Virus Corona

Datangkan Alat Deteksi dari Luar Negeri, Puncak Wabah Corona Covid-19 di Indonesia Bisa Lebih Cepat

Indonesia bisa lebih awal mencapai puncak wabah virus corona setelah pemerintah mendatangkan perangkat deteksi berbasis molekuler dari luar negeri

Editor: Bebet I Hidayat
AFP/JUNI KRISWANTO
Datangkan Alat Deteksi dari Luar Negeri, Puncak Wabah Corona Covid-19 di Indonesia Bisa Lebih Cepat - Anggota polisi memakai helm berbentuk virus corona melakukan imbauan dan penyemprotan cairan disinfektan pada kendaraan di jalanan di daerah Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (3/4/2020). Cara unik ini dilakukan oleh sejumlah anggota dari Polres Mojokerto dalam upaya menekan penyebaran virus corona atau penyakit Covid-19 yang tengah merebak di Tanah Air. 

Perlu dibarengi isolasi

Menurut Nuning Nuriani, dengan bertambahnya jumlah tes, semakin cepat kasus positif bisa ditemukan dan diisolasi.

"Artinya puncak kasus aktifnya itu bisa sangat tinggi tapi karena ditesnya lebih cepat, maka lebih dini dideteksi."

Namun perempuan yang juga merupakan ketua tim simulasi dan permodelan Covid-19 Indonesia (SimcovID) itu menekankan bahwa peningkatan jumlah tes perlu dibarengi periode isolasi.

Ilustrasi: isolasi mandiri, karantina mandiri, corona, covid-19
Ilustrasi: isolasi mandiri, karantina mandiri, corona, covid-19(Shutterstock)

UPDATE CORONA NTT - 1 Kasus Positif Corona NTT Ada di Flores Bukan di Kupang, Data Covid-19 Indoesia

VIDEO: Rumah Sakit Borong, Jadi Lokasi Karantina Terpusat ODP Covid-19 di Manggarai Timur

Sebelumnya, dengan kapasitas tes saat ini dan aturan pembatasan yang longgar - yaitu hanya 30-60 persen masyarakat yang melakukan isolasi, sementara sisanya bergerak bebas - ia memprediksi puncak wabah tercapai pada awal Juli, dengan durasi wabah 10 bulan.

Dengan dilakukannya tes secara masif, beserta aturan pembatasan ketat sehingga hanya 10 persen orang yang keluar rumah, puncak penyebaran wabah bisa bergeser ke akhir April atau awal Mei; tanpa pembatasan ketat, maka puncaknya hanya akan bergeser sedikit ke akhir Mei atau Juni.

Bagaimanapun, Nuning menekankan bahwa perhitungan model merupakan simulasi, bukan angka pasti yang 100 persen dijamin akan terjadi.

"Ini kurang lebih untuk memicu keseriusan semua pihak untuk isolasi diri sendiri dan memacu para pembuat keputusan dan sektor-sektor penting yang harusnya semua terlibat aktif untuk lebih cepat dan serius menangani segala hal ini," ujarnya.

Presiden Jokowi telah mencanangkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Covid-19. Untuk memberlakukan PSBB, kepala daerah perlu mengantongi izin dari Menteri Kesehatan.

Sejauh ini, baru DKI Jakarta yang bakal memberlakukan PSBB.

Gubernur Anies Baswedan mengatakan PSBB di ibu kota dimulai pada tanggal 10 April dan meliputi berbagai pembatasan kegiatan sosial, termasuk larangan berkerumun lebih dari lima orang. Ia menambahkan bahwa warga yang melanggar aturan PSBB akan dikenai sanksi.

Tidak bisa langsung tercapai

Herawati Sudoyo dari Eijkman, salah satu laboratorium rujukan pemeriksaan Covid-19, mengatakan mesin PCR yang didatangkan pemerintah bisa meningkatkan kapasitas laboratorium dalam melakukan tes - terutama mengotomatisasi ekstraksi RNA, proses yang paling memakan waktu.

Namun menurutnya Indonesia tidak bisa segera mencapai target 300.000 tes per bulan.

Ia menjelaskan Indonesia tidak seperti Amerika Serikat, yang setiap negara bagiannya memiliki laboratorium dengan tingkat keselamatan hayati yang tinggi.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved