terganggu karena datang dari lokasi terpapar, dan mencari keamanan ke kampung halamannya, entah karena pemutusan kerja atau merasa lebih nyaman di kampung sendiri. Jadi dia sebenarnya dari sisi psikologis dan psikososial terganggu.

Kemudian, bertemu dengan orang lokal yang psikologis dan psikososialnya juga terganggu. Jadi pertemuan antara unsur negatif ini menyebabkan kles, sehingga yang sangat perlu adalah bagaimana mengendalikan emosi.

Karena saat psikososial terganggu dan psikologi "tidak normal", itu kendali rasionalitas menjadi menurun, sama dengan kejadian di Maumere. Kita tidak melihat lagi saudara saudara kita sebagai anak, bapa mama, saudara, tetapi kita melihat mereka sebagai "musuh". Itu sangat berbahaya, tetapi kalau sedikit kita rasional, maka kita akan bilang, kamu datang tetapi protap dan protokol mesti dilalui. Itu yang harus dilakukan.

Dua ABK dan satu penjaga kantin pada KM Lambelu, setelah pemeriksaan rapid test, mereka dinyatakan positif tetapi tanpa gejala yang mencurigakan. Tetapi untuk rapid test, meskipun positif belum tentu virus Corona. Itu baru akan terkonfirmasi waktu swab test dengan metode PCR. Polymerase Chain Reaction (PCR) akan mengkonfirmasi apakah mereka itu terpapar virus Corona atau tidak.

Nah kadang juga, walaupun PCR menunjukan positif tetapi kalau kelihatan tidak ada gejala berat tetap harus dilakukan isolasi mandiri, tidak harus ke rumah sakit. Yang kita perlu pahami adalah bagaimana masyarakat memandang virus Corona sebagai bencana kemanusiaan. Sekaligus ini suatu kesempatan untuk masyarakat Indonesia dan masyarakat NTT membentuk yang disebut gubernur sebagai "Solidaritas Kemausiaan"; yang berpunya membantu yang tidak berpunya, yang kuat membantu yang lemah, yang sehat membantu yang sakit.

Kalau kita kemudian mengucilkan mereka, tidak menerima, menolak maka itu berarti kita memberi beban baru pada psikologis mereka yang sedang terganggu sehingga pada saat itu imun menurun dan penyakit mulai masuk, akhirnya orang meninggal bukan karena virus Corona tapi karena stres.

Ini harus jadi pembelajaran, bukan hanya Maumere tetapi juga di Manggarai, di TTU (terkait penolakan), ini kurang sehat. Terjadi aksi penolakan itu kurang sehat, dari sisi sosiologi itu kurang sehat. Seluruh masyarakat dunia "sedang sakit", maka mari kita bersolider dalam suasana yang sakit ini. Dengan catatan semua protap kesehatan itulah yang kita harus ikuti.

(HA)

Artinya hari ini, apakah kesiapan di daerah ini sudah maksimal untuk menyambut, menangani mereka yang datang sehingga masyarakat tidak boleh lagi panik?

(MJ)

Persis, karena memang protokol kesehatan itu kita implementasikan, kontrol secara ketat di pelabuhan dan bandara. Kemudian setelah kita periksa, ada orang yang status Orang Dalam Pemantauan (ODP) tetap dipantau oleh tim medis dibantu TNI-Polri, lalu ada pasien dalam pengawasan (PDP) masuk rumah sakit , itu dipantau dan dirawat dan sebagainya.

Hal lain, saat ini kita berada dalam situasi waspada Covid-19, jadi semua kematian seolah-olah karena Covid-19, padahal belum tentu.

Tetapi karena kita dalam suasana covid-19, begitu ada orang meninggal kita langsung menjudge, ini Covid. Ya belum tentu. Harus dibuktikan dengan pemeriksaan swab. Rapid test tidak menjamin seorang positif sehingga harus dikonfirmasi melalui swab test.

Ini yang akan menunjukkan keadaan kita. Rapid test artinya test cepat, bukan salah satu ukuran. Tes cepat dengan mengambil darah di ujung jari untuk mengetahui kekuatan antibody kita, dan contohnya kita yang normal bisa saja ada garis merah, mungkin flu atau demam tetapi bukan virus.

Jadi untuk membuktikan itu maka diambil sampel cairan dari hidung atau tenggorokan yang disebut Swab, diperiksa di laboratorium oleh para peneliti yang kemudian, cairan itu dikombinasikan dengan asam nukleat (genovirus) maka akan kelihatan ini benar terkonvirmasi cobid atau tidak.

(HA)

Sebagai juru bicara gugus sebenarnya kami sudah membayangkan bagaimana kerja yang luar biasa di sana. Dan pak Marius harus selalu updating data, mungkin juga sampai tengah malam. Ini menjaga keseimbangan tugas dan merecord semua data untuk memberi laporan ke pak Gubernur dan masyarakat termasuk ke Presiden itu seperti apa, bisa sedikit jelaskan dinamikanya?

(MJ)

Kita mengkomunikasikan kepada publik sebuah konten, konten itu tidak hanya kasat mata tetapi melalui suatu proses analisis.

Angka itu dianalisis sambil kita memperhatikan berita media, kejadian di dunia, di Indonesia, lalu mengkombinasikan dengan kejadian kita di sini. Ini membutuhkan satu knowledge yang cukup dan referensi yang luas.

Karena ketika kita mengkomunikasikan pada publik, maka kita harus menangkap isu dalam masyarakat, ada kejadian, mulai dari luar negeri, nasional dan NTT lalu meramunya dalam berita pers atau berita publikasi.

Sekarang juga, NTT telah menjadi perhatian internasional, mungkin karena menjadi satu diantara dua yang negatif dari seluruh provinsi. Media ABC Australia akan melakukan wawancara tetapi harus konsultasi dengan gubernur sehingga harus mempersiapkan diri dengan baik.

Mudah mudahan badai cepat berlalu, sampai hari ini NTT masih negatif atau zero corona. Rabu, 9/4/2020 (POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Tonton, Like, Share, Subscribe Youtube Channel POS-KUPANG.COM :

Ingat SUBSCRIBE, SHARE dan tinggalkan jejak di kolom KOMENTAR.

Update info terkini :via: https://kupang.tribunnews.com/

Instagram poskupangcom : https://www.instagram.com/poskupangcom/?hl=id

Facebook : POS-KUPANG.COM: https://bit.ly/2WhHTdQ

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved