Salam Pos Kupang

Mungkinkah PDIP Sapu Bersih Pilkada NTT

Masi membaca dan simak Salam Pos Kupang: mungkinkah PDIP sapu bersih Pilkada NTT

Mungkinkah PDIP Sapu Bersih Pilkada NTT
Dok
Logo Pos Kupang

Masi membaca dan simak Salam Pos Kupang: mungkinkah PDIP sapu bersih Pilkada NTT

POS-KUPANG.COM - PERHELATAN pemilihan bupati dan wakil bupati pada sejumlah kabupaten di NTT akan segera digelar tahun 2020. Hal itu mengundang perhatian dan kecemasan dari berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Lain lagi dengan partai politik. Semua partai politik seperti berniat dan percaya diri kalau hasil pilkada merupakan jago dari partainya.

Terakhir, PDIP menargetkan kemenangan dalam sembilan Pilkada di NTT. Partai yang berlambang Banteng Moncong Putih ini mengaku telah menyusun sejumlah strategi untuk memenangkan Pilkada. Semua hal ini tentu menjadi kebijakan dan pemahaman bersama. Orang tentu bilang, kalau tidak mengatakan begitu maka bukan partai politik. Artinya, Parpol juga butuh sesumbar untuk meraih kepastian cita-citanya.

Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Ajak Masyarakat Belu Tetap Semangat

Nada-nada yang penuh percaya diri juga merupakan cerminan dari keutuhan dalam sipap. Terlepas apakah pernyataan itu mencapai kenyataan atau tidak. Memang fatal, bila mengatakan akan meraih sukses lalu hasilnya tidak mendapatkan apa-apa.

Kondisi seperti itu tentu merupakan barometer dalam menentukan kebijakan partai. Kalau seseorang tidak berhasil dijagokan partai tertentu tidak berarti bahwa partai tersebut tidak laku 'dijual' di masyarakat.

Eliminasi Malaria UPT Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT Gelar Job Training Bagi Analis Kesehatan

Hal ini dalam sebuah pilkada tergantung pada dua hal, yakni: Partai Politik dan Figur yang dijagokan dalam pilkada. Meskipun partai politiknya baik tetapi kalau figurnya tidak kenal luas oleh masyarakat maka tentu apa yang diinginkan pasti tidak tercapai.

Apalagi sekarang, soal pilkada langsung. Orang percaya atau tidak, soal kemampuan finansial seorang calon sangat menentukan juga dalam pilkada.

Seorang calon harus berani menggelontorkan sejumlah dana untuk datang dari kampung ke kampung untuk menemui konstituen. Ini saja sudah merupakan modal dasar dalam meraih kepastian dalam sebuah pilkada.

Masyarakat kita sekarang sudah mulai cerdas. Mereka tidak akan memilih orang sembarangan menjadi pemimpinnya. Mereka harus tahu betul, apakah keunggulan komparatif dari seorang bakal calon. Tanpa hal semacam ini, sia-sia menetapkan target karena hasilnya tetap nol.

Oleh karena itu, idealnya Parpol sebagai bagian dari Pilkada hendaknya memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Jangan hanya untuk menjadi calon saja dari parpol harus membayar sejumlah mahar. Ini sebenarnya kegagalan awal kita dalam metode pemilihan langsung dengan melibatkan Parpol. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved